● Allychia Nanalingdita Thea Putri, S.Psi. (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)
● Sri Tiatri, PhD., Psikolog & Ir. Jap Tji Beng, MMSI., M.Psi., PhD., P.E., M.ASCE. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)JurnalPost.com — Beberapa siswa seringkali dicap “bandel” atau “kurang pintar”. Namun apakah benar mereka seperti itu? Atau jangan-jangan ada kondisi tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda dari teman-temannya? Sebelum memberikan label pada siswa, penting bagi guru untuk memahami bahwa ada jenis disabilitas yang ‘tidak kasat mata’ dan sering sulit dibedakan dari siswa pada umumnya.
Salah satunya adalah high-incidence disabilities (HID), yaitu jenis disabilitas yang mencakup sekitar 80% dari seluruh siswa berkebutuhan khusus. Beberapa jenisnya yaitu, gangguan bicara atau bahasa, gangguan belajar (learning disabilities), gangguan emosional (emotional disturbance), atau disabilitas intelektual ringan (mild intellectual disabilities). Karakteristik utama pada siswa HID adalah:
● Tampak “biasa saja” di luar sekolah atau dalam situasi tertentu.
● Sering menunjukkan kombinasi masalah perilaku, sosial, dan akademik.
● Membutuhkan intervensi pembelajaran yang terstruktur untuk membantu mereka mencapai standar akademik yang sama dengan teman sebayanya.
Jenis-Jenis HID yang Paling Sering Muncul
Berikut uraian dari Friend & Bursuck (2012) mengenai jenis-jenis HID, yang paling sering ditemui di sekolah, dan yang perlu diketahui oleh guru:
1. Gangguan wicara atau bahasa
Siswa mengalami hambatan pada saat berkomunikasi, seperti gagap, gangguan artikulasi, kesulitan memahami bahasa, atau gangguan suara. Kondisi ini dapat menghambat kemampuan mereka dalam menjelaskan pemikiran mereka, memahami instruksi, atau berpartisipasi di kelas.
2. Kesulitan belajar
Ini bukan berarti “siswa tidak pintar”, melainkan suatu kondisi di saat siswa memiliki hambatan dalam memproses informasi. Siswa dapat menunjukkan hasil yang kurang optimal dalam proses pembelajarannya, seperti kesulitan membaca, menulis, memahami matematika, bernalar, atau menggunakan bahasa.
3. Gangguan emosi/ perilaku
Respon perilaku atau emosi siswa berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan norma usia atau budaya. Misalnya, kecemasan, perilaku agresif, sangat mudah marah, atau kesulitan mematuhi aturan. Kondisi ini seringkali disalahartikan sebagai “nakal”, padahal kenyataannya siswa membutuhkan pendekatan perilaku yang tepat dan konsisten.
Lalu, Apa yang Dapat Dilakukan oleh Guru?
Setelah memahami jenis-jenis HID, maka pertanyaan berikutnya ialah “apa yang dapat guru lakukan di kelas jika berhadapan dengan siswa HID?”. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat guru terapkan, berdasarkan Taylor et al. (2009):
1. Sesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa
Anak dengan HID sering membutuhkan cara penyampaian materi yang lebih terstruktur dan eksplisit. Hal ini penting dikarenakan gaya merupakan cara yang digunakan seseorang untuk memproses informasi dan menyelesaikan tugas. Didukung juga oleh hasil penelitian terdahulu bahwa gaya mengajar guru berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa (Suciyati et al., 2023). Guru dapat melakukan:
● Memecah instruksi menjadi langkah-langkah kecil.
● Menggunakan contoh visual atau demonstrasi.
● Melakukan pengulangan konsep secara bertahap.
● Memberi waktu tambahan untuk memahami materi.
● Menyediakan lembar kerja yang lebih terarah.
2. Menerapkan Behavior Education Program (BEP)
BEP merupakan rancangan intervensi yang dapat membantu guru memberikan dukungan sesuai level kebutuhan siswa (Crone et al., 2010). Terdapat 3 tahapan yaitu:
● Tier 1: Dukungan universal
Pembelajaran inti yang diberikan kepada semua siswa. Pengajaran kelas yang berkualitas tinggi dan manajemen kelas yang proaktif adalah fokus utamanya.
● Tier 2: intervensi terarah
Intervensi terarah ditujukan untuk siswa yang membutuhkan dukungan tambahan. Guru dapat membuat sesi belajar kecil, monitoring perilaku siswa, atau melaksanakan program Check-In/Check-Out (CICO).
● Tier 3: intervensi intensif individual
Intervensi ini berfokus pada siswa dengan kebutuhan tinggi. Guru dapat membuat bimbingan intensif, merancang rencana perilaku yang diharapkan, serta berkolaborasi dengan konselor, psikolog, atau tenaga ahli lainnya.
3. Membangun lingkungan kelas yang aman dan menghargai perbedaan.
Siswa berkebutuhan khusus rentan menjadi korban bullying dikarenakan terlihat “berbeda”. Beberapa kasus bullying yang rentan terjadi pada siswa berkebutuhan khusus di pendidikan inklusif meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan diskriminatif (Suriatika et al., 2025). Guru memiliki peran dalam menekankan bahwa setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda, mengajarkan empati dan saling menghargai, merespons cepat setiap bentuk intimidasi atau diskriminasi, serta menciptakan budaya kelas yang suportif.
4. Berkolaborasi dengan profesional lainnya
Jika berbagai upaya telah dilakukan dan siswa masih mengalami hambatan yang signifikan, guru dapat berkolaborasi dengan konselor, psikolog, terapis wicara, orang tua, bahkan psikiater bila diperlukan.
Dukungan yang Tepat Dapat Mendukung Motivasi Belajar Siswa dan Meningkatkan Keterlibatan Akademiknya juga
Dukungan yang tepat bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga motivasi belajar dan keterlibatan siswa. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa siswa yang termotivasi cenderung menunjukkan tiga aspek engagement (Karimi & Sotoodeh, 2020). Aspek engagement yang ditunjukkan didasarkan pada teori engagement Schaufeli et al. (2002), yaitu:
1. Vigor
Siswa tampak berenergi, memiliki ketahanan mental, dan berusaha lebih keras meskipun pada tugas yang dianggap sulit.
2. Dedication
Siswa terlibat secara emosional, merasa pembelajarannya bermakna, dan terlihat antusias dalam pembelajaran.
3. Absorption
Siswa tenggelam dalam aktivitas belajar hingga waktu terasa berjalan cepat.
Maka, memahami HID sangat penting bagi guru karena kondisi ini sering “tidak terlihat” tetapi berdampak besar pada prestasi dan perilaku siswa. Dengan mengenali jenisnya, menyesuaikan metode pembelajaran, menerapkan intervensi yang tepat, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, guru dapat membantu siswa berkembang dengan lebih optimal.
Ketika siswa merasa dimengerti dan dibantu sesuai kebutuhannya, motivasi belajar meningkat dan keterlibatan akademik mereka juga meningkat. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap siswa, baik dengan atau tanpa disabilitas, mendapatkan kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran, yaitu untuk belajar dengan nyaman, percaya diri, dan penuh semangat.



