• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

“Progam OPO IKI (Biopori Inisiatif Kebersihan dan Inovasi) untuk pengendalian genangan air dan pengelolaan sampah organik di SMP PGRI 3 MALANG

Editor Redaksi
5 Desember 2025
in Berita

Disusun Oleh:

Kelompok 1 Offering A26
Muhammad Abi Sampurna NIM 240521601574
Muhammad Raditya Faadihilah NIM 240521609620
Nia Putri Nabila NIM 240521602483
Nurul Fadhila NIM 240521606763
Tegar Jaya Wibowo NIM 240521604972
Dosen Pengampu: Bapak Hanafi, M.Pd.
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS TEKNIK

B. Latar Belakang
Permasalahan lingkungan di Indonesia, khususnya di wilayah urban, menunjukkan tantangan yang serius terkait manajemen air dan pengelolaan limbah. Curah hujan yang tinggi sering kali berujung pada genangan air hingga banjir karena berkurangnya daerah resapan air alami akibat pesatnya pembangunan dan tingginya proporsi permukaan yang kedap air (betonisasi) (Firmansyah et al., 2024). Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang masih memilih cara-cara tidak berkelanjutan dalam mengelola sampah, seperti pembakaran sampah terbuka. Praktik ini sangat merugikan, karena menghasilkan polutan udara berbahaya (seperti dioksin dan gas rumah kaca) yang mengancam kesehatan pernapasan dan mempercepat dampak perubahan iklim (Ramadan et al., 2022). Kedua masalah ini, yaitu buruknya resapan air dan manajemen limbah, sering berinteraksi dan menyebabkan kondisi lingkungan yang tidak sehat.

Projek kewarganegaraan ini mengambil lokasi di SMP PGRI 3 Malang karena teridentifikasi menghadapi manifestasi nyata dari masalah lingkungan di atas. Secara spesifik, sekolah ini sering mengalami genangan air saat hujan turun yang signifikan. Masalah ini bersumber dari kurangnya daerah resapan air yang memadai pada lahan sekolah. Situasi ini diperburuk dengan kontur tanah yang berbukit di lokasi, yang menyebabkan aliran air hujan sering meluap ke area yang lebih rendah, khususnya menggenangi ruang-ruang kelas bagian bawah. Genangan yang terjadi secara berulang ini jelas mengganggu kegiatan belajar-mengajar dan berpotensi merusak fasilitas sekolah.

Selain masalah genangan air, di lingkungan SMP PGRI 3 Malang juga terdapat masalah dalam pengelolaan sampah organik yang belum teratasi dengan baik. Sampah seperti daun kering, sisa makanan, dan ranting pohon dari lingkungan sekolah seringkali hanya dibakar atau dibuang sembarangan. Praktik ini menciptakan dampak negatif ganda: pertama, mencemari udara lokal dengan asap dan polutan; kedua, membuat tanah kurang subur karena tidak adanya upaya pengolahan limbah organik menjadi kompos yang bermanfaat. Lingkungan sekolah pun menjadi kurang tertata dan memiliki potensi risiko kesehatan.

Kondisi lingkungan yang belum maksimal ini juga didukung oleh temuan bahwa belum adanya program Adiwiyata di sekolah tersebut. Program Adiwiyata merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup, n.d.). Ketiadaan program ini mengindikasikan bahwa sistem pengelolaan dan budaya sadar lingkungan di antara warga sekolah belum terinternalisasi secara menyeluruh, sehingga masalah genangan air dan penumpukan sampah organik terus berulang. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nyata berupa program yang dapat secara aplikatif mengatasi permasalahan mendesak di atas, sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi dan perubahan perilaku warga sekolah.

Genangan air dan limbah organik merupakan dua masalah utama yang terkait dengan agenda SDGs di lokasi proyek ini. Ketiga hal tersebut saling terkait dan membentuk landasan penting untuk implementasi program biopori di SMP PGRI 3 Malang.

1) SDG 6 – Air Bersih dan Sanitasi
Genangan air kotor di lingkungan sekolah menunjukkan kelemahan dalam pengelolaan air hujan dan penyerapan tanah. Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan infrastruktur penyerapan, seperti lubang biopori, untuk kebersihan dan pencegahan banjir lokal sehingga sanitasi lingkungan yang lebih baik dapat dijamin.

2) SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Pembuangan atau pembakaran limbah organik secara sembarangan merupakan bukti perilaku konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan. Pembuatan biopori memungkinkan limbah organik dapat didaur ulang menjadi kompos, sehingga menyediakan siklus limbah yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

3) SDG 13 – Aksi Iklim Banjir berulang di sekolah merupakan salah satu dampak lokal perubahan iklim. Di sisi lain, pembakaran limbah berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Aktivitas ini, melalui intervensi sederhana seperti pembuatan lubang biopori, menjadi langkah kecil yang berarti dalam mitigasi perubahan iklim di tingkat sekolah.

C. Identifikasi Masalah
C.1 Manajemen Air Hujan.
Masalah sosial utama yang teridentifikasi di lingkungan SMP PGRI 3 Malang berpusat pada manajemen air hujan. Sekolah masih sering dijumpai genangan air ketika hujan turun. Kondisi ini secara langsung disebabkan oleh kurangnya daerah resapan air yang memadai di dalam tanah, yang mengakibatkan air hujan tidak dapat meresap dengan baik. Genangan ini diperparah dengan kontur tanah sekolah yang berbukit, yang membuat aliran air ketika hujan deras sering meluap ke area kelas bagian bawah, mengganggu kegiatan belajar dan berpotensi merusak fasilitas. Permasalahan genangan air ini juga meningkatkan potensi risiko banjir lokal di sekitar area sekolah.

C.2 Pengelolaan Sampah Organik
Masalah kedua yang teridentifikasi adalah buruknya pengelolaan sampah organik dan dampaknya pada kualitas lingkungan secara keseluruhan. Sampah organik yang terdiri dari daun kering, sisa makanan, dan ranting pohon seringkali dibakar atau dibuang sembarangan. Tindakan ini menciptakan lingkungan yang kotor, menghasilkan polusi udara dan bau tidak sedap, serta menyebabkan tanah menjadi kurang subur karena tidak adanya pengolahan sampah organik yang tepat. Secara institusional, ditemukan juga bahwa belum adanya program Adiwiyata di sekolah, yang mengindikasikan bahwa sistem dan budaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan belum berjalan maksimal.

C.3 Rendahnya Kesadaran Lingkungan di Kalangan Warga Mayarakat
Selain masalah teknis, ditemukan pula bahwa kesadaran akan lingkungan warga sekolah masih tergolong rendah. Banyak dari mereka yang belum terbiasa membuang sampah ke tempatnya, juga memilah antara sampah organik dan anorganik. Akibat dari kurangnya pemahaman tersebut, banyak dari meraka yang kurang peduli dan membuat hal tersebut terus berulang. Dari pihak sekolah juga belum rutin memberikan edukasi dan kampanye mengenai pentingnya sikap peduli terhadap alam. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab perilaku ramah lingkungan belum maumenjadi budaya dikehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti penumpukan sampah, muncul bau tidak sedap, dan menurunnya kenyamanan lingkungan belajar. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran akan lingkungan menjadi langkah awal yang sangat penting dan perlu untuk dilakukan agar warga sekolah dapat berperan aktif dalam menjaga kebersihan masyarakat.

D. Landasan Teori
Manajemen air hujan dan pengelolaan sampah organik merupakan dua aspek penting dalam pembangunan lingkungan berkelanjutan, termasuk di lingkungan sekolah. Manajemen air hujan sangat krusial di wilayah perkotaan karena banyak permukaan tertutup yang menghambat infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga berpotensi menyebabkan genangan atau banjir lokal. Untuk mengatasinya, langkah efektif adalah meningkatkan kemampuan tanah menyerap air, melestarikan air, serta menerapkan teknologi ramah lingkungan seperti lubang biopori dan sumur resapan. Di Indonesia, pendekatan seperti eco-drainage system dan Low Impact Development telah dikembangkan untuk mengurangi limpasan air permukaan dan meningkatkan penyerapan air hujan ke dalam tanah (Cristobal et al., 2023)(Kusumastuti. et al., 2019).

Beberapa penelitian juga mengembangkan sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting) untuk mengatasi kekurangan air bersih di daerah perumahan dan perkotaan (Andini et al., 2025). Di sisi lain, lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Semarang (UNNES) memperkenalkan sistem penampungan air hujan sebagai solusi penghematan air dan bentuk edukasi konservasi lingkungan (Universitas Negeri Semarang, 2025).

Di kota Malang, sekolah-sekolah di kawasan perkotaan menghadapi tantangan serupa, seperti keterbatasan lahan terbuka, perbedaan tinggi tanah, dan minimnya area resapan air. Melalui pengelolaan air hujan yang baik, sekolah dapat mencegah genangan, menambah cadangan air tanah, dan berperan sebagai contoh nyata bagi siswa dalam menjaga siklus air serta memperkuat ketahanan air lingkungan sekolah (Kusumastuti. et al., 2019).

