• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Strategi dan Potensi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Benteng Kuto Panji, Belinyu: Kajian Sosial, Budaya, dan Lingkungan

Editor Redaksi
11 Juni 2025
in Artikel

Penulis: Nilam Zulfitri, Milia Rani, Steven, Tiara Fera Pragita, Angga Saputra, Kesumaninten Anjar Artini

JurnalPost.com – Benteng Kuto Panji yang terletak di Kecamatan Belinyu, ujung utara Pulau Bangka, merupakan salah satu aset sejarah yang sangat penting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pendirian benteng ini dimulai pada tahun 1664 dan selesai pada tahun 1669, dibangun oleh Raja Bong Khiung Fu, seorang penguasa dari dataran tinggi Tibet yang melarikan diri dari konflik politik di Tiongkok pada masa pemerintahan Kaisar Khian Lung. Dalam pelariannya, Raja Bong Khiung Fu membawa serta keluarga, pasukan, dan harta benda yang cukup besar, termasuk 972 kg emas dan tanaman jeruk Kingkit sebagai obat anti mabuk laut, yang merupakan tanaman langka dengan nilai ekonomis tinggi. Tujuan awalnya adalah mencari suaka politik di Pulau Jawa, namun rombongan tersebut terpaksa singgah di Belinyu setelah dikejar bajak laut di Selat Berhala. Memutuskan untuk menetap, Raja Bong Khiung Fu membangun benteng pertahanan yang kokoh di wilayah tersebut sebagai bentuk perlindungan dari serangan bajak laut dan ancaman eksternal lainnya. Benteng ini sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan kecil yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang dan wajib memberikan upeti berupa timah tiban.

Material pembangunan Benteng Kuto Panji terdiri dari bahan lokal dan material khusus yang dibawa langsung dari Tiongkok, dengan teknik unik menggunakan putih telur angsa sebagai perekat antara batu dan pasir. Benteng ini berdiri kokoh selama lebih dari satu abad hingga akhirnya runtuh pada tahun 1774 akibat serangan bertubi-tubi dari bajak laut. Menurut beberapa versi sejarah, Raja Bong Khiung Fu meninggal dunia dalam serangan tersebut, sementara putrinya, Chok Tian, dikabarkan meninggal setelah menceburkan diri ke sumur di sekitar benteng. Reruntuhan benteng masih dapat ditemukan di belakang Kantor Camat Belinyu dan hingga kini menjadi objek wisata sejarah yang terus dikembangkan. Seperti yang diungkapkan oleh Irwansyah Irwan dalam penelitiannya pada akhir (2018), Benteng Kuto Panji tidak hanya menjadi simbol perjuangan dan pelarian Raja Bong Khiung Fu, tetapi juga sebagai bukti nyata ketahanan masyarakat setempat menghadapi berbagai ancaman eksternal.

Hingga tahun 2025, upaya pelestarian dan pengembangan Benteng Kuto Panji terus berlanjut, didukung oleh pemerintah daerah dan komunitas lokal yang melihat potensi besar benteng ini sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Pengembangan ini diharapkan mampu mengangkat nilai ekonomis sekaligus menjaga warisan budaya serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan situs bersejarah. Benteng Kuto Panji tidak hanya sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sejarah yang hidup dan berkembang, yang hingga kini masih menyimpan berbagai kisah dan misteri menarik bagi para wisatawan maupun peneliti budaya.

Potensi Benteng Kuto Panji
Benteng Kuto Panji: Membingkai Potensi Lingkungan, Budaya, dan Sosial sebagai Pilar Keberlanjutan Wisata Budaya

1. Lingkungan: Materialitas Lokal dan Lanskap Sejarah sebagai Fondasi Ekologis
Benteng Kuto Panji tidak hanya merupakan sisa struktur pertahanan kolonial, tetapi juga representasi nyata dari hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya di masa lampau. Penggunaan batu laterit sebagai material utama konstruksi yang secara alami tersedia melimpah di wilayah Bangka bukanlah keputusan teknis semata, melainkan manifestasi kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan (Yulianti et al., 2020). Batu ini tidak hanya tahan terhadap pelapukan akibat iklim tropis-lembab, tetapi juga memerlukan energi yang jauh lebih rendah dalam proses ekstraksi dan penggunaannya dibandingkan material modern seperti semen atau baja. Ini menjadikannya simbol dari prinsip low embodied energy dalam konstruksi tradisional (Putrawirawan et al., 2022).

