• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Global Terhadap Kearifan Lokal di Lingkungan SD Berbasis Ajaran Tamansiswa

Editor Redaksi
7 Juli 2025
in Artikel

Arshawa Oktavinia1a*, Zainnur Wijayanto2b
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta
a[email protected] ; b[email protected]

Abstract: This qualitative research aims to investigate the impact of global awareness and local wisdom education on environmental understanding and cultural values in elementary school students. The aim of this research is twofold: first, to examine how the integration of global awareness and local wisdom encourages inclusive attitudes towards cultural differences, and second, to explore how it increases environmental awareness as well as strengthening students’ sense of local identity. The findings emphasize the importance of adopting a holistic approach in primary education to form a broader and more sustainable understanding of the role of children in an increasingly connected global world.
Keywords: Awareness, Cultural Values, Local Wisdom, Primary Education, Cultural Diversity, Holistic Approach

Abstrak: Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menyelidiki dampak pendidikan kesadaran global dan kearifan lokal terhadap pemahaman lingkungan dan nilai budaya pada siswa Sekolah Dasar. Tujuan penelitian ini adalah ganda: pertama, untuk menguji bagaimana integrasi kesadaran global dan kearifan lokal mendorong sikap inklusif terhadap perbedaan budaya, dan kedua, untuk mengeksplorasi bagaimana hal tersebut meningkatkan kesadaran lingkungan serta memperkuat rasa identitas lokal siswa. Temuan menegaskan pentingnya mengadopsi pendekatan holistik dalam pendidikan SD untuk membentuk pemahaman yang lebih luas dan berkelanjutan mengenai peran anak-anak dalam dunia global yang semakin terhubung.
Kata Kunci: Kesadaran, Nilai-Nilai Budaya, Kearifan Lokal, Pendidikan Dasar, Keanekaragaman Budaya, Pendekatan Holistik

Pendahuluan
Pendidikan Dasar (SD) merupakan fase krusial dalam membentuk landasan pemahaman dan pandangan anak-anak terhadap dunia (Sularso,2016). Dalam era globalisasi yang semakin mengglobal, penting bagi anak-anak untuk memiliki kesadaran akan isu-isu global yang melampaui batas-batas geografis, namun tetap memahami dan menghargai nilai-nilai lokal yang menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.

Gagasan integrasi antara kesadaran global dan kearifan lokal juga sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pentingnya membentuk manusia yang berbudaya, berkarakter, dan memiliki kebijaksanaan lokal dalam menyikapi perubahan zaman. Dalam semboyan “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, Ki Hajar Dewantara mengajarkan pentingnya peran pendidik sebagai teladan, pengarah, sekaligus pendorong siswa untuk tumbuh secara mandiri dalam nilai dan pemahaman. Nilai-nilai ini sangat relevan ketika siswa dibimbing untuk mengenali dunia global tanpa kehilangan akar budaya lokalnya (Sutrisna, 2019).

Kesadaran global mengacu pada pemahaman yang luas tentang isu-isu yang memengaruhi dunia secara keseluruhan, seperti perdagangan internasional, perubahan iklim, konflik global, dan perubahan teknologi. Namun, kesadaran ini tidak boleh mengaburkan kepentingan dan kekayaan kearifan lokal yang tertanam dalam budaya dan tradisi setiap komunitas (Ismail, 2021)

Di sisi lain, kearifan lokal merupakan warisan budaya yang berkembang dari pengalaman-pengalaman sejarah, nilai-nilai budaya, tradisi, dan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Menjaga dan memahami kearifan lokal merupakan aspek penting dalam mempertahankan identitas dan memelihara keragaman budaya di tengah arus globalisasi. Pentingnya wawasan lokal tidak hanya berhenti pada aspek budaya semata, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang lingkungan alam yang menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Mengenali nilai-nilai ekologis dalam budaya lokal adalah langkah penting dalam melestarikan lingkungan hidup (Akuntansi, 2022)

Pendidikan Dasar memiliki peran vital dalam memperkenalkan anak-anak pada konsep kesadaran global dan wawasan lokal. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga upaya memerdekakan manusia secara utuh dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Menurut Zamroni (2011), pendidikan yang memerdekakan berarti membentuk pribadi yang sadar akan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan keadilan sosial sebagai dasar kehidupan bermasyarakat. Dalam kurikulumnya, SD dapat menjadi landasan untuk membangun pemahaman yang seimbang antara aspek global dan lokal bagi siswa-siswinya. Integrasi kesadaran global dalam pembelajaran di SD dapat membuka wawasan anak-anak terhadap berbagai kultur, tradisi, dan perspektif di seluruh dunia. Sejalan dengan itu, Soedjatmoko (1985) menyatakan bahwa pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara merupakan usaha kebudayaan untuk membentuk manusia seutuhnya yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tetapi tetap siap menyambut peradaban dunia. Hal ini dapat merangsang rasa ingin tahu serta meningkatkan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Namun, kearifan lokal juga harus diperkuat dan dijaga dalam kurikulum pendidikan dasar. Anak-anak perlu diajak untuk memahami sejarah, budaya, nilai, dan tradisi lokal mereka agar dapat memelihara identitas serta menghargai keanekaragaman budaya yang ada.

Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal tidak hanya menjawab kebutuhan kurikulum kontekstual, tetapi juga membangun jati diri siswa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Budaya lokal mengandung nilai-nilai luhur seperti gotong royong, hormat pada alam, dan kesederhanaan yang sejatinya merupakan bentuk konkret dari pendidikan karakter sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara (Munir, 2020).

Pendidikan yang menggabungkan wawasan lokal dapat membantu anak-anak memahami hubungan yang kompleks antara manusia dan lingkungan alam di sekitarnya. Ini akan melahirkan sikap peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Menggabungkan kesadaran global dengan kearifan lokal di SD bukanlah upaya untuk menggantikan satu dengan yang lain, tetapi untuk menciptakan sinergi yang memperkuat pemahaman menyeluruh terhadap dunia yang terus berkembang. Kesadaran global dan kearifan lokal juga memainkan peran penting dalam pembentukan sikap sosial dan moral siswa. Dengan memahami kompleksitas dunia, anak-anak akan lebih mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat (SUWARTI, 2016)

Pendidikan yang menekankan kesadaran global dan wawasan lokal di SD juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya membangun masyarakat yang berkelanjutan. Anak-anak yang dilengkapi dengan pemahaman yang komprehensif tentang peran mereka dalam dunia akan menjadi agen perubahan yang lebih efektif. Sekolah Dasar dapat memainkan peran utama dalam menciptakan platform untuk memperkuat jaringan global yang mempromosikan kolaborasi antarbudaya. Ini akan membuka pintu bagi pertukaran pengetahuan, ide, dan inovasi antara komunitas lokal dan internasional. Dengan menyatukan kesadaran global dan kearifan lokal di SD, kita dapat membangun fondasi bagi generasi mendatang yang tidak hanya terampil dalam beradaptasi dengan perubahan global, tetapi juga memiliki rasa keterikatan yang kuat terhadap warisan budaya dan lingkungan. Dalam hal ini, guru di SD memegang peran kunci dalam mengintegrasikan nilai-nilai global dan lokal dalam pembelajaran sehari-hari. Mereka berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam memahami perbedaan dan kesamaan antara budaya-budaya di seluruh dunia. Suciati dan Rustiyaningsih (2020) menyatakan bahwa trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara sangat relevan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis karakter, di mana guru menjadi inspirator, motivator, dan pendamping dalam menumbuhkan kesadaran budaya dan tanggung jawab global.

Selain itu, filosofi Tamansiswa yang menempatkan pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia sangat tepat dijadikan kerangka dalam merancang pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran global namun tetap berakar pada kearifan lokal. Nilai “berbudi pekerti” yang menjadi dasar ajaran Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga secara emosional dan spiritual (Wibowo, 2021).

Hal ini selaras dengan filosofi pendidikan Tamansiswa yang menekankan pentingnya pembentukan watak dan karakter bangsa melalui pendidikan yang berakar pada kebudayaan sendiri serta mengutamakan kebebasan batin dan kemandirian berpikir (Ki Hadjar Dewantara, 1967). Oleh karena itu, penguatan kesadaran global yang berpijak pada kearifan lokal menjadi strategi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berbudaya. Dalam praktik pembelajaran, penerapan trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara tampak nyata ketika guru menjadi fasilitator yang menumbuhkan semangat belajar siswa (ing madya mangun karsa), sekaligus menjadi teladan dalam bersikap (ing ngarsa sung tulada) dan mendukung mereka dari belakang (tut wuri handayani). Nilai-nilai ini membentuk budaya kelas yang inklusif, menghargai keragaman, dan menghormati perbedaan, yang juga merupakan nilai utama dalam pendidikan multikultural dan global. Maka dari itu, penguatan nilai-nilai budaya lokal di lingkungan sekolah dasar tidak hanya merupakan pelestarian budaya, tetapi juga merupakan wujud nyata dari implementasi pendidikan karakter berbasis Tamansiswa yang relevan dalam menjawab tantangan global masa kini.

Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif atau deskriptif untuk menyelidiki dampak pendidikan kesadaran global dan kearifan lokal pada pemahaman lingkungan dan nilai budaya siswa Sekolah Dasar (SD). Peneliti bertindak sebagai instrumen utama, menetapkan fokus penelitian, mencari sumber teori, menganalisis teori dan data yang diperoleh, serta menafsirkan hasil penelitian. Sumber teori diperoleh melalui studi literatur dari berbagai referensi seperti makalah, artikel, jurnal, buku, dan media lain yang terkait dengan penelitian ini.
Data yang dihasilkan berbentuk deskriptif, mencakup kalimat-kalimat yang merefleksikan pengamatan perilaku dan kejadian utuh yang terjadi dalam konteks pendidikan di SD. Analisis teori dan data dilakukan oleh peneliti sendiri untuk menghasilkan kesimpulan yang relevan.

Metode penelitian ini memungkinkan pemahaman mendalam tentang bagaimana integrasi kesadaran global dan kearifan lokal dapat memengaruhi sikap siswa terhadap perbedaan budaya, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan memperkuat identitas lokal mereka. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pemikiran dan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran pendidikan dasar dalam membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara perspektif global dan nilai-nilai local.

