• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Yuk Kenali Strategi Agar Siswa dengan ASD Nyaman Membaca di Kelas!

Editor Redaksi
7 Desember 2025
in Artikel

Ditulis oleh:
● Wilyani Handali, S.Ak (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)
● Ir. Jap Tji Beng, MMSI., M.Psi., PhD., P.E., M.ASCE. & Sri Tiatri, PhD., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)

JurnalPost.com – Kegiatan pembelajaran literasi masih berorientasi pada keterampilan dasar seperti mengenal huruf, melafalkan bunyi, atau menyalin kata. Padahal kegiatan membaca lebih dari sekadar itu; individu perlu memahami makna tersurat maupun tersirat dari bacaan. Data terbaru menunjukkan bahwa siswa di Indonesia masih kesulitan ketika harus membaca dengan pemahaman yang lebih dalam, bukan hanya sekadar mengenali kata. Menurut laporan PISA 2022 dari OECD, hanya sekitar 25% siswa Indonesia berusia 15 tahun yang berhasil mencapai setidaknya “Level 2” dalam tes literasi membaca di mana siswa dianggap mampu menemukan ide utama dalam teks berpanjang sedang, mencari informasi berdasarkan kriteria yang eksplisit, dan merefleksikan tujuan serta bentuk teks ketika diarahkan. Temuan ini menunjukkan bahwa proses membaca masih berfokus pada aspek permukaan, bukan makna yang lebih dalam.

Melihat fenomena ini menjadi sebuah tantangan bagi lingkungan pendidikan inklusif, terutama ketika mendampingi siswa dengan kebutuhan khusus seperti siswa yang berada dalam spektrum autisme (ASD). Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, dukungan visual, pengulangan terstruktur, serta materi dan media yang sensitif terhadap gaya belajar dan kebutuhan mereka (Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, 2022; Friend & Bursuck, 2012).

Membaca Bukan Hanya Mengenal Kata
Salah satu konsep sederhana dalam pembelajaran membaca adalah Simple View of Reading yang dikembangkan oleh Hoover dan Gough (1990), sebuah kerangka yang menegaskan bahwa kemampuan membaca tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil dari dua komponen utama: decoding dan language comprehension (Hoover & Gough, 1990). Konsep ini merupakan pengembangan dari gagasan awal Gough & Tunmer (1986) mengenai hubungan antara decoding, membaca, dan kesulitan membaca (Gough & Tunmer, 1986). Decoding mengacu pada kemampuan mengenali huruf, membaca simbol, dan melafalkan kata secara akurat dan cepat, sementara language comprehension merujuk pada kapasitas memahami bahasa, menangkap makna kata, serta menghubungkan teks dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki.

Seorang siswa mungkin memiliki pemahaman bahasa lisan yang baik seperti mampu bercerita kembali, memahami instruksi, atau mengikuti alur cerita secara verbal namun mengalami kesulitan membaca kalimat dalam teks yang diberikan. Sebaliknya, ada juga siswa yang mampu membaca kata dengan sangat lancar, bahkan cepat, namun belum memahami isi bacaan. Dengan memahami konsep ini, guru dapat lebih tepat mengidentifikasi akar permasalahan membaca yang dialami siswa.

Decoding: Fondasi Membaca
Decoding bukan sekadar kemampuan mengeja huruf demi huruf, tetapi kemampuan mengenali kata secara cepat, tepat, dan otomatis (Gough & Tunmer, 1986). Kemampuan ini memungkinkan siswa membaca kata-kata baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, serta memahami kata-kata familiar dalam konteks kalimat atau paragraf. Ketika decoding semakin terasah, siswa dapat memproses kata-kata dengan lebih cepat, memberi ruang bagi mereka untuk lebih fokus memahami makna teks dan terlibat lebih mendalam dalam kegiatan membaca.

Di kelas inklusif, kemampuan decoding tidak akan muncul dengan sendirinya; ia harus dibangun melalui latihan sistematis, pengulangan yang terstruktur, serta dukungan visual yang menarik. Penggunaan kartu kata, gambar, benda konkret, hingga teks sederhana sangat membantu siswa menghubungkan simbol tulisan dengan makna sebenarnya. Semakin banyak kesempatan siswa untuk berlatih, semakin kuat pula kemampuan decoding mereka (Friend & Bursuck, 2012).

Menangkap Makna, Tidak Sekadar Mengeluarkan Bunyi
Pemahaman bahasa merupakan komponen penting kedua dalam proses membaca. Kemampuan ini mencakup kemampuan menangkap makna kata, memahami tata bahasa, menyusun informasi, serta menginterpretasi isi teks (Hoover & Gough, 1990). Kegiatan membaca bermakna harus melampaui aktivitas teknis seperti mengeja dan menyalin. Pembelajaran membaca yang efektif memerlukan diskusi interaktif, pertanyaan terbuka, membuat prediksi, menjelaskan kembali isi cerita, dan merespons teks berdasarkan pengalaman pribadi siswa.

