
Oleh: Melani Fitriya Handayani
JurnalPost.com – Pernahkah kamu berpikir bahwa karyawan di kantor bisa dinilai seperti mesin atau bangunan? Di mata akuntansi modern, Sumber Daya Manusia (SDM) bukan sekadar pengeluaran rutin, tapi justru dianggap sebagai aset tak kasat mata yang bisa memengaruhi nilai sebuah perusahaan.
Inilah yang disebut Akuntansi Sumber Daya Manusia (ASDM) — cabang akuntansi yang fokus pada pengukuran nilai dan kontribusi tenaga kerja secara finansial. Tujuannya? Memberikan informasi untuk mendukung keputusan strategis dalam pengelolaan SDM.
Mengapa Perusahaan Mulai Menghitung Nilai SDM?
Studi dari PwC menunjukkan bahwa 70% nilai perusahaan digital berasal dari aset tidak berwujud, termasuk SDM. Investasi pada pelatihan, pengembangan, dan retensi karyawan bukan lagi dianggap biaya, tapi investasi jangka panjang.
Bagaimana Cara Mengukurnya?
ASDM menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya:
Flamholtz’s Theory: Menilai individu dari produktivitas, potensi promosi, dan nilai ekonomi.
Likert & Bowers Theory: Menilai kinerja tim berdasarkan hasil akhir dan faktor intervening.
Misalnya, jika seorang manajer berpengalaman diperkirakan dapat meningkatkan omzet tim sebesar Rp500 juta per tahun, maka nilai kontribusinya bisa dicatat sebagai aset dalam jangka waktu tertentu.
Contoh Nyata di Indonesia
Perusahaan seperti Telkom Indonesia dan Bank Mandiri sudah mulai menekankan pengukuran nilai SDM berbasis kompetensi dan potensi. Telkom bahkan menggunakan dashboard berbasis data untuk memantau ROI dari pelatihan karyawan.
Manfaat ASDM untuk Perusahaan
Meningkatkan akurasi laporan keuangan, terutama dalam alokasi biaya pelatihan dan rekrutmen.
Memudahkan perencanaan tenaga kerja: siapa yang layak dipromosikan, siapa yang perlu ditingkatkan skill-nya.
Meningkatkan efisiensi SDM: menghindari pemborosan dan turnover tinggi.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Meski menjanjikan, penerapan ASDM tak mudah. Pengukuran kontribusi manusia bersifat subjektif dan sulit disamaratakan. Selain itu, belum ada standar akuntansi yang benar-benar mengatur ASDM secara detail di Indonesia.
Kesimpulan SDM = Aset
Di tengah era digital dan ketidakpastian ekonomi, SDM adalah aset yang paling fleksibel dan berpengaruh. Lewat ASDM, perusahaan bisa mulai menghargai manusia tak hanya dari gaji, tapi dari nilai yang mereka ciptakan.