Lebih lanjut, lokasi benteng yang terletak di pesisir Selat Karimata membentuk lanskap ekologis-kultural yang kaya dan dinamis. Interaksi antara struktur kolonial dengan elemen alam seperti garis pantai berbatu, vegetasi khas pesisir seperti Pandanus tectorius, serta jalur migrasi burung-burung air menciptakan peluang besar untuk pengembangan konsep konservasi ekologis yang holistik.

Benteng ini bisa menjadi model percontohan untuk:

• Konservasi berbasis ekosistem mencakup pengintegrasian upaya pelestarian warisan budaya dengan restorasi vegetasi pesisir, yang berperan sebagai penahan alami untuk mencegah abrasi.

• Wisata rendah dampak (low-impact tourism) melibatkan pembatasan akses kendaraan bermotor, penerapan prinsip kapasitas dukung, dan transformasi area menjadi ruang pembelajaran tentang ekologi dan sejarah bagi wisatawan dan pelajar.

2. Budaya: Narasi Multilapis dan Reinterpretasi Identitas Kolektif
Benteng Kuto Panji adalah ruang budaya yang menyimpan banyak lapisan makna, yang sering kali disederhanakan dalam narasi wisata yang hanya menyoroti aspek kolonialisme. Namun, di balik simbol kekuasaan tersebut terdapat jejak-jejak perlawanan lokal terhadap eksploitasi tambang timah dan penjajahan ekonomi. Narasi alternatif ini merupakan bagian dari counter-memory yang memberikan akar pada identitas kultural masyarakat Bangka.

Lebih dari itu, materialitas batu laterit sendiri berfungsi sebagai artefak budaya yang merekam interaksi dan negosiasi antara teknik konstruksi lokal dan adaptasi teknologi kolonial Belanda. Dalam konteks ini, benteng menjadi penanda dari cultural hybridity, di mana nilai-nilai lokal dan asing melebur dalam bentuk arsitektur.
Potensi pengayaan makna budaya ini dapat dikembangkan melalui:

• Pelestarian cerita lisan yang berasal dari masyarakat sekitar khususnya para tetua Desa Kuto Panji menyimpan kenangan tentang kehidupan sehari-hari di masa kolonial. Cerita-cerita ini tidak hanya menjadi sumber sejarah alternatif, tetapi juga mencerminkan agensi masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.

• Program workshop yang mengikutsertakan tukang batu lokal untuk melestarikan teknik penyusunan laterit merupakan upaya revitalisasi teknik material tradisional, yang mengubah heritage menjadi warisan hidup yang dinamis dan melibatkan partisipasi langsung.
Dengan demikian, Benteng Kuto Panji dapat berfungsi sebagai arena dialektika sejarah, tempat di mana narasi resmi bersanding dan dinegosiasikan dengan memori kolektif masyarakat.

3. Sosial: Modal Sosial Desa dan Arsitektur Partisipasi
Desa Kuto Panji memiliki potensi sosial yang signifikan untuk mendukung keberlanjutan wisata berbasis komunitas. Masyarakat lokal menunjukkan rasa keterikatan yang kuat terhadap benteng dan lingkungan sekitarnya, memiliki struktur komunitas yang solid (dapat dilihat dari keberadaan pokdarwis dan karang taruna), serta keterampilan tradisional seperti kerajinan tangan, kuliner lokal, dan teknik penangkapan ikan. Namun, ketidakseimbangan dalam partisipasi dan distribusi manfaat dari sektor wisata sering kali menghalangi optimalisasi potensi ini.
Untuk mengatasi hal ini, pendekatan partisipatif dan berbasis keadilan sosial diperlukan. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:

• Pendekatan pemberdayaan berbasis commons yang diwujudkan melalui pengelolaan wisata oleh BUMDes atau koperasi desa, bertujuan untuk menjamin distribusi keuntungan ekonomi yang merata sekaligus memperkokoh rasa memiliki masyarakat terhadap warisan budaya mereka.

• Interpretasi berbasis komunitas melibatkan pelatihan pemandu lokal bukan hanya sebagai penyampai informasi sejarah, tetapi sebagai “narator makna” yang menghubungkan cerita benteng dengan nilai-nilai lokal seperti kepahlawanan, gotong royong, dan kearifan lingkungan.

• Jaringan kolaboratif trans-disipliner, yang menghubungkan komunitas lokal dengan akademisi dari universitas-universitas di Bangka serta pemerintah daerah, guna melaksanakan riset aksi partisipatif yang menelusuri dampak sosial-ekonomi dan kultural dari pengembangan wisata.

