
JurnalPost.com – Sektor industri merupakan penyumbang konsumsi energi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (2024), sekitar 35% energi nasional digunakan oleh sektor ini. Namun, ironisnya, hanya 12% dari total konsumsi tersebut yang berasal dari sumber energi terbarukan. Padahal, pemanfaatan energi bersih seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbukti dapat menekan biaya produksi hingga 40%. Dalam konteks ini, peran Teknik Industri sangat krusial, terutama dalam mendesain sistem produksi yang efisien dan berkelanjutan melalui pendekatan seperti audit energi, integrasi smart grid, serta analisis biaya siklus hidup.
Langkah awal dalam efisiensi energi adalah mengetahui di mana energi terbuang. Insinyur industri memanfaatkan teknologi seperti thermal imaging dan perangkat lunak simulasi (misalnya EnergyPlus) untuk memetakan konsumsi energi di setiap lini produksi. Studi dari Institut Teknologi Bandung (2023) menunjukkan bahwa 30% pemborosan energi di industri tekstil berasal dari mesin yang tidak dirawat dengan baik. Melalui audit energi, titik-titik inefisiensi ini dapat dikenali dan diperbaiki.
Integrasi PLTS dengan Sistem Produksi
Penerapan PLTS bukan sekadar memasang panel di atap pabrik. Teknik Industri berperan dalam merancang sistem sesuai beban energi mesin, pola kerja pabrik (shift pagi, siang, malam), hingga manajemen penyimpanan energi. Contohnya, PT ABC di Jawa Timur berhasil mengombinasikan PLTS dengan jaringan listrik konvensional. Mereka tetap dapat beroperasi di malam hari dengan bantuan battery storage, dan mampu mencapai Return on Investment (ROI) hanya dalam tiga tahun (ASEAN Centre for Energy, 2024).
Smart Grid dan IoT: Pemantauan Real-Time
Pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan smart grid menjadi elemen penting dalam efisiensi energi. Sensor cerdas dipasang untuk memantau penggunaan energi secara langsung, mendeteksi potensi kerusakan mesin akibat overloading, serta mengatur aliran listrik dari PLTS ke mesin prioritas seperti sistem pendingin. Menurut laporan McKinsey (2023), penggunaan smart grid mampu mengurangi downtime produksi hingga 25%.
Tidak bisa dipungkiri, penerapan energi hijau menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah tingginya biaya awal, terutama untuk penyimpanan energi seperti baterai lithium yang berkisar antara Rp15–20 juta per kWh. Selain itu, adaptasi pekerja terhadap sistem baru juga menjadi hambatan. Teknik Industri menawarkan solusi melalui analisis Life Cycle Cost yang menunjukkan bahwa investasi pada PLTS lebih hemat dalam jangka panjang. Ditambah lagi, pelatihan tenaga kerja mengenai green skills sangat diperlukan agar transisi berlangsung lancar.
Peralihan menuju energi terbarukan bukan sekadar opsi, tetapi keharusan bagi industri di era modern. Di sinilah lulusan Teknik Industri memiliki tanggung jawab besar dalam merancang sistem produksi yang efisien, hemat energi, dan ramah lingkungan. Ke depannya, teknologi seperti hidrogen hijau akan menjadi alternatif penting, dan para insinyur industri akan berada di garis depan inovasi tersebut.
“Bagi industri kecil dan menengah, langkah awal yang dapat dilakukan adalah melakukan audit energi secara sederhana. Manfaatkan pula berbagai insentif yang disediakan pemerintah untuk pemasangan PLTS atap. Investasi kecil hari ini bisa menjadi penghematan besar di masa depan.”
Ditulis oleh: Jonathan Rahardian Putra Anlista
Program Studi: Teknik Indsutri Universitas Airlangga
Refrensi
1. Kementerian Perindustrian. (2024). Laporan Adopsi Energi Terbarukan di Sektor Industri.
2. ASEAN Centre for Energy. (2024). ROI Analysis of Solar PV in Indonesian Manufacturing.
3. McKinsey & Company. (2023). Smart Grid Implementation in Southeast Asia.