Hasil dan Pembahasan
Kesadaran global menjadi semakin penting di zaman modern. Konsep ini sebaiknya diperkenalkan kepada anak-anak sekolah dasar (SD) agar mereka dapat memahami isu-isu global seperti perdagangan internasional, perubahan iklim, konflik dunia, dan teknologi yang berkembang pesat (Rasyidi et al., 2022). Namun demikian, penting untuk tidak melupakan kearifan lokal, seperti warisan budaya, tradisi, dan pengetahuan yang telah berkembang secara turun temurun pada masyarakat lokal. Integrasi kesadaran global dan pengetahuan lokal di sekolah dasar merupakan pendekatan penting dalam kurikulum. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami dan menghargai keragaman budaya dan memahami perannya di dunia dengan tetap mempertahankan identitas budaya lokalnya. Pentingnya kearifan lokal dalam lingkungan tidak boleh diabaikan (Ramadan, 2018).

Anak-anak perlu memahami hubungan antara manusia dan lingkungan alam dan bagaimana pengetahuan lokal dapat membantu melindungi lingkungan. Dengan menanamkan kesadaran tersebut sejak dini, sekolah dasar dapat menjadi sarana untuk melahirkan generasi yang peduli lingkungan dan mampu melakukan aksi menjaga kelestarian lingkungan. Wawasan global, sebaliknya, memungkinkan siswa untuk mengenali dan menghargai perbedaan dan persamaan antara budaya dunia. Hal ini dapat merangsang rasa ingin tahu, meningkatkan toleransi, dan mendorong sikap inklusif. Hal ini penting dalam masyarakat yang semakin terhubung secara global (Shufa, 2018)

Oleh karena itu, dalam pendidikan dasar, penting untuk mengadaptasi kurikulum untuk menggabungkan kesadaran global, pengetahuan lokal dan pembelajaran lingkungan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya dapat beradaptasi dengan perubahan global, namun juga berkembang menjadi individu yang memiliki jati diri yang kuat dan berlandaskan kearifan lokal dan peduli lingkungan. Integrasi ini juga mendorong mereka menjadi agen perubahan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di masa depan.

1. Integritas Antara Kesadaran Global dan Kearifan Lokal
Integrasi kesadaran global dan kearifan lokal menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara perspektif global yang luas dan nilai-nilai, budaya, dan identitas lokal yang unik. Dalam konteks pendidikan, perpaduan kedua konsep ini di lingkungan sekolah dasar (SD) berperan penting dalam membentuk pemikiran siswa agar dapat memahami dan mempersepsikan berbagai realitas dunia. Pentingnya keselarasan antara kesadaran global dan kearifan lokal terletak pada pembentukan pemahaman yang holistik. Mahasiswa harus dihadapkan pada isu-isu global seperti perdagangan internasional, perubahan iklim, dan teknologi modern, namun tetap memahami, menghargai, dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada disekitarnya. Integrasi ini membantu siswa memahami hubungan antara apa yang mereka pelajari secara global dan realitas lokal. Hal ini tidak hanya memungkinkan Anda mengembangkan keterampilan berpikir kritis, namun juga membuka peluang untuk menerapkan konsep global dalam konteks lokal. Menurut Suparlan (2005), kearifan lokal merupakan instrumen penting dalam mempertahankan identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi yang serba cepat dan kompetitif. Meskipun kesadaran global membantu siswa memperluas perspektif mereka terhadap dunia yang terus berubah, pengetahuan lokal memberikan landasan yang kuat bagi identitas budaya (Shufa, 2018).

Ajaran Ki Hajar Dewantara menempatkan budaya sebagai ruh dari pendidikan. Oleh karena itu, dalam menghadapi globalisasi, siswa tetap harus didekatkan dengan nilai-nilai budaya lokal yang telah membentuk jati dirinya. Hal ini sejalan dengan konsep “berkebudayaan” dalam pandangan Tamansiswa, yaitu pendidikan harus memperkuat rasa cinta tanah air dan memperkaya khasanah budaya bangsa sendiri (Nugroho, 2018).

Melalui pendidikan yang mencakup kedua konsep tersebut, siswa dapat menemukan nilai-nilai universal dengan tetap mempertahankan identitas budayanya. Mengintegrasikan kesadaran global dan kearifan lokal di sekolah dasar juga mengubah siswa menjadi agen perubahan yang dapat menjembatani kesenjangan antara perspektif global dan lokal. Hal ini memungkinkan kami untuk berperan lebih aktif dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pentingnya keselarasan kedua konsep ini tidak hanya terbatas pada konteks pendidikan formal saja, namun juga berlaku pada pembentukan sikap dan perilaku siswa di luar lingkungan sekolah. Hal ini akan menciptakan sumber daya manusia yang memahami dan menghargai keragaman budaya dan lingkungannya seiring berjalannya globalisasi. Integrasi ini juga membantu siswa mengembangkan empati terhadap orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda, mengurangi konflik antar budaya, dan mendorong kolaborasi yang lebih baik di tingkat global. Dengan mengintegrasikan kesadaran global dan kearifan lokal di sekolah dasar, siswa dapat lebih mempersiapkan diri menghadapi tantangan global di masa depan tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Hal ini menciptakan masyarakat yang terhubung secara global yang memahami, menghormati dan peduli terhadap nilai-nilai budaya dan lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang (Azzahra et al., 2023)

Dalam konteks ini, nilai-nilai Tamansiswa seperti “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dapat menjadi pedoman bagi guru dalam membimbing siswa memahami hubungan antara globalisasi dan akar budayanya sendiri (Yudhistira, 2020). Nilai-nilai tersebut menekankan peran guru sebagai teladan dan pengarah, serta mendorong pembelajaran yang memerdekakan pikiran siswa, bukan menjejalkan informasi secara top-down.

