ALFA SHAKYA DWI PUNDARIKA /292025058
Email: [email protected]
JurnalPost.com – Pujian dalam konteks pembelajaran merupakan salah satu bentuk penguatan positif yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik. Dalam psikologi pendidikan, pujian dipandang sebagai alat penting untuk meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan semangat belajar, serta membantu peserta didik mengenali keberhasilan mereka. Namun, efek dari pujian tidak selalu bersifat positif apabila tidak diberikan secara tepat dan proporsional.
Pujian yang diberikan dengan tulus dan berdasarkan pada usaha nyata siswa dapat meningkatkan motivasi intrinsik mereka. Peserta didik akan merasa dihargai atas kerja kerasnya, bukan semata-mata karena hasil akhir. Hal ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Carol Dweck tentang “growth mindset”, di mana siswa yang dipuji atas usaha mereka cenderung lebih tekun dan tidak mudah menyerah. Sebaliknya, pujian yang terlalu sering atau tidak berdasar dapat menimbulkan efek negatif, seperti munculnya rasa ketergantungan terhadap validasi eksternal atau bahkan menurunnya keinginan untuk belajar secara mandiri.
Selain itu, guru perlu memahami bahwa pujian bukan sekadar kata-kata positif, tetapi juga alat komunikasi yang mempengaruhi iklim psikologis di kelas. Pujian yang bersifat konstruktif dapat memperkuat hubungan antara guru dan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan mendorong partisipasi aktif. Sebagai contoh, ungkapan seperti “Saya menghargai bagaimana kamu mencoba memecahkan masalah itu” jauh lebih bermakna dibanding sekadar “Kamu pintar sekali!” karena memberikan pengakuan terhadap proses belajar, bukan hanya hasilnya.
Namun demikian, penggunaan pujian perlu disertai dengan keseimbangan. Terlalu banyak pujian dapat membuat siswa kehilangan makna dari penghargaan itu sendiri, sementara kurangnya pujian bisa mengurangi motivasi dan kepercayaan diri. Oleh karena itu, guru sebaiknya memberikan pujian secara selektif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan emosional serta karakteristik masing-masing peserta didik.
Secara keseluruhan, pujian dalam pembelajaran adalah pedang bermata dua. Bila digunakan dengan bijak, ia mampu menumbuhkan semangat, rasa percaya diri, dan ketekunan siswa dalam belajar. Namun bila digunakan secara berlebihan atau tidak tepat sasaran, pujian justru dapat menghambat perkembangan kemandirian belajar. Tantangan bagi pendidik masa kini adalah bagaimana mengubah pujian menjadi alat edukatif yang mendukung proses pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan.



