
Oleh : ANDINI PUTRI ARDELIA
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
NIM : 1152200165
JurnalPost.com – Siapa sangka serial remaja seperti Riverdale, yang sekilas hanya menampilkan cinta segitiga, misteri pembunuhan, dan drama SMA, ternyata menyimpan praktik budaya yang merefleksikan dan mempertahankan struktur kekuasaan di masyarakat kita. Banyak remaja menontonnya hanya untuk hiburan, tanpa sadar bahwa di balik alur ceritanya terdapat nilai-nilai dan ideologi tertentu yang ditanamkan secara halus.
Dari kacamata feminisme, Riverdale menampilkan tokoh perempuan kuat seperti Veronica Lodge yang mandiri, pintar, dan berani melawan ayahnya yang korup. Betty Cooper juga digambarkan cerdas, pemberani, dan rela mengambil risiko dalam menyelidiki kejahatan di kotanya. Kedua tokoh ini seakan menantang stereotip perempuan lemah. Namun, di saat yang sama, serial ini tetap menampilkan tubuh perempuan sebagai objek visual. Kamera kerap menyorot tubuh mereka saat menari cheerleader atau mengenakan pakaian minim di pesta prom. Ini menunjukkan bahwa meskipun di permukaan terlihat mendukung pemberdayaan perempuan, Riverdale masih mempertahankan budaya male gaze yang menempatkan perempuan sebagai objek hiburan laki-laki.
Dari perspektif postkolonialisme, Riverdale menunjukkan dominasi budaya Barat yang begitu kuat. Kehidupan remaja Amerika yang digambarkan dalam serial ini, mulai dari prom night yang megah, kehidupan SMA dengan locker dan cheerleader, hingga pesta rumah tanpa pengawasan orang tua, menjadi standar kehidupan ideal bagi banyak penonton remaja di negara lain, termasuk Indonesia. Imperialisme budaya ini bekerja dengan cara yang halus, menanamkan dalam benak remaja Indonesia bahwa gaya hidup Amerika lebih keren, modern, dan patut ditiru, tanpa mempertanyakan apakah itu sesuai dengan realitas kehidupan mereka sendiri.
Sedangkan dari sudut pandang globalisasi, Riverdale adalah contoh nyata bagaimana produk budaya dapat menembus batas negara dengan mudah. Netflix sebagai platform distribusi global membawa serial ini ke berbagai belahan dunia. Di satu sisi, globalisasi memungkinkan kita menikmati berbagai jenis tontonan dengan kualitas produksi yang tinggi. Namun, di sisi lain, kita menjadi konsumen pasif dari budaya negara lain. Produk hiburan lokal kita jarang mendapat tempat yang sama di platform global, sehingga ketergantungan pada tontonan Barat terus berlanjut.
Pertanyaannya, apakah Riverdale menantang struktur kekuasaan atau justru mempertahankannya? Serial ini menampilkan perempuan yang mandiri dan cerdas, seolah menantang patriarki. Namun, penekanan pada tubuh perempuan sebagai objek visual menunjukkan bahwa patriarki masih bercokol kuat. Serial ini juga menampilkan perlawanan remaja terhadap kekuasaan korup di kota mereka, tetapi di saat yang sama mendukung kapitalisme hiburan global karena diproduksi oleh industri besar yang tujuannya tetap mencari keuntungan. Struktur kekuasaan kapitalisme global tetap dipertahankan, meski dibungkus dengan narasi pemberontakan.
Refleksi kritisnya, Riverdale bukan hanya tontonan hiburan, tetapi juga mesin ideologi yang bekerja menanamkan nilai-nilai tertentu pada penontonnya, terutama remaja. Serial ini mengajarkan bahwa perempuan harus mandiri, tetapi tetap cantik sesuai standar Barat. Serial ini juga menanamkan gaya hidup Barat sebagai standar modernitas, meskipun tidak sesuai dengan konteks budaya lokal. Dan serial ini menegaskan bahwa kita hanya konsumen dari budaya populer global, bukan produsen.
Lalu, apa tindakan praksis yang bisa kita lakukan? Pertama, memperkuat literasi media kritis di kalangan remaja. Mengajak mereka menonton dengan bertanya: “Nilai apa yang dibawa serial ini? Siapa yang diuntungkan?” Kedua, mendorong sineas dan kreator muda Indonesia untuk berani menampilkan realitas remaja lokal dengan narasi yang kuat, bukan sekadar meniru formula serial Barat. Kita punya banyak cerita remaja Indonesia yang autentik dan bisa diangkat ke layar. Ketiga, menggunakan pendekatan postcolonial feminism untuk membaca lapisan penindasan ganda yang terjadi – di mana perempuan tidak hanya ditindas patriarki, tetapi juga sistem kapitalisme dan imperialisme budaya global.
Pada akhirnya, Riverdale hanyalah salah satu dari banyak serial populer yang kita konsumsi setiap hari. Namun, ia menjadi contoh jelas bagaimana hiburan tidak pernah netral. Ia membawa nilai, ideologi, dan cara pandang tertentu yang mempengaruhi identitas generasi muda. Sudah saatnya kita menjadi penonton yang tidak hanya menatap layar, tetapi juga berani menatap balik dan mempertanyakan struktur kekuasaan di balik layar. Hanya dengan cara itulah kita bisa menjadi generasi yang kritis dan tidak mudah didikte oleh arus budaya populer global.