Klasifikasi Jenis Wisata
Keberadaan benteng ini menegaskan bahwa merujuk pada strategisnya wilayah Bangka Belitung dalam perdagangan dan pertahanan laut di mana Bong Khiung Fu sangat berpengaruh pada benteng ini karena salah satu pusat pertahanan mereka di waktu itu. Sebagian besar struktur benteng ini telah runtuh dan tertutup pada semak belukar namun mengisahkan keindahan arsitektur masa lalu yang sangat mengesankan. Sudah jelas bahwa jenis wisata Benteng Kuto Panji ini yaitu wisata budaya di mana memiliki sejarah yang memiliki makna mendalam sehingga membekas pada benteng tersebut. Bukan hanya itu dinding-dinding yang tersisa dari reruntuhan bangunan memberikan gambaran bagaimana benteng ini terlihat kokoh dan megah sehingga membuat pengunjung ini merasakan hal sejarah yang sangat kuat ketika berada di tempat wisata tersebut.

Seorang bupati yang mengatakan bahwa Benteng Kuto Panji sangatlah menarik para wisatawan dikarenakan peninggalan sejarah yang akan adanya perasaan penasaran jika berkunjung ke wisata ini, bukan hanya itu saja adanya dorongan pendanaan untuk meningkatkan kualitas objek wisata menjadi lebih baik kedepannya. Sehingga membuat fasilitas yang lebih baik bahkan pembangunan pembangunan secara terbaru Karena untuk menunjang keberlanjutan wisata tersebut. Masyarakat pun mendorong program pengembangan sektor pariwisata agar meningkatkan pendapatan asli dari daerah sehingga terwujud kesejahteraan masyarakat sekitar menjadi merata disebabkan oleh wisata yang telah terbangun dan direnovasi menjadi kebaruan menarik dimata masyarakat mancanegara.

Perencanaan dan Pengelolaan Destinasi
Pengembangan desa wisata berbasis keberlanjutan di sekitar Benteng Kuto Panji di Belinyu, Bangka, memerlukan rancangan tata ruang yang matang. Tujuannya adalah melestarikan warisan sejarah, memberdayakan masyarakat lokal, dan menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menawarkan pengalaman wisata yang unik.

Konsep Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan
Konsep utama yang diusung adalah Ekowisata dan Wisata Sejarah Berbasis Komunitas. Ini berarti:
• Pelestarian Situs Sejarah: Benteng Kuto Panji menjadi daya tarik utama yang dilindungi dan dikelola secara profesional.
• Pemberdayaan Masyarakat: Masyarakat lokal menjadi subjek utama pengembangan, bukan hanya objek. Mereka terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, dan merasakan manfaat ekonomi dari pariwisata.
• Edukasi dan Interpretasi: Menyediakan informasi yang kaya tentang sejarah benteng, budaya lokal, dan lingkungan sekitar.
• Ramah Lingkungan: Meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan melalui pengelolaan limbah, penggunaan energi terbarukan, dan konservasi alam.
• Konektivitas: Membangun konektivitas antara Benteng Kuto Panji dengan potensi wisata lain di Belinyu dan sekitarnya.

Zonasi Tata Ruang
Zonasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan mengatur aktivitas:

A. Zona Inti: Kawasan Benteng Kuto Panji
• Area Konservasi dan Revitalisasi: Fokus pada restorasi dan pemeliharaan benteng. Hanya kegiatan penelitian, edukasi, dan kunjungan terbatas yang diperbolehkan.
• Pusat Informasi dan Interpretasi: Lokasi untuk pusat informasi wisatawan, museum mini tentang sejarah benteng dan Belinyu, serta area pameran artefak.
• Amphitheater/Area Pertunjukan: Ruang terbuka untuk pertunjukan seni budaya lokal atau reka ulang sejarah.

B. Zona Penyangga: Area di Sekitar Benteng
• Homestay dan Penginapan Lokal: Area khusus untuk pengembangan penginapan yang dikelola masyarakat lokal, dengan arsitektur tradisional dan suasana pedesaan.
• Pusat Kuliner dan Kerajinan: Sentra kuliner khas Belinyu dan toko suvenir yang menjual produk kerajinan tangan masyarakat setempat.
• Area Parkir dan Pusat Transportasi Lokal: Disediakan area parkir yang memadai dan titik penjemputan/penurunan wisatawan untuk transportasi lokal (misalnya, becak wisata, angkutan desa).
• Area Hijau/Taman Tematik: Ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan untuk bersantai, piknik, atau kegiatan rekreatif ringan.