2. Pelestarian Kearifan Lokal
Kearifan lokal merujuk pada pengetahuan, nilai, kepercayaan, praktik, dan tradisi yang diperoleh dan diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas tertentu. Pelestarian kearifan lokal merupakan suatu usaha yang penting dalam mempertahankan warisan budaya yang khas dan beragam. Pelestarian kearifan lokal merupakan upaya vital dalam memelihara identitas dan keberagaman budaya suatu daerah. Ini juga membantu masyarakat untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka yang telah tumbuh sejak lama. Globalisasi seringkali mempengaruhi kehidupan manusia di seluruh dunia, yang pada gilirannya juga memengaruhi kearifan lokal. Dalam beberapa kasus, nilai-nilai dan praktik lokal menjadi terpinggirkan oleh pengaruh global yang lebih dominan. Pendidikan memainkan peran penting dalam melestarikan kearifan lokal. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam kurikulum pendidikan, generasi muda dapat belajar dan memahami warisan budaya mereka (Nugraha & Novianto, 2022)

Komunitas memiliki peran yang signifikan dalam melestarikan kearifan lokal. Melalui kegiatan sosial, festival, dan pertemuan komunitas, mereka dapat mendorong pemeliharaan dan pengembangan tradisi lokal. Kolaborasi antara generasi yang lebih muda dan lebih tua sangat penting dalam pelestarian kearifan lokal. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman, nilai-nilai tradisional dapat dijaga dan dipelihara. Beberapa aspek dari kearifan lokal terkait dengan konservasi lingkungan. Pengetahuan tentang penggunaan yang bijaksana terhadap alam adalah bagian integral dari warisan budaya lokal. Mengembangkan ekonomi lokal yang berkelanjutan berdasarkan pada kearifan lokal dapat membantu masyarakat melestarikan tradisi mereka sambil menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam mendukung upaya pelestarian kearifan lokal. Kebijakan yang mendukung perlindungan, promosi, dan pengembangan kearifan lokal sangatlah penting. Pelestarian kearifan lokal tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga dapat memperkaya kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ini menciptakan identitas yang kuat bagi suatu komunitas dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan (Aisara & Widodo, 2020)

Kegiatan pembelajaran berbasis budaya lokal, seperti tembang dolanan, cerita rakyat, dan praktik tradisional masyarakat setempat, dapat menjadi sarana konkret dalam menanamkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air (Suryadi, 2015). Pendekatan ini terbukti dapat membentuk jati diri siswa dan memperkuat rasa kebangsaan yang tahan terhadap arus budaya asing.

Pelestarian budaya lokal dalam pendidikan dasar merupakan bagian dari praktik ajaran Ki Hadjar Dewantara, yang memandang bahwa pendidikan seyogianya berpangkal pada kebudayaan sendiri. Dalam hal ini, budaya lokal bukan sekadar objek pelajaran, melainkan menjadi sumber nilai dan identitas dalam proses pembentukan karakter anak (Suyata, 2015).

3. Peran Lingkungan dalam Kearifan Lokal
Lingkungan memegang peran krusial dalam kearifan lokal, menciptakan fondasi yang kuat bagi budaya dan praktik tradisional suatu komunitas. Lingkungan tempat tinggal sebuah komunitas adalah sumber daya utama yang membentuk kearifan lokal. Mulai dari topografi, flora, fauna, hingga iklim, semuanya berpengaruh pada nilai-nilai dan tradisi yang terpelihara. Kearifan lokal sering kali memanfaatkan sumber daya alam lokal dengan bijaksana. Contohnya, teknik pertanian tradisional yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim di suatu daerah. Kearifan lokal sering kali berkaitan erat dengan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, pengetahuan tentang tanaman obat-obatan atau praktik pertanian yang cocok dengan musim dan kondisi iklim setempat. Lingkungan alam sering menjadi inspirasi untuk seni, musik, dan cerita-cerita tradisional. Contohnya, cerita rakyat atau lukisan yang menggambarkan keindahan alam sekitar (Hartini et al., 2021)

Kearifan lokal sering menyimpan pengetahuan unik tentang konservasi lingkungan, seperti cara menjaga keanekaragaman hayati atau menjaga keseimbangan ekosistem. Sukmawati (2020) menegaskan bahwa pendidikan berbasis lingkungan yang dikembangkan melalui nilai-nilai lokal dan alam sekitar merupakan bentuk aktualisasi ajaran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang membumi, sesuai dengan konteks hidup masyarakat dan lingkungan setempat. Perubahan lingkungan, seperti perubahan iklim atau degradasi alam, juga mempengaruhi kearifan lokal. Masyarakat sering harus beradaptasi dengan perubahan ini untuk menjaga keberlangsungan tradisi mereka. Pelestarian kearifan lokal sering kali juga berarti memelihara lingkungan alam. Praktik-praktik tradisional yang berkelanjutan sering menjadi contoh bagaimana menjaga lingkungan agar tetap lestari. Kearifan lokal dapat menjadi cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan lingkungan alam. Pengenalan nilai-nilai budaya dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam. Menghargai hubungan yang erat antara lingkungan dan kearifan lokal adalah langkah awal dalam menjaga keseimbangan yang diperlukan untuk kelangsungan budaya dan alam (Adji & Wahyuningsih, 2018)

Dengan menggabungkan kesadaran global, kearifan lokal, dan pembelajaran lingkungan dalam kurikulum pendidikan dasar, kita dapat membentuk individu yang tidak hanya siap menghadapi tantangan global, tetapi juga melestarikan nilai-nilai dan identitas budaya mereka serta peduli terhadap lingkungan tempat mereka hidup.

