Oleh: Sherly Anggraeni
JurnalPost.com – Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan kesadaran akan pentingnya asupan gizi, semakin banyak produk makanan yang mengusung klaim “tinggi protein” di kemasannya. Mulai dari susu, sereal, camilan sehat, hingga mie instan, hampir semua berlomba menarik perhatian konsumen dengan label yang terdengar menyehatkan. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah kandungan protein yang tertera benar-benar sesuai dengan yang diklaim atau hanya strategi pemasaran semata?
Menurut Ardiansyah et al. (2022) Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang sangat dibutuhkan tubuh. Fungsinya penting dalam membangun jaringan tubuh, memperkuat sistem imun, dan membantu proses regenerasi sel. Bagi kelompok tertentu seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, atau atlet, kebutuhan akan protein bahkan lebih tinggi dari orang pada umumnya. Oleh karena itu, informasi kandungan protein dalam produk pangan harus didasarkan pada data yang valid dan terukur, bukan hanya asumsi.
Untuk memastikan kebenaran klaim tersebut, diperlukan analisis protein secara ilmiah. Sylvia et al. (2021) menyatakan bahwa proses analisis protein kuantitatif dapat menggunakan berbagai metode, seperti metode Kjeldahl, Dumas, atau spektrofotometri. Setiap metode memiliki prinsip kerja masing-masing, namun semuanya bertujuan untuk menghitung kadar nitrogen yang kemudian dikonversi menjadi kandungan protein total. Hasil dari analisis ini menjadi dasar pelabelan kandungan protein pada kemasan produk dan juga digunakan untuk memenuhi standar keamanan serta mutu yang ditetapkan oleh lembaga pengawas seperti BPOM.
Selain sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi, analisis protein juga menjadi alat penting dalam pengembangan produk pangan. Dengan data analisis yang akurat, produsen dapat merancang produk dengan kandungan protein yang sesuai untuk target pasar tertentu. Contohnya, produk tinggi protein untuk penderita malnutrisi, camilan sehat untuk diet tinggi protein, atau minuman olahraga dengan protein tambahan untuk pemulihan otot.
Namun sayangnya, tidak semua klaim “tinggi protein” di pasaran disertai dengan uji laboratorium yang memadai. Beberapa produk mungkin mencantumkan klaim tersebut berdasarkan estimasi kasar dari bahan baku, tanpa pengujian akhir terhadap produk jadi. Hal ini bisa menyesatkan konsumen, terutama mereka yang benar-benar bergantung pada produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Oleh karena itu, peran analisis protein sangat krusial dalam menjembatani kepentingan industri dan konsumen. Analisis ini memastikan bahwa produk yang dipasarkan benar-benar memenuhi standar yang dijanjikan. Konsumen pun berhak mendapatkan informasi yang jujur, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di era di mana konsumen semakin kritis dan cerdas, transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dengan analisis protein yang tepat, produsen tidak hanya menciptakan produk yang berkualitas, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang. Karena pada akhirnya, kepercayaan tidak dibentuk dari klaim semata, melainkan dari bukti nyata yang dapat diuji dan dibuktikan.
Daftar Pustaka
Ardiansyah, S., Sari, N. W., Sulistiawati, F., Kusmana, O., Mumthi’ah Al Kautsar, A., Saputra, A. W., dan Nengsih, W. (2022). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.
Sylvia, D., & Apriliana, V. (2021). Analisis kandungan protein yang terdapat dalam daun jambu biji (Psidium guajava L.) menggunakan metode kjeldahl & spektrofotometri uv-vis. Jurnal Farmagazine, 8(2), 64-72.



