• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Memangnya Boleh Laki-Laki Menangis? : Representasi Baru Maskulinitas Pada Film “Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis?”

Editor Redaksi
7 Juli 2025
in Artikel
[Dokumentasi Menonton Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis]

Oleh : Syaiful Rahman Mahasiswa Ilmu Komunikasi

JurnalPost.com – Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis adalah film pendek yang menceritakan permasalahan keluarga, meskipun sederhana namun kisahnya sangat mendalam. Film tersebut merupan karya Herwin Novianto. Dengan adanya film ini, kita dapat tertampar secara halus, karena seorang laki-laki yang harus terlihat kuat dan tegar, ternyata boleh untuk menangis. Tak hanya menceritakan masalah seorang kepala keluarga yang bekerja dan terlilit masalah hutang, namun dalam film ini menampilkan representasi baru tentang maskulinitas yang ada di Indonesia. Seorang ayah yang bisa menangis, karena terlalu berat menanggung beban yang di derita, dan dengan adanya tangisan itu, menandakan bahwa adanya suatu kejujuran yang ada pada dirinya, bahwa dunia masalah yang di alami sangat rumit. (Hidayah & Rozi, 2025)

Dalam Ideologi Stuart Hall mengatakan bahwa representasi merupakan bagian penting dari proses produksi dan pertukaran antar anggota dalam suatau budaya, yang melibatkan penggunaan bahasa, tanda-tanda dan gambar yang mempresentasikan sesuatu (Hall, 1997: 15). Maka dari itu, ketika pada film ini menampilkan laki-laki menangis, berarti bukanlah tentang peristiwa personal, tetapi merupakan tindakan yang menandakan konstruksi maskulinitas. Bioskop sering kali menayangkan sosok laki-laki yang dingin, kuat dan tidak emosional. Representasi seperti ini dapat membatasi tentang apa arti dari laki-laki sejati. Namun, di film ini, seorang ayah sekaligus suami, dapat mempresentasikan gaya baru laki-laki yang tidak malu dengan emosionalnya, dia berani menunjukkan rasa luka, dan juga tidak segan untuk meneteskan air mata. (Ayuanda et al., 2024)

Teori Gramsci tentang hegemoni berhubungan dengan film ini yang awalnya seorang ayah pendiam, cuek, dan kasar menunjukkan bahwa nilai patriarki berjalan dengan halus, tidak langsung dengan kekerasan, tetapi melalui norma sosial. Orang tua, lingkungan bahkan pada saat berbicara dengan masyarakat sekitar, menjadi acuan nilai bahwa laki-laki harus kuat. Padahal menangis bukanlah sesuatu yang tidak pantas, justru dengan menangis kita sebagai manusia dapat menunjukkan bahwa itu adalah emosional paling jujur. Seorang ayah menangis bukanlah tanda gagal, melainkan keberanian untuk mengungkapkan kejujuran. Tangisan air mata dalam film ini mengandung unsur kekuatan dan bukan kelemahan seorang laki-laki. (Riley, 2011)

Film ini berperan besar dalam mengelola makna dan opini publik. Ketika film “Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis” memilih untuk merepresentasikan maskulinitas yang berbeda, sehingga dapat membuka ruang untuk perubahan sosial. Laki-laki tidak harus kasar, cuek, keras kepala ataupun agresif untuk di anggap maskulin. Adanya film ini mengajak kita untuk bisa berkritik dan memberikan perubahan representasi lama yang menyudutkan laki-laki dan merugikan perempuan, Hal ini adalah tindakan kecil untuk budaya yang tak seharusnya dilakukan dan lebih inklusif dan adil bagi semua orang, baik laki-laki ataupun perempuan.

Laki-Laki boleh menangis, karena tangisan bukan suatu bentuk kelemahan melainkan bentuk kejujuran. Apabila budaya popular terus menerus mengembangkan dan mengangkat permasalahan tentang representasi maskulinitas baru, pasti seorang laki-laki dapat menangis tanpa harus terhalang apapun.

Referensi :
Ayuanda, W., Sidabalok, D., & Perangin-angin, A. B. (2024). Budaya Jawa dalam Film Primbon: Analisis Representasi Stuart Hall. ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 7(2), 440–449. https://doi.org/10.33503/alfabeta.v7i2.4184

Hidayah, S., & Rozi, F. (2025). MAKNA KESEHATAN MENTAL DALAM FILM BOLEHKAH SEKALI SAJA KU MENANGIS ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BATHERS. 7(1), 539–550. file:///C:/Users/useRC/Downloads/431-Article Text-1219-2-10-20231101.pdf

Riley, D. J. (2011). Hegemony, Democracy, and Passive Revolution in Gramsci’s <em>Prison Notebooks</em>. California Italian Studies, 2(2). https://doi.org/10.5070/c322008962

Utomo, K. D., Jupriono, J., & Ayodya, B. P. (2018). Film Dokumenter Gerakan Merekam Kota Karya Gresik Movie: Telaah Semiotika John Fiske. Representamen, 4(02), 1–7. https://doi.org/10.30996/.v4i02.1735

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.