4. Permasalahan Lingkungan yang Dihadapi Siswa SD
Sampah adalalah masalah yang sering terjadi di lingkungan Masyarakat. Manusia yang merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurnah kurang mendalami perannya tersebut, sering kali tidak menjaga alam ciptaan-Nya. Kurangnnya kesadaran ini membuat alam murka sehingga terjadi bencana seperti mendatangkan bau yang tidak sedap, mendatangkan banjir level rendah sampai yang tinggi, mendatangkan berbagai penyakit dan dapat mencemari lingkungan. Namun hal tersebut tidak menyadari manusia agar pentingnya menjaga lingkungan.

Pengertian sampah secara khusus dikemukakan oleh (Azwar, 1979) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis karena (human waste) tidak termasuk didalamnya.” Sedangkan menurut (Mochtar, 1987) sampah adalah “sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya”.

Berdasarkan rumusan pengertian dan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sampah ialah semua jenis benda atau barang bangunan/kotoran manusia, hewan atau tumbuh-tumbuhan atau yang berasal dari aktivitas kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang dapat menimbulkan dan atau mengakibatkan pengotoran terhadap air, tanah dan udara sehingga dapat menimbulkan pengrusakan lingkungan hidup manusia (Rizal, 2011).

Pentingnya kesadaran untuk menjaga lingkungan khususnya bagi generasi sekarang ini. Diketahui bahwa kesadaran lingkungan para siswa di zaman ini masih sangat kurang. Selain itu, banyak siswa yang enggan untuk menjaga kebersihan kamar mandi setelah menggunakannya. Bau tak sedap sering kali muncul karena siswa tidak menyiramnya setelah selesai menggunakan kamar mandi. Tidak hanya itu, kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Sampah yang ada belum terpilah dengan baik dan volume sampah yang sangat banyak menyebabkan tempat sampah yang ada tidak cukup menampungnya dan meluap hingga bagian pelataran di depan kelas.

Untuk itu, perlu adanya kegiatan-kegiatan yang diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Kegiatan ini penting untuk dilakukan agar para siswa maupun warga sekolah mulai peduli dengan lingkungan sekitar yang semakin lama semakin banyak masalah yang bermunculan. Khususnya untuk para siswa, semakin dini dikenalkan untuk peduli terhadap lingkungan diharapkan nantinya dapat menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan dan ditularkan kepada orang lain hingga dewasa kelak.

5. Pentingnya Siswa Sd Memahami atau Peduli Terkait dengan Lingkungan
Peduli lingkungan merupakan hal yang penting agar tetap lestarinya lingkungan yang asri. Lingkungan bersi dapat membuat kita beraktivitas dengan nyaman. Namun, seperti yang kita ketahui, di zaman ini orang-orang kurang peduli terhadap lingkungan seperti menebang pohon sembarangan untuk keuntungan pribadi seperti membuka lahan ataupun membangun rumah. Perilaku tersebut tidak mencerminkan mencintai lingkungan yag mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan terjadi kekeringan. Untuk itu, perlu adanya Gerakan peduli lingkungan di Masyarakat yang modern ini agar tidak mudah terjadi bencana.

Gerakan peduli lingkungan termasuk ke dalam nilai karakter nasionalis. Yang dimaksud dengan Nilai nasionalis yaitu bagaimana cara kita bersikap, berfikir dan berbuat yang menunjukkan jiwa kesetiaan, penghargaan, dan kepedulian terhadap lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan bangsa di atas kepentingan diri maupun kelompok. Nilai yang terkandung di dalam karakter nasionalis di antaranya, menjaga lingkungan, menjaga kekayaan alam, cinta tanah air, dan disiplin. Dalam pendidikan karakter melibatkan semua kepentingan yang ada dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah, lingkungan sekolah, dan juga masyarakat luas. Tidak akan berhasil dalam pembentukan dan pendidikan karakter apabila tidak ada kesinambungan dan keharmonisan dengan lingkungan pendidikan (Chan et al., 2019).