Infrastruktur dan Fasilitas Pendukung
• Aksesibilitas: Peningkatan kualitas jalan menuju benteng dan desa wisata, serta rambu penunjuk arah yang jelas.
• Air Bersih dan Sanitasi: Penyediaan akses air bersih yang memadai dan pengelolaan limbah yang efektif (misalnya, IPAL komunal).
• Listrik dan Telekomunikasi: Memastikan ketersediaan listrik yang stabil dan jaringan telekomunikasi yang baik.
• Pusat Keamanan dan Kesehatan: Pos keamanan dan fasilitas kesehatan dasar.
• Informasi dan Komunikasi: Papan informasi multilingual, brosur, dan promosi online.

Strategi dan Perencanaan
Setelah melakukan pengamatan langsung ke Benteng Kuto Panji, ada beberapa hal yang kemudian perlu diperhatikan untuk keberlanjutan dari tempat wisata ini, yang mana masih banyak sekali hal yang perlu dilakukan untuk menopang keberlangsungan dan menjaga peninggalan sejarah ini. Strategi dan perencanaan yang ideal perlu dilakukan dan juga perlu partisipasi dari semua kalangan untuk terlibat langsung dalam pengelolaan wisata benteng kunto panji baik itu dari masyarakat lokal maupun pemerintah setempat. Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk keberlanjutan wisata cagar budaya Benteng Kuto Panji,

1. Pelestarian dan Pengelolaan Terencana Situs Sejarah Benteng Kuto Panji
Memastikan pelestarian fisik benteng sebagai cagar budaya nasional memerlukan pendekatan renovasi dan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala dan terencana dengan sangat hati-hati agar nilai sejarah dan keaslian bangunan tetap terjaga. Renovasi yang dilakukan harus mempertahankan struktur asli bangunan sehingga bentuk luar dan nilai kultural tetap utuh tanpa mengalami perubahan signifikan. Selain itu, pemeliharaan berkala meliputi perbaikan struktur bangunan yang mulai mengalami degradasi, pengaturan drainase yang sesuai dengan kondisi asli, serta penghijauan yang memperhatikan jenis tanaman yang tidak merusak bangunan, agar kawasan benteng tidak terlihat gersang dan tetap mendukung kelestarian lingkungan sekitar.

Secara keseluruhan, pelestarian benteng sebagai cagar budaya nasional harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, mengutamakan aspek konservasi nilai sejarah, keaslian arsitektur, serta peningkatan fasilitas pendukung, sehingga benteng tidak hanya terlindungi secara fisik, tetapi juga dapat berperan sebagai media edukasi dan kebanggaan budaya.

Kemudian Mengintegrasikan benteng ke dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) memerlukan zonasi yang jelas dan terstruktur untuk memastikan kelestarian benteng sebagai cagar budaya sekaligus mengatur aktivitas wisata secara efektif. Zonasi ini harus membagi area benteng dan sekitarnya ke dalam beberapa zona dengan fungsi yang berbeda, seperti zona inti yang meliputi bangunan utama benteng, zona penyangga yang berfungsi sebagai area pendukung dengan batasan aktivitas tertentu, dan zona pengembangan yang dapat dimanfaatkan untuk fasilitas pariwisata yang tidak mengganggu nilai sejarah benteng. Sebagai contoh, zona inti harus dilindungi sepenuhnya dari aktivitas komersial yang berlebihan dan hanya diperuntukkan bagi kegiatan edukasi, penelitian, serta pemeliharaan bangunan. Zona penyangga dapat digunakan untuk galeri seni, museum kecil, atau pusat informasi yang mendukung pemahaman pengunjung tentang sejarah dan nilai budaya benteng. Sementara itu, zona pengembangan dapat mencakup area parkir, pusat kuliner, atau toko suvenir yang dikelola dengan memperhatikan estetika dan kelestarian lingkungan.

Integrasi ini juga harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan sosial. Jumlah pengunjung yang diizinkan masuk ke area benteng harus dibatasi untuk mencegah kerusakan fisik dan gangguan terhadap nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Pengaturan jam buka, jalur kunjungan, serta penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai juga menjadi bagian penting dari pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata benteng sangat penting untuk memastikan manfaat ekonomi yang adil dan meningkatkan rasa memiliki terhadap warisan budaya ini. Program pelatihan bagi masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, pengelola toko suvenir, atau penyedia jasa lainnya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka sekaligus mendukung kelestarian benteng. Dengan demikian, integrasi benteng ke dalam RIPPDA melalui zonasi yang jelas dan pengelolaan yang berkelanjutan akan menciptakan sinergi antara pelestarian warisan budaya dan pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab. Benteng tidak hanya menjadi objek wisata yang menarik, tetapi juga pusat edukasi dan inspirasi bagi generasi mendatang, serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah.

