
Oleh: Achamad Deli Samudra, Tato Nuryanto
JurnalPost.com – Bumi Baduran di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bukan sekadar penanda geografis, melainkan ruang budaya yang memelihara memori kolektif, tradisi agraris, serta praktik sosial masyarakat pesisir yang telah terbentuk selama berabad-abad. Legenda mengenai Nyi Mas Baduran figur leluhur yang dihormati sebagai penjaga wilayah menjadi landasan utama pembentukan identitas komunal yang tetap bertahan hingga hari ini. Berangkat dari warisan naratif tersebut, Baduran kemudian berkembang sebagai desa warisan edukasi yang berkomitmen mempertahankan tradisi lokal di tengah perubahan sosial dan modernisasi yang kian deras(Muakhir, 2013) .
Bumi baduran atau Bedulan adalah nama Julukan dari Lima Desa yang ada di Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawabarat yaitu: terdiri dari Desa Suaranenggala Lor, Desa Suranenggala Kidul, Desa Suranenggala Kulon, Desa Suranenggala, dan Desa Karangreja dimana lima desa tersebut berada dipinggir pesisir Cirebon, desa tertua adalah Desa Suranenggala Lor yang memliki eduksi adat yang sangat kuat dimana pemahaman masyarkat tentang adat dan tradisinya mampu kita nikmati samapai sekarang, balai panjang tertua berada di desa tersebut yang dimana merupakan tempat untuk melakukan prosesi adat dan tradisi.
Mengkaji Bumi Baduran melalui tiga dimensi: sebagai pusat spiritual, sebagai ruang pelestarian seni tradisi, dan sebagai kawasan yang mendorong inovasi ekonomi berbasis budaya. Melalui kajian ini, tulisan menegaskan bahwa Bumi Baduran bukan sekadar peninggalan budaya, tetapi sebuah ruang kultural yang dikelola secara aktif untuk menopang keberlanjutan peradaban pesisir Cirebon.
Identitas Bumi Baduran dibangun di atas tradisi spiritual yang berpusat pada sosok Nyi Mas Baduran. Bagi masyarakat setempat, beliau bukan hanya tokoh sejarah, tetapi juga simbol moral dan spiritual yang menyatukan komunitas. Petilasan atau makamnya dipandang sebagai ruang sakral untuk berdoa, bermeditasi, dan menyelenggarakan Upacara adat.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam praktik Gotong Royong atau Gugur Gunung. Tradisi ini tidak semata berupa kerja bersama, tetapi juga mencakup komitmen emosional dan spiritual untuk saling membantu, merawat lingkungan, serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Aktivitas menjaga situs budaya, mempersiapkan ritual, hingga kerja kolektif dalam kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh etos kebersamaan ini. Pada akhirnya, Gugur Gunung membentuk pola pikir, solidaritas, dan sistem nilai yang menjadi ciri khas masyarakat Baduran.
Dalam kebudayaan Bumi Baduran, ekspresi seni rakyat berfokus pada bentuk teater seperti Masres, Macapat, Upacara adat. Tradisi macapat dan praktik pembacaan macapat yang memiliki posisi lebih sentral dalam kehidupan sosial. Macapat merupakan bentuk puisi tradisional Jawa yang dinyanyikan berdasarkan struktur metrum ketat guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu yang menjadikannya sebagai sastra lisan dengan fungsi estetis, pedagogis, dan spiritual. Di Baduran, macapat berperan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai luhur, khususnya mengenai etika hidup, spiritualitas, dan relasi sosial dalam komunitas (Desa & Giripurwo, n.d.).
Praktik macapan, yakni pembacaan atau pelaguan tembang macapat secara komunal, menjadi bagian penting dari upacara adat seperti peringatan desa, syukuran panen, hingga ritual spiritual. Melalui macapan, masyarakat tidak hanya melestarikan teks sastra klasik, tetapi juga menafsirkan ulang ajaran moral leluhur agar tetap relevan dengan kondisi sosial masa kini. Dengan demikian, macapan berfungsi sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan nilai tradisional dengan dinamika kehidupan kontemporer tanpa menghilangkan esensinya.
Secara fungsional, macapat memiliki dua peran utama. Pertama, sebagai media pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Tembang seperti Pangkur, Dhandhanggula, dan Sinom memuat ajaran filosofis tentang kedewasaan, pengendalian diri, dan prinsip hidup yang selaras dengan etika sosial masyarakat. Penyampaiannya yang musikal dan lembut membuat pesan moral tersebut mudah diterima lintas generasi. Macapat memperkuat memori kolektif masyarakat Baduran. Melalui tembang, kisah lokal, sejarah desa, dan figur-figur penting—termasuk reverensi terhadap Nyi Mas Baduran diingat kembali dalam bentuk naratif reflektif. Fungsi ini menjadikan macapat sebagai “Arsip hidup” yang terus berkembang menyesuaikan dinamika sosial masyarakat.
Dengan keberlanjutan praktik macapat, masyarakat Baduran berhasil menjaga kesinambungan tradisi lisan, identitas budaya, dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Tradisi ini tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjadi media adaptif dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Pengembangan Bumi Baduran diarahkan pada model ekowisata berkelanjutan yang memadukan edukasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi. Hamparan persawahan yang luas tidak hanya menyajikan keindahan alam, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai sistem irigasi tradisional dan praktik pertanian masih dipertahankan.
Dalam kerangka pariwisata Cirebon, Baduran menempati peran penting dalam Trilogi Pariwisata budaya Adipati (keraton), Wali (situs ziarah), dan Kawula (masyarakat). Sebagai representasi budaya Kawula, Bumi Baduran menawarkan pengalaman autentik mengenai kehidupan masyarakat pesisir yang tidak ditemukan pada destinasi budaya lainnya. Kolaborasi tiga elemen ini menciptakan pengalaman Budaya yang utuh, mencakup aspek spiritual, dan budaya (Nasional et al., 2020).
Bumi Baduran menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bertentangan dengan pembangunan, tetapi justru menjadi fondasi yang memperkuat keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Melalui nilai-nilai yang diwariskan Nyi Mas Baduran dan praktik Gugur Gunung, masyarakat Suranenggala berhasil menjadikan tradisi sebagai modal sosial untuk memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya. Bumi Baduran tidak hanya menghadirkan pengalaman Sejarah, tetapi juga menawarkan narasi hidup tentang bagaimana komunitas merawat harapan, menjaga kearifan lokal, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Dengan kekuatan budaya dan dukungan sosial yang dimiliki, Bumi Baduran berpeluang besar menjadi salah satu pusat kebudayaan penting di Jawa Barat pada masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Desa, R., & Giripurwo, B. (n.d.). Analisis materi tembang macapat sebagai alternatif rintisan desa budaya giripurwo, purwosari, gunungkidul. 40–44.
Muakhir, A. (2013). Situs Nyi Mas Baduran Dan Tradisi Keislaman Masyarakat Desa Suranenggala Kidul Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon. https://repository.syekhnurjati.ac.id/1957/%0Ahttps://repository.syekhnurjati.ac.id/1957/1/AKHMAD MUAKHIR_58110005_ok.pdf
Nasional, P. S., Studi, P., Sejarah, P., Keguruan, F., Ilmu, D. A. N., Universitas, P., Mangkurat, L., Nasional, P. S., Studi, P., Sejarah, P., Keguruan, F., Ilmu, D. A. N., Universitas, P., & Mangkurat, L. (2020). Urgensi kesadaran sejarah dan pelestarian budaya daerah di era revolusi industri 4.0.