Penanaman karakter peduli lingkungan juga dapat ditanamkan terhadap siswa dengan membiasakan siswa untuk mencuci tangan pada saat jam istirahat, dan mencuci tangan pada saat sebelum maupun sesudah makan. Seluruh siswa juga dibiasakan untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk memilah sampah, jadi sampah seperti botol plastik, gelas air mineral disimpan lalu jika sudah banyak dapat dijual dan uang hasil penjualan tersebut untuk kas kelas (Kelas & Sd, 2019).
Peduli terhadap lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang berupaya untuk mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan juga berupaya untuk memperbaiki kerusakankerusakan alam yang sudah terjadi. Utami dan Nasution (2022) menjelaskan bahwa nilai budi pekerti dalam ajaran Ki Hajar Dewantara menempatkan alam sebagai bagian integral dalam pendidikan, karena lingkungan hidup adalah tempat anak-anak belajar cinta, tanggung jawab, dan keselarasan hidup. Karakter peduli lingkungan dapat mencerminkan kepedulian dan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan pada siswa MI/SD dapat dilaksanakan melalui pengembangan sikap yang diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran (Kelas & Sd, 2019).

Pentingnya sikap peduli lingkungan menurut pernyataan Akhmad Muhaimin Azzet (2013: 97) Ia mengatakan bahwa bumi semakin tua dan kebutuhan manusia pada alam juga semakin besar, sehingga yang menjadi persoalan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Begitu juga pernyataan Philip Shabechoff (1999: xviii) Ia mengatakan bahwa bumi ini hanya satu dan sudah terasa sangat kecil. Untuk itu, bumi perlu dijaga dan dirawat dengan kasih sayang. Dalam konteks inilah nilai peduli lingkungan sebagai salah satu nilai dalam pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk ditanamkan pada anak usia dini, terutama siswa MI/SD (Afriyeni, 2018).

Untuk memberikan pemahaman yang baik tentang lingkungan banyak cara yang dapat dilakukan bagi setiap individu, contohnya seperti penerangan, penyuluhan, bimbingan, dan pendidikan (formal dan non formal mulai dari TK, SD, hingga perguruan tinggi). Hamzah (2013: 43) menjelaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan wujud sikap mental individu yang direfleksikan dalam perilakunya. Menurut Tadkiroatun Musfiroh dalam Sulistyowati (2012: 20), sikap mental dan perilaku dapat disebut dengan karakter. Karakter merupakan watak, tabiat, akhlak, dan kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi sebagai kebajikan (virtues) yang digunakan sebagai landasan cara pandang berfikir, bersikap, dan bertindak. Syukri Hamzah (2013: 43) juga mengatakan bahwa karakter peduli lingkungan sepenuhnya bukanlah talenta maupun instink bawaan, tetapi juga merupakan hasil dari suatu proses pendidikan dalam arti yang luas. Salah didik atau salah asuh terhadap seorang individu bisa jadi akan menghasilkan karakter yang kurang baik terhadap lingkungan. Oleh karena itu, karakter yang baik haruslah dibentuk kepada setiap individu, sehingga setiap individu dapat menjiwai setiap tindakan dan perilakunya (Alanwari, n.d.).

6. Wawasan Global dan Lingkungan
Memasuki paruh awal abad ke-21, setiap negara di dunia akan menghadapi berbagai permasalahan global yang perlu ditangani dengan serius. Menurut Cogan (1998:7), ada tiga permasalahan global utama yang dihadapi negara-negara di seluruh dunia. Ketiga permasalahan itu meliputi: (1) berkembangnya ekonomi global; (2) semakin pesatnya kemajuan teknologi dan komunikasi; dan (3) meningkatnya populasi penduduk dunia yang diikuti dengan munculnya permasalahan lingkungan. Pendapat senada dikemukakan Titus (1999:133) yang menyatakan bahwa dunia semakin kompleks dan saling terkait. Kompleksitas itu memunculkan serangkaian persoalan lintas negara, seperti: penolakan dan pengaturan senjata nuklir, polusi lingkungan yang mendunia, dan munculnya kekuatan ekonomi dunia yang saling terkait

Di bidang ekonomi, berkembangnya ekonomi global menyebabkan pergeseran secara bertahap dari produksi barang-barang manufaktur menuju layanan atau jasa. Distribusi produksi barang dan jasa semakin gencar melewati batas-batas negara. Globalisasi ekonomi yang didorong oleh “neoliberalisme” secara dramatis mempengaruhi hidup warga negara di seluruh dunia dengan membangun sistem “kapitalisme global” (Machida, 2011:119).

Permasalahan kedua yang menjadi kecenderungan global adalah kemajuan teknologi dan komunikasi. Kemajuan teknologi informasi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung proses globalisasi (Machida, 2011:125). Perkembangan teknologi yang sangat cepat mempengaruhi hampir setiap kegiatan manusia di dunia. Pengaruh besar kemajuan teknologi yang paling terasa menyentuh kehidupan masyarakat adalah adanya perkembangan teknologi komputer. Aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari hampir dapat dipastikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan bersentuhan dengan kemajuan teknologi komputer. Orang akan menggunakan komputer di tempat kerja, di sekolah, di rumah, bahkan memanfaatkan waktu luang untuk bermain-main dengan komputer. Melalui teknologi komputer, orang semakin mudah tersambung dengan jaringan yang ada di dunia.