Selain manajemen air hujan, pengelolaan sampah organik juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan edukatif. Sampah organik seperti daun, sisa makanan, dan ranting dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Penelitian menunjukkan bahwa teknologi seperti eco-enzyme dan biokonversi mampu memberikan manfaat ekologis serta meningkatkan literasi lingkungan warga sekolah (Astiti et al., 2025)(Fiddien et al., 2025). Program lingkungan seperti Sekolah Adiwiyata terbukti dapat mengurangi emisi gas metana karena pengelolaan sampah dilakukan dengan lebih baik dan sistematis (Pradnya et al., 2024).

Di sekolah seperti SMP PGRI 3 Malang, pengelolaan sampah organik bukan hanya sebatas mengurangi limbah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter peduli lingkungan. Melalui kegiatan memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah organik, sekolah menanamkan nilai tanggung jawab dan kesadaran ekologis pada siswa, guru, serta staf (Sholihah et al., 2025)(Puspitasari & Anindyajati, 2024).

Kesadaran lingkungan dari seluruh warga sekolah sangat memengaruhi keberhasilan program pengelolaan air hujan dan sampah organik. Kesadaran ini mencakup pengetahuan tentang kondisi lingkungan sekitar, sikap positif terhadap pengelolaan lingkungan, serta kemauan untuk berpartisipasi dalam kegiatan seperti membuat biopori, sumur resapan, atau komposter. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor seperti pengetahuan lingkungan, norma sosial, dan persepsi terhadap kemampuan diri turut memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah (zero waste) (Pradnya et al., 2024).

Tanpa keterlibatan aktif seluruh warga sekolah, program pengelolaan air hujan dan sampah organik sulit berkelanjutan. Oleh karena itu, proyek kewarganegaraan di SMP PGRI 3 Malang yang menggabungkan aspek teknis seperti biopori, sumur resapan, komposter, dan pemilahan sampah dengan pendidikan lingkungan menjadi langkah penting. Program seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan (Hidayat et al., 2024).

Dengan demikian, pelaksanaan proyek kewarganegaraan di SMP PGRI 3 Malang yang berfokus pada pengelolaan air hujan dan sampah organik tidak hanya tepat secara teknis untuk mengatasi permasalahan lingkungan lokal, tetapi juga relevan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan berkelanjutan. Program ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang nyata, meningkatkan literasi ekologis warga sekolah, serta berkontribusi dalam pelestarian sumber daya alam (Astiti et al., 2025)(Andini et al., 2025).

E. Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah genangan air dan penyerapan tanah yang rendah di SMP PGRI 3 Malang, kelompok kami berencana untuk membuat lubang biopori di lokasi-lokasi strategis yang sebelumnya terdeteksi melalui pengamatan di lapangan. Lubang biopori dipilih karena sederhana, hemat biaya, mudah dibuat, dan ramah lingkungan, sehingga ideal untuk meningkatkan penyerapan tanah dan mengurangi risiko banjir kecil di area sekolah. Proses implementasi dilakukan bekerja sama dengan siswa dan guru sains melalui kegiatan pembelajaran singkat tentang manfaat dan cara membuat biopori, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap konservasi lingkungan.

Akhirnya, kelompok juga memanfaatkan pipa bekas dan bahan sisa untuk membangun taman bertingkat sederhana sebagai tambahan area hijau di sekitar zona biopori. Kegiatan ini tidak hanya menambah keindahan lingkungan tetapi juga merupakan contoh pemanfaatan limbah untuk tujuan yang berguna. Untuk kelancaran operasional biopori, jadwal pengisian limbah organik dan pemeliharaan telah ditetapkan, melibatkan siswa bersama guru sains. Seluruh proses, mulai dari instalasi, pemeliharaan, hingga hasil, akan didokumentasikan secara berkala sebagai bahan evaluasi dan laporan keberlanjutan proyek pengelolaan lingkungan sekolah.

F. Tujuan
Kegiatan pembuatan lubang biopori ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui pengelolaan air dan sampah organik berbasis ramah lingkungan. Program ini sekaligus mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

1. Mendukung SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak
Tujuan utama pembuatan lubang biopori adalah untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga dapat mengurangi genangan air dan potensi banjir di lingkungan sekolah. Dengan adanya lubang biopori, air hujan tidak langsung mengalir ke permukaan, tetapi meresap ke dalam tanah dan menambah ketersediaan air tanah (groundwater recharge). Hal ini sejalan dengan target SDG 6 yang mendorong pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan dan efisien.

2. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Lubang biopori juga dimanfaatkan sebagai tempat penguraian sampah organik menjadi kompos alami. Melalui kegiatan ini, siswa dan guru dapat mengelola sampah organik secara mandiri, mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, dan memanfaatkan hasil kompos untuk tanaman di taman sekolah. Kegiatan ini menanamkan nilai reduce, reuse, dan recycle (3R), serta membentuk kebiasaan positif dalam pengelolaan limbah rumah tangga dan sekolah.

3. SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Dengan mengurangi sampah organik yang menumpuk dan membusuk di tempat terbuka, kegiatan biopori dapat menekan emisi gas metana (CH₄) yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Selain itu, peningkatan resapan air tanah membantu menstabilkan kelembapan lingkungan dan mengurangi dampak pemanasan global lokal di kawasan sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa tindakan kecil seperti membuat biopori dapat menjadi bagian nyata dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Selain manfaat ekologis, kegiatan ini juga bertujuan untuk:
• Meningkatkan kesadaran dan kepedulian lingkungan di kalangan siswa dan warga sekolah.
• Menumbuhkan tanggung jawab sosial dan rasa memiliki terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan sekolah.
• Menjadi media pembelajaran kontekstual (project-based learning) di mana siswa belajar menerapkan ilmu pengetahuan alam dan lingkungan hidup secara nyata.

G. Pelaksanaan Program

1. Tempat : SMP PGRI 3 Malang
2. Waktu : 18 & 25 November 2025
3. Kegiatan : Sosialisasi dan praktek pemasangan biopori
4. Pelaksana : Kelompok 1
1) Muhammad Abi Sampurna
2) Muhammad Raditya Faadihilah
3) Nia Putri Nabila
4) Nurul Fadhila
5) Tegar Jaya Wibowo

H. Evaluasi
1. Hasil Kegiatan
Pelaksanaan program OPO IKI di SMP PGRI 3 Malang menghasilkan pemasangan beberapa titik lubang biopori pada area yang sebelumnya teridentifikasi sebagai lokasi rawan genangan. Setiap lubang telah terpasang dengan paralon biopori dan diisi daun kering serta sampah organik dari lingkungan sekolah. Proses ini membuat biopori mulai berfungsi sebagai media resapan dan penguraian bahan organik.

Sebagai bagian dari tanggung jawab keberlanjutan, kelompok kami juga melakukan kegiatan pengecekan (monitoring) terhadap lubang biopori yang sudah terpasang. Pada saat monitoring, ditemukan bahwa salah satu tutup lubang biopori mengalami keretakan dan tidak menutup dengan baik. Berdasarkan temuan tersebut, kelompok memberikan rekomendasi kepada OSIS untuk mengganti tutup tersebut agar fungsi biopori tetap optimal. Selain itu, pada proses monitoring kami juga memperbaiki salah satu pipa biopori yang secara tidak sengaja rusak saat proses pemasangan sebelumnya. Perbaikan ini dilakukan oleh kelompok sebagai bentuk tanggung jawab terhadap hasil kerja yang telah dibuat.

Sisa paralon biopori yang tidak terpakai kemudian diserahkan kepada OSIS untuk dikelola sebagai bagian dari program keberlanjutan. Mengingat sekolah memiliki program rutin “Jumat Bersih”, OSIS dapat menjadikannya sebagai momen pengecekan dan perawatan berkala terhadap lubang biopori yang telah dipasang. Dengan demikian, meskipun hasil fisik yang terlihat saat ini berupa lubang biopori, keberlanjutan program dapat berjalan melalui kolaborasi antara mahasiswa dan OSIS.

2. Proses Kegiatan
Proses kegiatan diawali dengan koordinasi bersama guru IPA untuk menetapkan teknis kegiatan, termasuk kelas yang terlibat dan titik pemasangan biopori berdasarkan hasil mapping. Setelah itu, kelompok melaksanakan sosialisasi singkat mengenai biopori, masalah genangan di sekolah, pengelolaan sampah organik, serta hubungan kegiatan dengan SDG 6, 12, dan 13. Sosialisasi dikemas sederhana agar mudah dipahami siswa.

Tahap inti berupa pemasangan biopori dilakukan dengan pembagian peran yang jelas. Sebagian anggota membuat lubang dan memasang paralon, sebagian lain mempersiapkan bahan organik, mendampingi siswa, dan mendokumentasikan kegiatan. Lubang yang telah terpasang kemudian diisi daun kering dan diberi label agar mudah dipantau.

