
JurnalPost.com – Pemetaan spasial perikanan atau fishing spatial mapping adalah salah satu upaya dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Pemetaan spasial memanfaatkan teknologi yang digunakan untuk menggambarkan, memvisualisasikan dan menganalisis potensi sumber daya ikan di wilayah perairan tertentu. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan zona penangkapan yang efisien dan area konservasi yang perlu dilindungi. Manfaat utama dari pemetaan spasial perikanan adalah membantu nelayan dalam menentukan lokasi penangkapan ikan yang lebih efisien berdasarkan kondisi lingkungan seperti suhu permukaan laut dan cuaca, sehingga dapat meningkatkan hasil tangkapan, mengurangi risiko kerugian, serta mendukung pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Pemetaan spasial perikanan memberikan berbagai dampak positif dalam pengelolaan sumber daya laut (Rachmadhi et al., 2024)
Metode pemetaan spasial yang digunakan secara signifikan melibatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh, di mana keduanya menjadi komponen utama dalam menentukan zona penangkapan ikan potensial. Data lingkungan yang diperoleh dari penginderaan jauh, termasuk konsentrasi Klorofil-a (CHL) dan Suhu Permukaan Laut (SST) dari satelit MODIS-Aqua, serta Anomali Tinggi Permukaan Laut (SSHA), Arus Geostropik (GC), dan Energi Kinetik Eddy (EKE) dari AVISO/CMEMS, diolah menggunakan perangkat lunak ESRI ArcGIS untuk interpolasi spasial. Selanjutnya, data ini digunakan sebagai variabel prediktor dalam model Random Forest (RF) guna memprediksi hasil tangkapan per unit upaya (CPUE), yang kemudian dianalisis menggunakan metode Getis-Ord Gi untuk mengidentifikasi pola hotspot dan coldspot. Hotspot CPUE merujuk pada area atau zona geografis di mana konsentrasi hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) ikan Rastrelliger kanagurta secara statistik signifikan tinggi. Coldspot CPUE adalah area atau zona di mana konsentrasi hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) secara statistik signifikan rendah. Integrasi penginderaan jauh sebagai sumber data lingkungan utama serta SIG sebagai alat analisis spasial memungkinkan penelitian ini menghasilkan peta yang memberikan gambaran akurat mengenai distribusi ikan target. Hasil pemetaan ini berperan penting dalam membantu nelayan dan pemangku kebijakan merancang zona penangkapan ikan yang lebih efektif dan berkelanjutan (Tan & Mustapha, 2023).
Peneliti dari University of the Aegean mengembangkan metode baru untuk memantau populasi ikan pelagis kecil seperti ikan teri dan sarden menggunakan data satelit Sentinel-3. Pendekatan ini menjawab keterbatasan metode tradisional yang mahal dan sempit cakupannya. Dengan memanfaatkan data klorofil-a dan suhu permukaan laut dari sensor OLCI dan SLSTR, model ini mampu memprediksi habitat ikan berdasarkan kondisi lingkungan seperti ketersediaan fitoplankton dan keberadaan front termal. Meski masih terbatas pada data permukaan laut, penelitian ini dinilai efektif mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan, khususnya di Laut Aegea Utara (Spondylidis dkk., 2024).

Berdasarkan hasil pengolahan data Peta Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) di Perairan Trenggalek pada Mei 2021, teridentifikasi 41 titik zona potensi penangkapan ikan. Zona-zona ini cenderung meningkat ke arah barat yang diduga dipengaruhi oleh variabilitas Suhu Permukaan Laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a. Rentang suhu berkisar antara 25°C–32°C, sedangkan konsentrasi klorofil-a berada pada kisaran 0,1–2 mg/m³. Suhu dan klorofil-a yang tinggi menjadi indikator keberadaan fitoplankton sebagai pakan alami ikan, yang turut menentukan potensi tangkapan. Sebaran zona potensi penangkapan di Trenggalek relatif merata dari pantai hingga laut lepas, namun jumlahnya masih lebih sedikit dibandingkan wilayah Pacitan dan Tulungagung.
Sebagai pembanding, Analisis lebih lanjut yang dilakukan oleh Rahmadani dan Jaelani pada tahun 2020 pada perairan selatan Jawa menunjukkan suhu permukaan laut yang tinggi, yaitu 29°C–33°C, dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Daerah yang dekat dengan daratan memiliki konsentrasi klorofil-a lebih tinggi (0,2–1,58 μg/L) dibandingkan dengan perairan lepas (0,05–0,42 μg/L). Konsentrasi klorofil-a di atas 0,2 mg/L menandakan keberadaan fitoplankton dalam jumlah cukup untuk mendukung kehidupan ikan-ikan bernilai ekonomis. Berdasarkan pengolahan data SPL dan klorofil-a, teridentifikasi 22 titik zona potensi penangkapan ikan di wilayah Perairan Selatan Jawa bagian timur.
Penulis :
Mohammad Aqeel Zaydan (225080601111041)
Niva Cahya Tiara Ramadhina (225080601111034)
Rachel Dwirisky Anshari (225080601111038)
Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya
Referensi :
Rachmadi, R., Triloka, J., Irianto, S. Y., & Sriyanto, S. (2024). Pemanfaatan SIG Untuk Model Pemetaan Zona Potensial Penangkapan Ikan di Perairan Lampung. JUPITER: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Komputer, 16(2), 659-669.
Spondylidis, S., Giannoulaki, M., Machias, A., Batzakas, I., & Topouzelis, K. (2024). A geospatial web service for small pelagic fish spatial distribution modeling and mapping with remote sensing. Remote Sensing Applications: Society and Environment, 36, 101322.
Tan, M. K., & Mustapha, M. A. (2023). Application of the random forest algorithm for mapping potential fishing zones of Rastrelliger kanagurta off the east coast of peninsular Malaysia. Regional Studies in Marine Science, 60, 102881.



