
TANGGULANGIN, SIDOARJO, JurnalPost.com – Program Pengabdian oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi sistem peternakan terintegrasi di Desa Banjarasri, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Program pengembangan yang berlangsung selama dua minggu ini berhasil mengoptimalkan potensi lokal dengan menggabungkan peternakan kambing-domba, bebek, budidaya ikan nila, budidaya udang dalam satu ekosistem terpadu. Konsep ini dinilai efektif, ramah lingkungan, dan berpotensi meningkatkan ketahanan pangan lokal.
Apa Itu Peternakan Terintegrasi/ Integrated Farming ?
Peternakan terpadu adalah sistem yang mengombinasikan beberapa komoditas ternak dan perikanan dalam satu area, sehingga limbah dari satu jenis usaha dapat dimanfaatkan untuk usaha lainnya. Di desa Banjarasri Tanggulangin, limbah kotoran kambing dan domba diolah menjadi pupuk organik serta sumber nutrisi untuk kolam ikan nila. Bebek yang dipelihara di sekitar kolam tidak hanya menghasilkan telur, tetapi juga membantu mengendalikan gulma dan hama. Kotoran bebek menjadi nutrisi alami untuk plankton, yang kemudian menjadi pakan ikan nila. Dengan konsep ini, biaya produksi dapat ditekan sekaligus meningkatkan hasil panen, sumber pakan ternak juga murah berasal dari rumput-rumput sekitar kolam.
Inovasi untuk Kesejahteraan Peternak
Kepala Desa Banjarasri, Bpk H. Mukhlison telah memberikan contoh model pengembangan sistem peternakan terpadu yang bisa di tiru oleh warganya, “Sebelumnya, para peternak di sini mengelola kambing dan ikan secara terpisah. Berkat pendampingan mahasiswa UMM, sekarang mereka bisa mengintegrasikan ketiga usaha ini dengan konsep zero waste yang menguntungkan,” ungkap Mukhlison saat ditemui di kantor desa, Kamis (16/8/2025). Program inovatif ini menerapkan sistem ekonomi sirkular dengan biaya yang efisien dimana pengeluaran untuk pakan lebih berkurang karena memanfaatkan limbah ternak, mengurangi limbah dengan prinsif zero waste farming serta menghasilkan pendapatan lebih banyak.

Kolaborasi Nyata dengan Masyarakat
Sutopo dari Program PMM UMM, menjelaskan bahwa program ini lahir dari observasi mendalam terhadap potensi lokal yang belum optimal. “Kami melihat Desa Banjarasri memiliki tradisi kuat dalam perikanan, khususnya sebagai penghasil ikan nila dan udang terbesar di Sidoarjo. Namun, masih ada peluang besar untuk mengoptimalkan integrasi dengan sektor peternakan,” paparnya.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Program ini diharapkan bisa menciptakan model bisnis berkelanjutan yang memberikan multiple income bagi peternak dan menjadi solusi bisnis berkelanjutan yang menguntungkan sekaligus mendukung ketahanan pangan. Model yang dikembangkan di Banjarasri ini berpotensi untuk direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik serupa,” ujar Sutopo.
Reporter: SUTOPO