Setelah pemasangan selesai, kelompok melanjutkan dengan kegiatan monitoring untuk memastikan kondisi biopori tetap baik. Pada tahap ini ditemukan beberapa hal, termasuk tutup lubang biopori yang pecah serta satu pipa yang rusak saat pemasangan. Kelompok kemudian melakukan perbaikan langsung terhadap pipa yang rusak sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hasil kerja yang telah dilakukan. Sementara itu, kerusakan pada tutup lubang direkomendasikan kepada OSIS untuk diganti.

Tahap akhir adalah penyerahan paralon biopori sisa kepada OSIS sebagai dukungan terhadap keberlanjutan program. OSIS diharapkan melanjutkan perawatan dan pengecekan melalui kegiatan “Jumat Bersih”. Dengan demikian, proses kegiatan tidak hanya selesai pada hari pelaksanaan, tetapi dirancang agar tetap berlanjut dan memberikan manfaat jangka panjang bagi sekolah.

I. Daftar Rujukan
Andini, Fathussalam, A., & Sudirman. (2025). Model Rainwater Harvesting Untuk Pemenuhan Air Bersih Pada Wilayah Hunian Rawan Kekurangan Air Bersih Di Perumahan Imbara 4 , Kota Palopo. 25, 308–317. https://doi.org/10.35965/eco.v25i2.6708
Astiti, N. P. D. S., Frandika, P. K. T., Suwardika, W., Adileo, M. R., & Susena, P. M. A. (2025). Organic Waste Processing Based on A Circular Economy as an Environmentally Friendly Solution Ni. Wicaksana: Jurnal Lingkungan Dan Pembangunan, 9(1), 1–10.
Cristobal, J., Riyanto, B. A., & Sanjaya, S. (2023). Penerapan Low Impact Development Dalam Perencanaan Drainase Perkotaan Di Kawasan Ibu Kota Baru Negara Indonesia. Jurnal Aplikasi Teknik Sipil, 22, 7–16.
Fiddien, H. A., Anwar, R. K., & Khadijah, U. L. S. (2025). Environmental literacy model in organic waste processing based on eco enzyme Model literasi lingkungan dalam pengolahan sampah organik berbasis eco enzyme. Berkala Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, 21(1), 125–141.
Firmansyah, W., Budianta, W., & Setijadji, L. D. (2024). THE INFLUENCE OF URBANIZATION TO THE WATER INFILTRATION ZONE ON BANYUMANIK SUB-DISTRICT , SEMARANG CITY , CENTRAL JAVA , INDONESIA. 9(1), 7–16. https://doi.org/10.33579/krvtk.v9i1.4698
Hidayat, A., Permatasari, S., & Gandhi, P. (2024). Feasibility Analysis of Organic Waste Management Program at IPB University, Indonesia. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia, 15(2), 1–8.
Kementerian Lingkungan Hidup. (n.d.). Adiwiyata. https://kemenlh.go.id/contents/15/Adiwiyata
Kusumastuti., Chandra, H. P., Wibisono, K., & Hartono, A. C. (2019). Eco Drainage System for Surface Runoff Reduction in Indonesia. Civil Engineering Dimension, 21(1), 29–35. https://doi.org/10.9744/CED.21.1.29-35
Pradnya, I. N., Zakia, M., Bahlawan, Z. A. S., Auralita, K. P., Wikandaru, A., & Muhammad, D. N. (2024). Zero Waste Education Organic Waste Treatment For Students of SD N Petompon 3 , Semarang , Indonesia. Journal of Clean Technology.
Puspitasari, F. H., & Anindyajati, A. (2024). Replication of Losida for Organic Waste Management in Yogyakarta. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(3), 131–136.
Ramadan, B. S., Rosmalina, R. T., Syafrudin, Khair, H., Rachman, I., & Matsumoto, T. (2022). Potential Risks of Open Waste Burning at the Household Level : A Case Study of Semarang , Indonesia. 23(5).
Sholihah, S. C., Habib, I. M. Al, & Sukamto, D. S. (2025). Development of Practical Guidelines for Waste Processing Based on Liquid Organic Fertilizer Formulation Research for High School Biology Learning. 12(4), 1140–1151.
Universitas Negeri Semarang. (2025). FISIP UNNES Introduces Rainwater Harvesting as a Water-Saving Solution. https://unnes.ac.id/konservasi/fisip-unnes-introduces-rainwater-harvesting-as-a-water-saving-solution

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.