• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

EFEK DARI PUJIAN KESEBUAH PEMBELAJARAN

Editor Redaksi
4 Desember 2025
in Kolom Opini

ALFA SHAKYA DWI PUNDARIKA /292025058
Email: [email protected]

JurnalPost.com – Pujian dalam konteks pembelajaran merupakan salah satu bentuk penguatan positif yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik. Dalam psikologi pendidikan, pujian dipandang sebagai alat penting untuk meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan semangat belajar, serta membantu peserta didik mengenali keberhasilan mereka. Namun, efek dari pujian tidak selalu bersifat positif apabila tidak diberikan secara tepat dan proporsional.

Pujian yang diberikan dengan tulus dan berdasarkan pada usaha nyata siswa dapat meningkatkan motivasi intrinsik mereka. Peserta didik akan merasa dihargai atas kerja kerasnya, bukan semata-mata karena hasil akhir. Hal ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Carol Dweck tentang “growth mindset”, di mana siswa yang dipuji atas usaha mereka cenderung lebih tekun dan tidak mudah menyerah. Sebaliknya, pujian yang terlalu sering atau tidak berdasar dapat menimbulkan efek negatif, seperti munculnya rasa ketergantungan terhadap validasi eksternal atau bahkan menurunnya keinginan untuk belajar secara mandiri.

Selain itu, guru perlu memahami bahwa pujian bukan sekadar kata-kata positif, tetapi juga alat komunikasi yang mempengaruhi iklim psikologis di kelas. Pujian yang bersifat konstruktif dapat memperkuat hubungan antara guru dan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif. Sebagai contoh, ungkapan seperti “Saya menghargai bagaimana kamu mencoba memecahkan masalah itu” jauh lebih bermakna dibanding sekadar “Kamu pintar sekali!” karena memberikan pengakuan terhadap proses belajar, bukan hanya hasilnya.

Namun demikian, penggunaan pujian perlu disertai dengan keseimbangan. Terlalu banyak pujian dapat membuat siswa kehilangan makna dari penghargaan itu sendiri, sementara kurangnya pujian bisa mengurangi motivasi dan kepercayaan diri. Oleh karena itu, guru sebaiknya memberikan pujian secara selektif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan emosional serta karakteristik masing-masing peserta didik.

Secara keseluruhan, pujian dalam pembelajaran adalah pedang bermata dua. Bila digunakan dengan bijak, ia mampu menumbuhkan semangat, rasa percaya diri, dan ketekunan siswa dalam belajar. Namun bila digunakan secara berlebihan atau tidak tepat sasaran, pujian justru dapat menghambat perkembangan kemandirian belajar. Tantangan bagi pendidik masa kini adalah bagaimana mengubah pujian menjadi alat edukatif yang mendukung proses pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.