
Oleh: Daniel Rui, Zefanya P. D. Sibarani, Feyza C., Fitri F. Z. Tanjung, Selvia G. Gultom, Safira A. Harahap, Fadiya G. Ayuni, Kirttisha V.
Universitas Sumatera Utara
JurnalPost.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi, teknologi finansial (financial technology atau fintech) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah fitur PayLater, layanan “beli sekarang, bayar nanti” yang menawarkan kemudahan bertransaksi tanpa harus menunggu saldo mencukupi. Bagi sebagian mahasiswa, PayLater terasa seperti penyelamat di akhir bulan, praktis, cepat, dan sering kali dibumbui promo menarik. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan perilaku konsumtif yang perlahan bisa menggerus kesehatan finansial.
Masa kuliah adalah masa transisi menuju kemandirian, termasuk dalam hal keuangan. Di tahap ini, mahasiswa mulai belajar mengatur pengeluaran, menyeimbangkan antara kebutuhan akademik, gaya hidup, dan hiburan. Sayangnya, kemudahan akses ke fitur seperti PayLater kadang membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji, sebagaimana hasil mini riset mahasiswa Universitas Sumatera Utara (2025) berjudul “Perilaku Konsumtif Mahasiswa dalam Menggunakan Fitur PayLater dan Implikasinya terhadap Literasi Keuangan.”
Menurut hasil riset yang tim peneliti lakukan, dari hasil survei terhadap 57 mahasiswa berbagai fakultas, diketahui bahwa sebagian besar responden, yakni 82%, sudah mengetahui tentang fitur PayLater, meskipun hanya 11% di antaranya yang pernah menggunakannya. Dari kelompok pengguna tersebut, sebanyak 67% mengaku pernah membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Barang yang paling sering dibeli melalui layanan ini adalah produk fashion dan kosmetik, dengan persentase mencapai 70%, disusul oleh makanan dan minuman sebesar 21%. Platform yang paling banyak digunakan mahasiswa adalah ShopeePayLater, yaitu sebesar 67%. Menariknya, sebagian besar pengguna PayLater hanya melakukan transaksi dalam jumlah kecil hingga menengah, berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per bulan. Fakta ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif di kalangan mahasiswa tidak selalu muncul dari transaksi bernilai besar, melainkan juga dari kebiasaan “belanja kecil tapi sering” yang dilakukan secara berulang.
Riset juga menunjukkan bahwa 75% responden tahu adanya bunga atau biaya administrasi pada PayLater, dan 89% selalu membayar tagihan tepat waktu. Ini menandakan tingkat disiplin keuangan yang cukup baik. Namun, hanya 39% yang tergolong “cukup bijak” dalam mengelola keuangan, sementara 14% masih “belum bijak”. Meskipun 95% responden menganggap penting untuk mengatur keuangan dengan bijak, praktiknya tidak selalu sejalan dengan kesadaran tersebut. Sebagian mahasiswa masih menggunakan PayLater karena dorongan emosional seperti ingin mengikuti tren, promo, atau sekadar gengsi sosial (fear of missing out alias FOMO). Akibatnya, keputusan finansial lebih sering dipicu oleh keinginan ketimbang kebutuhan.
Literasi keuangan menjadi faktor penting yang membedakan antara penggunaan PayLater yang cerdas dan yang berisiko.Mahasiswa dengan pemahaman finansial yang baik cenderung menggunakan PayLater secara rasional — hanya untuk kebutuhan mendesak dan dengan perhitungan matang terhadap kemampuan membayar.Sebaliknya, mahasiswa dengan literasi rendah mudah terjebak pada utang konsumtif dan kesulitan mengatur pengeluaran.
Penelitian ini menegaskan bahwa literasi keuangan berperan sebagai “rem” yang mengendalikan dampak negatif PayLater. Tanpa pemahaman tentang bunga, tenor, dan risiko keterlambatan, mahasiswa bisa saja terjerumus dalam kebiasaan berutang tanpa disadari.
PayLater sejatinya bukanlah musuh — ia hanyalah alat. Yang berbahaya adalah ketika alat ini digunakan tanpa kendali dan tanpa pengetahuan. Di era digital, kemampuan untuk membedakan antara “butuh” dan “ingin” menjadi bentuk literasi baru yang tak kalah penting dari kemampuan akademik. Mahasiswa perlu menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan finansial dimulai dari pengendalian diri. Promo, diskon, dan kemudahan transaksi memang menggoda, tetapi keputusan yang bijak tetap berada di tangan pengguna.