Permasalahan ketiga yang menjadi kecenderungan global adalah meningkatnya populasi penduduk dunia yang diikuti dengan munculnya permasalahan lingkungan. Populasi penduduk di bumi terus meningkat dari hampir enam miliar pada akhir abad ke-20 akan terus meningkat menjadi sekitar delapan miliar pada tahun 2025 (Cogan, 1998: 10). Populasi penduduk dunia yang terus meningkat semakin menambah kompleksnya permasalahan global yang dihadapi oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Kastil dan Davidson mengemukakan bahwa di era global batas-batas nasional mengikis karena jutaan orang tinggal di beberapa negara dan memiliki kewarganegaraan ganda. Jutaan orang memiliki kewarganegaraan dalam satu bangsa dan hidup di tempat (bangsa) lain. Jumlah individu yang tinggal di luar tanah air mereka menurut Benhabib terus meningkat dari sekitar 33 juta pada tahun 1910 menjadi 175 juta pada tahun 2000. Migrasi di seluruh dunia telah meningkatkan keragaman di sebagian negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia (Banks, 2008: 132).

Penduduk yang terus bertambah akan berdampak besar pada munculnya permasalahan lingkungan. Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya perlu makan, mendapatkan pekerjaan, dan berusaha mencari kualitas kehidupan yang layak. Akibatnya, muncul permasalahanpermasalahan lingkungan seperti perusakan lahan subur, menipisnya sumber daya alam, perusakan hutan, menipisnya ketersediaan air bersih, dan lain-lain. Negaranegara di dunia banyak yang berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Padahal pemanfaatan sumber daya alam akan berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat jika negara memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Studi empiris yang dilakukan Brooks dan Kurtz terhadap 98 negara di dunia pada tahun 1979-2000 menemukan bahwa produksi sumber daya alam dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi hanya di negara-negara yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang berkualitas (Rudra & Jensen, 2011:651).

Di sisi lain, arus globalisasi yang melintasi batas-batas negara dikhawatirkan dapat berdampak pada lunturnya nilainilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. Bagi Indonesia, proses globalisasi tidak dapat dinafikan akan bersinggungan atau bahkan melunturkan nilai-nilai nasionalisme. Disadari atau tidak nasionalisme Indonesia saat ini masih terus berkembang dan belum sepenuhnya terbangun denga nkokoh. Proses globalisasi secara konseptual selama ini dianggap mendatangkan permasalahan bagi nasionalisme. Menurut Seda (2011: 138) keresahan akan lunturnya nilainilai nasionalisme dalam konteks proses globalisasi dikarenakan konsep nasionalisme senantiasa dikaitkan dengan negarabangsa, dimana peran negara masih sangat dominan. Nasionalisme tidak dikaitkan dengan konsep pasar dan komunitas.

Kesimpulan
Integrasi kesadaran global dan kearifan lokal di Sekolah Dasar (SD) membawa dampak positif yang signifikan dalam membentuk pemahaman holistik anak-anak terhadap dunia di sekitar mereka. Dalam menyatukan konsep-konsep ini, pertama-tama, memperkenalkan isu-isu global seperti keragaman budaya, keberlanjutan lingkungan, dan nilai-nilai universal di SD membantu membentuk pemikiran yang terbuka dan toleran pada anak-anak. Rokhmah (2019) menegaskan bahwa ajaran Ki Hajar Dewantara menempatkan kebudayaan lokal sebagai pondasi pembentukan karakter bangsa, namun tetap terbuka terhadap kebudayaan luar yang memperkaya tanpa merusak identitas bangsa. Dengan demikian, mereka dapat menghargai perbedaan budaya dan menumbuhkan sikap inklusif dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pentingnya pendidikan tentang kearifan lokal di SD adalah langkah awal yang krusial untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya setempat. Saat siswa memahami dan menghargai tradisi, nilai, dan kebiasaan lokal mereka, hal ini dapat memperkuat rasa identitas mereka sendiri. Pendidikan tentang kearifan lokal juga membantu anak-anak untuk terhubung dengan lingkungan sekitarnya, memahami sejarah budaya mereka, serta mendorong kepedulian terhadap pelestarian alam dan ekosistem yang ada di sekitar mereka.

Melalui pendidikan global di SD, siswa dapat memahami dampak dari tindakan mereka terhadap lingkungan secara lebih luas. Mereka belajar tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologi, penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab, dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Dengan menyadari pentingnya lingkungan, siswa menjadi lebih cenderung untuk berperilaku secara bertanggung jawab terhadap alam sekitar mereka dan membentuk kebiasaan yang ramah lingkungan sejak usia dini. Amin (2021) menekankan bahwa pendidikan berbasis ajaran Ki Hajar Dewantara mengarah pada pembentukan karakter anak yang menghargai kehidupan, termasuk keselarasan dengan alam dan sesama manusia, yang sangat relevan untuk pendidikan karakter peduli lingkungan.

Pendidikan tentang kesadaran global dan kearifan lokal di SD juga membantu mengembangkan keterampilan sosial dan kerjasama yang diperlukan di era global ini. Anak-anak belajar untuk bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda, meningkatkan pemahaman mereka tentang kerjasama lintas budaya dan pentingnya komunikasi yang efektif di dalam masyarakat yang multikultural.