2. Peningkatan Infrastruktur dan Fasilitas Pendukung
Meningkatkan aksesibilitas ke lokasi benteng memerlukan serangkaian upaya perbaikan infrastruktur jalan yang komprehensif, mulai dari peningkatan kualitas permukaan jalan hingga pelebaran jalan di titik-titik tertentu untuk mengurangi kemacetan. Perbaikan jalan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dengan menggunakan material yang ramah lingkungan dan metode konstruksi yang tidak merusak lingkungan sekitar. Selain itu, perlu dilakukan penataan sistem drainase yang efektif untuk mencegah genangan air yang dapat mempercepat kerusakan jalan. Rambu-rambu penunjuk arah yang jelas dan informatif juga harus dipasang di sepanjang rute menuju benteng, termasuk informasi mengenai jarak, waktu tempuh, dan atraksi wisata lainnya di sekitar benteng.

Selain perbaikan jalan, peningkatan aksesibilitas juga mencakup penyediaan transportasi publik yang memadai, seperti bus atau angkutan kota yang secara rutin melayani rute menuju benteng. Hal ini akan memudahkan wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi untuk mencapai lokasi dengan nyaman dan terjangkau. Selain itu, perlu dipertimbangkan pembangunan fasilitas pendukung seperti area parkir yang luas dan aman, serta jalur pedestrian yang nyaman dan ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Jalur pedestrian harus dilengkapi dengan penerangan yang memadai dan fasilitas istirahat seperti bangku taman dan area teduh.

Dengan demikian, peningkatan aksesibilitas ke lokasi benteng tidak hanya akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dengan membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Infrastruktur yang baik akan menciptakan pengalaman perjalanan yang menyenangkan dan berkesan bagi wisatawan, sehingga mereka akan lebih tertarik untuk kembali berkunjung dan merekomendasikan benteng sebagai destinasi wisata yang menarik.

3. Pengembangan wisata edukasi dan budaya
Mengembangkan program wisata edukasi yang mengangkat nilai sejarah benteng memerlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek budaya, ekonomi, dan politik masa lalu, serta keterkaitan antara masyarakat lokal dan Tiongkok jika relevan. Program ini harus dirancang untuk berbagai kelompok usia dan minat, mulai dari anak-anak sekolah hingga wisatawan dewasa, dengan menggunakan metode pembelajaran yang interaktif dan menarik. Misalnya, dapat dibuat tur berpemandu yang menceritakan sejarah benteng secara kronologis, dilengkapi dengan visualisasi berupa foto-foto lama, peta, dan artefak yang ditemukan di sekitar benteng. Selain itu, dapat diadakan workshop atau seminar yang membahas topik-topik spesifik, seperti arsitektur benteng, kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada masa lalu, atau hubungan antara benteng dan peristiwa sejarah penting lainnya.

Dengan demikian, pengembangan program wisata edukasi yang komprehensif dan inovatif akan menjadikan benteng tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pelestarian budaya yang berkelanjutan. Program ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya, serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan peluang usaha baru.

4. Promosi dan Pemasaran wisata
Perlu dilakukan promosi yang lebih masif baik itu di media sosial ataupun media massa, sejauh ini belum ada aktivitas promosi yang inovatif, maka dari itu promosi yang inovatif dan berulang harus dilakukan. Kemudian Mengadakan event dan festival budaya yang berkaitan dengan sejarah benteng dan budaya lokal adalah strategi efektif untuk menarik pengunjung dari berbagai kalangan, baik lokal maupun mancanegara. Event ini dapat dirancang dengan menggabungkan unsur sejarah, seni, dan hiburan, serta melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat lokal untuk menciptakan pengalaman yang autentik dan berkesan. Misalnya, dapat diadakan festival rekonstruksi sejarah yang menampilkan adegan-adegan penting yang pernah terjadi di benteng, lengkap dengan kostum dan peralatan perang yang sesuai dengan zamannya. Selain itu, dapat diselenggarakan pertunjukan seni tradisional, seperti tari-tarian, musik, dan teater, yang mengangkat cerita-cerita legenda atau peristiwa sejarah yang berkaitan dengan benteng dan budaya lokal.

Festival budaya juga dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal, seperti pameran kerajinan tangan, kuliner tradisional, dan demonstrasi pembuatan produk-produk lokal. Hal ini tidak hanya akan menarik minat wisatawan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mempromosikan produk-produk mereka dan meningkatkan pendapatan. Selain itu, dapat diadakan kompetisi atau lomba yang berkaitan dengan sejarah dan budaya benteng, seperti lomba menulis esai, lomba fotografi, atau lomba desain kostum tradisional. Pemenang lomba dapat diberikan hadiah menarik dan kesempatan untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan publik

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.