Pada akhirnya, kemampuan decoding dan language comprehension yang kuat bukan hanya mempermudah mereka membaca, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap kegiatan membaca itu sendiri dan membuka peluang bagi siswa untuk menjelajahi pengetahuan serta dunia imajinasi dengan lebih bebas.

Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif adalah pendekatan penyelenggaraan pendidikan yang memastikan setiap siswa tanpa memandang perbedaan kemampuan, latar belakang, ataupun kondisi dapat belajar bersama dalam satu lingkungan sekolah yang ramah dan penuh penerimaan (Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, 2022). Dalam pendidikan inklusif, semua siswa diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, dengan dukungan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan individu mereka.

Dalam praktiknya, guru memegang peran sentral sebagai desainer pembelajaran yang adaptif. Guru perlu terus menyesuaikan materi, metode, media, dan evaluasi sesuai keberagaman kebutuhan siswa (Friend & Bursuck, 2012). Modifikasi materi, penggunaan visual konkret, instruksi bertahap, serta penerapan pembelajaran terdiferensiasi menjadi bagian penting dalam memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.

Selain itu, guru turut membangun lingkungan kelas yang aman dan suportif baik secara fisik maupun psikologis. Iklim seperti ini memungkinkan setiap siswa merasa diterima dan dihargai, serta bebas mengekspresikan diri tanpa takut salah. Melalui observasi yang berkelanjutan terhadap perkembangan akademik, sosial, dan emosional siswa, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran yang paling relevan.

Siswa dengan ASD: Tantangan Ada, tetapi Potensi Pun Luar Biasa
Pendekatan inklusif semakin relevan ketika berbicara tentang siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Autisme disebut sebagai “spektrum” karena setiap individu memiliki profil kemampuan, tantangan, dan kekuatan yang berbeda. Berdasarkan systematic review oleh Vale et al. (2022), sekitar 62% studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kemampuan word reading antara siswa dengan ASD dan siswa dengan perkembangan tipikal (TD). Temuan ini menegaskan bahwa siswa dengan ASD memiliki potensi literasi yang besar dan dapat berkembang optimal dengan dukungan yang sesuai. Meski pemahaman bacaan mereka tidak selalu sejalan dengan kemampuan membaca kata, kemampuan visual memory dan pola pikir sistematis yang banyak dimiliki siswa ASD justru dapat menjadi kekuatan awal dalam pengembangan literasi mereka (Vale et al., 2022).

Siswa dengan ASD juga sangat responsif terhadap pembelajaran yang visual, terstruktur, dan konsisten. Penggunaan gambar, jadwal visual, pengulangan terarah, serta rutinitas yang stabil membantu mereka memproses informasi dengan lebih nyaman. Pendekatan ini juga bermanfaat bagi siswa lain yang cenderung belajar secara visual.

Strategi Mengajar Membaca Inklusif
Beragam pendekatan dapat digunakan guru untuk memperkuat kemampuan membaca siswa di kelas inklusif. Pendekatan tersebut memungkinkan guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan serta gaya belajar setiap siswa, termasuk mereka yang membutuhkan dukungan tambahan. Oleh karena itu, beberapa strategi berikut dapat dijadikan rujukan praktis yang mudah diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.

1. Gunakan Kosakata yang Sudah Dipahami Siswa
Siswa akan lebih mudah menghubungkan kata dengan makna jika kosakata tersebut berasal dari pengalaman sehari-hari mereka. Buku menyarankan menggunakan kata-kata sederhana seperti makan, tas, ibu, bola, minum, disertai gambar atau benda asli sebagai pendukung. Teknik ini membantu siswa merasa familiar dengan kata-kata yang dipelajari dan mengurangi kebingungan.

2. Kembangkan Kosakata Baru dari Kata yang Sudah Dikenal
Strategi ini membantu siswa memahami konsep kategori dan variasi dalam bahasa. Misalnya, dari kata “apel”, guru dapat memperkenalkan apel merah, apel hijau, apel besar, apel kecil sambil menunjukkan gambar atau objeknya. Pendekatan ini memberi siswa kesadaran bahwa kata dapat berkembang dalam konteks yang lebih luas.

3. Manfaatkan Minat Siswa sebagai Pintu Masuk Literasi
Handbook menekankan bahwa minat khusus terutama pada siswa dengan ASD adalah kekuatan besar yang dapat memotivasi mereka untuk membaca. Jika seorang siswa sangat menyukai kereta api, guru dapat menggunakan cerita, gambar, kartu kata, bahkan aktivitas menulis bertema kereta. Pendekatan berbasis minat ini terbukti meningkatkan fokus, antusiasme, dan usaha membaca siswa secara signifikan.

4. Gunakan Visual, Struktur, dan Pengulangan
Penggunaan kartu gambar, teks sederhana, jadwal visual, dan latihan bertahap memberikan dukungan konkret bagi siswa, terutama bagi siswa ASD yang sangat responsif terhadap visual. Rutinitas yang konsisten juga membantu siswa merasa lebih aman dan siap mengikuti pembelajaran.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.