Kesadaran dan wawasan global sejak usia dini sangat penting karena membentuk dasar bagi generasi masa depan yang dapat memahami tantangan global dan mencari solusi yang inklusif serta berkelanjutan. Pendidikan yang memadukan antara pemahaman lokal dan global di SD adalah langkah awal yang krusial dalam mempersiapkan anak-anak untuk menjadi individu yang peduli, terbuka, dan penuh empati terhadap dunia yang kompleks dan terus berubah. Dalam konteks ini, sebagaimana ditegaskan Daulay (2014), pendidikan yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berjiwa sosial, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Dengan demikian, integrasi antara kesadaran global dan kearifan lokal di Sekolah Dasar bukan hanya konsep semata, melainkan sebuah kewajiban untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghormati, menjaga, dan mengembangkan kekayaan budaya serta lingkungan hidup bagi masa depan yang berkelanjutan.

Konsep pendidikan yang membumi namun berwawasan global ini mencerminkan semangat Tamansiswa yang mengedepankan pendidikan nasional berbasis kebudayaan, serta memerdekakan setiap anak untuk tumbuh secara utuh dalam karakter, pengetahuan, dan rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan demikian akan melahirkan manusia merdeka yang tidak hanya cakap menghadapi tantangan global, tetapi juga tetap berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsanya sendiri (Dewantara, 2009).

Daftar Pustaka
Adji, P. S., & Wahyuningsih, N. (2018). Kain Lurik: Upaya Pelestarian Kearifan Lokal. Atrat, 6(2), 129–136.
Amin, M. (2021). Ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam Perspektif Pendidikan Karakter Lingkungan. Jurnal Pendidikan Humaniora, 9(3), 150–158.
Afriyeni. (2018). Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Sejak Dini. Jurnal Pendidikan Karakter, 8(1), 35–42.
Aisara, F., & Widodo, A. (2020). Melestarikan Kembali Budaya Lokal Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Untuk Anak Usia Sekolah Dasar. Cakrawala Jurnal Penelitian Sosial, 9, 149–166.
Akuntansi, P. S. (2022). 1* , 2 1,2. 20(1), 105–123.
Azwar, S. (1979). Pengantar Psikologi Lingkungan. Yogyakarta: Liberty.
Azzahra, I., Aan Nurhasanah, & Eli Hermawati. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pembelajaran IPAS di SDN 4 Purwawinangun. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 9(2), 6230–6238. https://doi.org/10.36989/didaktik.v9i2.1270
Banks, J. A. (2008). Diversity and Citizenship Education: Global Perspectives. San Francisco: Jossey-Bass.
Daulay, H. P. (2014). Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Dewantara, K. H. (1967). Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Tamansiswa.
Dewantara, K. H. (2009). Pendidikan: Pemikiran, Pedoman, dan Contoh. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Hartini, A., Fusnika, & Doro, M. (2021). Upaya pelestarian kearifan lokal tradisi nyamaru Suku Dayak Ntuka sebagai wujud cinta budaya di Mungguk Ganis Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadu. JURNAL PEKAN : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(2), 164–176.
Ismail, M. J. (2021). Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Dan Menjaga Kebersihan Di Sekolah. Guru Tua : Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(1), 59–68. https://doi.org/10.31970/gurutua.v4i1.67
Munir, M. (2020). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Deepublish.
Nugraha, A. H. A., & Novianto, V. (2022). Nilai kearifan lokal pada pelestarian lingkungan Telaga Ranjeng Kabupaten Brebes. Jurnal Sosialita, 17(1), 111–126.
Nugroho, H. (2018). Revitalisasi Pendidikan Nasional Berbasis Tamansiswa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 23(3), 321–336.
Ramadan, Z. H. (2018). Pemahaman Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar Sebagai Suatu Cara Membentuk Karakter Siswa. 84–93. https://ejournal.unri.ac.id/index.php/pigur/article/view/5415
Rasyidi, M., Sarjan, M., Muliadi, M., Azizi, A., Hamidi, A., Fauzi, H., Yamin, I., Muttaqin, M., Ardiansyah, M. Z., Rahmatiah, B., Sudirman, R., & Khery, S. (2022). Peningkatan Kesadaran Global Siswa IPA Sebagai Dasar Pendidikan Masa Depan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(21), 27–35. https://doi.org/10.5281/zenodo.7272733.
Rokhmah, H. (2019). Pendidikan Multikultural dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 14(1), 32–40.
Shufa, N. K. F. (2018). Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar: Sebuah Kerangka Konseptual. INOPENDAS: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1), 48–53. https://doi.org/10.24176/jino.v1i1.2316
Suciati, N., & Rustiyaningsih, A. (2020). Konsep Tut Wuri Handayani dalam Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 52–63.
Sukmawati, N. (2020). Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 39(3), 545–556.
Suparlan, P. (2005). Kebudayaan, Masyarakat, dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryadi, A. (2015). Revitalisasi Pendidikan Berbasis Budaya Lokal. Jakarta: Rajawali Pers.
Sutrisna, D. (2019). Trilogi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara dalam Konteks Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.
SUWARTI. (2016). Implementasi Perspektif Global Dalam.
Suyata. (2015). Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Pendidikan Dasar memiliki peran vital dalam memperkenalkan anak-anak pada konsep kesadaran global dan wawasan lokalWibowo, A. (2021). Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya dalam Pembelajaran Abad 21. Jakarta: Kencana.
Yudhistira, R. P. (2020). Internalisasi Nilai-nilai Tamansiswa dalam Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 75–88.
Zamroni. (2011). Pendidikan Demokratis: Dari Ki Hadjar Dewantara hingga Paulo Freire. Yogyakarta: Genta Press.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.