
JurnalPost.com – Beberapa waktu lalu pernah viral suatu brand sosis berisi keju yang mirip dengan sosis yang dijual di sebuah toko swalayan. Kemudian masyarakat berbondong-bondong membeli sosis tersebut dan membuat konten mukbang. Ada lagi merk sosis lainnya yang sifatnya ready to eat dan biasanya disimpan di kulkas toko swalayan. Sosis ini banyak sekali penggemarnya, bahkan sering dijadikan bekal untuk anak-anak. Sebagian orang menengah mungkin sudah mengalihkan sosis pasar dan memilih sosis yang dijual di supermarket dengan alasan higenis. Tapi, bagaimana kita tau suatu sosis itu dikatakan higenis?
Sosis seperti yang kita tahu biasanya dibuat dari daging ayam ataupun sapi. Ada juga yang dibuat dari daging babi, namun penjualannya dibatasi di Indonesia karena alasan agama. Sosis sering kita jumpai di toko-toko frozen food, pasar tradisional, bahkan swalayan dekat rumah. Biasanya, orang-orang lebih memilih untuk membeli sosis yang ada di toko frozen food atau swalayan dibandingkan di pasaran. Pilihan masyarakat ini disebabkan karena masyarakat lebih percaya kalau produk pangan yang dijual di swalayan lebih bersih dibandingkan yang dijual di pasar tradisional.
Kepercayaan masyarakat ini juga didukung oleh fakta-fakta yang dipaparkan dalam jurnal ataupun artikel ilmiah. Jurnal atau artikel ini mengulas bagaimana keadaan atau perbandingan makanan yang dijual di swalayan dengan yang dijual di pasar tradisional. Cara mengetahui kualitas atau kebersihan pangan perlu dilakukan dengan cara analisis. Pada kasus kebersihan, biasanya yang dianalisa adalah ada atau tidaknya bakteri jahat di dalam bahan pangan. Cara seperti ini juga biasa dilakukan BPOM dalam menjaga keamanan pangan dari keracunan massal.
Nama-nama bakteri jahat yang sudah dikenali masyarakat karena banyaknya konten edukasi di media sosial adalah Salmonella dan Escherichia coli. Kedua bakteri itu menyebabkan gangguan dan sakit pada pencernaan. Masyarakat juga perlu mengetahui salah satu bakteri yang paling sering menginfeksi manusia di dunia, yaitu Staphylococcus aureus atau S. aureus. Bakteri ini dapat menyebabkan impetigo, abses kulit, pneumonia, endokarditis, osteomielitis, dan sindrom syok toksik.
Cara untuk menghindari makanan dari cemaran bakteri jahat S. aureus ini adalah dengan melakukan analisis pangan dengan uji lab mikroba. Biasanya, lembaga keamanan pangan akan mengambil sampel produk dan membawanya ke dalam laboratorium. Sampel produk pangan itu kemudian diuji dalam suatu cawan petri untuk mengidentifikasi bakterinya. Hal itu dilakukan agar S. aureus yang ukuranya sangat kecil dapat dilihat oleh mata dengan munculnya beberapa pertanda. Produk pangan yang tercemar S. aureus akan menghasilkan tanda-tanda seperti gambar di bawah ini.

Setelahnya, lembaga keamanan pangan dapat merilis pengumuman tentang adanya cemaran pada produk agar pabrik dapat menghentikan produksi sementara untuk perbaikan kualitas. Cemaran mikroba ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan penyimpanan. Maka tidak heran jika lingkungan pasar tradisional yang tidak tertata lebih berpotensi mencemari produk pangan dibandingkan lingkungan swalayan yang bersih dan tertata. Oleh karena itu, pengawasan dan standar kebersihan yang ketat perlu diterapkan guna memastikan keamanan produk pangan bagi konsumen dingan cara melakukan analisisa pada pangan.
Retno Asih Nurjannah, Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.




