• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Kostum Menjadi Senjata Kaum Tertindas

Editor Redaksi
7 Juli 2025
in Artikel

Oleh: Louisa Novilia Harsono, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk menyelesaikan UAS Media & Cultural Studies

JurnalPost.com – Siapa yang tidak tahu series film korea yang berjudul SquidGame? Squid Game (2021) adalah serial thriller survival Korea Selatan yang menyihir dunia lewat metafora brutal,dimana serial ini mengisahkan sekelompok orang yang tengah mengalami krisis finansial dan diundang untuk mengikuti serangkaian permainan anak-anak tradisional Korea dengan hadiah utama sebesar 45,6 miliar won. Namun, permainan tersebut ternyata mematikan dimana peserta yang kalah akan dieksekusi di tempat. Lebih dari sekadar tontonan hiburan, Netflix’s Squid Game bukan sekadar sensasi global, ia adalah fenomena budaya yang memantulkan kegelisahan zaman. Di balik estetika permainan anak-anak yang nostalgis dan kekerasan yang spektakuler, tersembunyi lapisan kompleks relasi kuasa, representasi, dan potensi resistensi yang layak dikupas melalui kacamata Cultural Studies.

Ketika buruh Korea Selatan mengarak peti mati bertuliskan “456” (nomor peserta utama Squid Game) dalam unjuk rasa upah (2021), atau anak-anak di Chili memakai jumpsuit hijau sambil memprotes ketimpangan pendidikan, kita menyaksikan fenomena langka: hiburan populer berubah menjadi amunisi perlawanan. Siapa sangka jumpsuit hijau-merah Squid Game simbol penindasan dalam serial Netflix itu justru dikenakan buruh Korea Selatan dalam aksi unjuk rasa upah? Fenomena ini bukan sekadar “viral”, melainkan bukti nyata budaya populer sebagai medan perang makna. Melalui lensa Dick Hebdige (Subculture: The Meaning of Style), kita akan menguak bagaimana simbol komersial dirampas jadi senjata perlawanan.

Simbol series ini dijadikan senjata Melawan Kekuasaan sebagai konflik makna, dimana Series ini mengubah komoditas menjadi Kritik. Perlawanan ini tidak berakhir di Korea. Di Chile, aktivis pendidikan mengenakan topeng karakter Squid Game dan membuat lingkaran yang menyerupai permainan “Lampu Merah-Lampu Hijau” atau kita kenal dengan ” Red Light – Green Light” menggunakan simbol Korea untuk mengecam masyarakat setempat. Fenomena ini menunjukkan budaya populer sebagai bentuk perlawanan universal terhadap kapitalisme global. Di dunia digital, meme “Jika Squid Game terjadi di negaraku…” yang membandingkan utang fiksi dengan masalah nyata (kartu kredit, KPR), berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan kekerasan sistem ekonomi yang telah menjadi hal biasa bahkan mirip bagaimana punk mengubah peniti menjadi simbol perlawanan.

Hebdige mengingatkan ”resistensi kultural harus berlanjut ke aksi sistematis”. Transformasi “gaya” ke politik institusional diperlukan, seperti koordinasi aksi simbolik dengan gerakan buruh, seperti serikat Korea yang memakai momentum Squid Game untuk negosiasi upah. Masyarakat perlu literasi media kembali, tak sekadar memakai jumpsuit, tapi juga memproduksi konten edukatif Sabotase kreatif terhadap komodifikasi bisa dilakukan dengan membajak tagar #SquidGame untuk kampanye nyata: “Donasi untuk korban PHK, bukan beli merchandise Netflix!” , Selain itu, Jaringan global aktivis lintas negara (Korea-Chile-Brasil) juga perlu dibangun agar tekanan berskala internasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu jujur bertanya: apakah kita memakai simbol-simbol perlawanan karena benar-benar memahami maknanya, atau sekadar ikut tren? Jangan sampai kita menjadi penonton pasif yang hanya meniru estetika pemberontakan tanpa memahami konteksnya. Memakai jumpsuit ala Squid Game untuk konten Instagram, tanpa empati pada buruh yang sebenarnya berjuang dengan itu, adalah bentuk pengosongan makna yang justru memperkuat logika konsumsi yang semula dikritik.  Jangan jadikan perlawanan sekadar kostum. Jadikan ia kompas moral yang menuntun tindakan kita, sekecil apa pun itu.

Budaya populer bisa jadi petir yang menyulut api perlawanan. Tugas kita? Memastikan api itu tak sekadar jadi hiburan layar kaca, tapi membakar sistem yang tak adil.

Artikel ini terinspirasi oleh protes buruh Korea Selatan (2021) dan riset Dick Hebdige tentang subkultur.

 

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.