
(Oleh: Nashrul Mu’minin – Content Writer Yogyakarta)
JurnalPost.com – Film Norma yang akan tayang Lebaran ini bukan sekadar kisah mertua dan menantu “bejat”. Ini adalah ujian akidah bagi penonton Muslim. Bagaimana mungkin di bulan suci, di hari kemenangan, layar-layar justru dipenuhi adegan hubungan haram yang dikemas sebagai hiburan?
Allah berfirman:
*وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا*
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Ayat ini jelas mengharamkan bukan hanya zina, tapi juga segala pendekatan kepadanya. Lantas, bagaimana dengan menonton adegan zina yang disajikan secara dramatis? Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fatawa Mu’ashirah menyatakan: “Menyaksikan kemaksiatan tanpa keperluan syar’i adalah bentuk tasyabbuh (menyerupai) pelakunya.”
Film ini mengklaim sebagai “kisah nyata”, tapi justru berbahaya. Sebab, Nabi ﷺ bersabda:
*مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ…*
“Siapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya…” (HR. Muslim)
Jika kisah ini benar terjadi, seharusnya dijadikan pelajaran untuk ditutupi (dengan taubat), bukan diumbar sebagai tontonan. Ini bertentangan dengan prinsip satr al-‘awrah(menutup aib) dalam Islam.
Film Norma: Antara Mertua dan Menantu yang tayang pada Lebaran 2025 membawa penonton ke dalam kisah nyata yang mengguncang nilai-nilai moral dan sosial. Diangkat dari kisah viral Norma Risma pada 2022, film ini mengisahkan perselingkuhan antara seorang pria dengan ibu mertuanya sendiri, yang merusak dua pernikahan sekaligus
Dalam perspektif Islam, tindakan semacam ini jelas dilarang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
> “وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا”
> “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
> (QS. Al-Isra: 32)
Hadis Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan tentang bahaya berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram:
> “إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ”
> “Jauhilah masuk ke (ruangan) wanita!”
> (HR. Bukhari-Muslim)
Ulama menekankan pentingnya menjaga batasan dalam hubungan keluarga untuk mencegah fitnah dan dosa. Perselingkuhan antara mertua dan menantu bukan hanya melanggar norma agama, tetapi juga menghancurkan struktur keluarga dan masyarakat.
Beberapa ulama Indonesia seperti Buya Yahya (Al-Bahjah Cirebon) tegas menyatakan: “Film yang menampilkan kisah zina, meski berakhir dengan ‘pelajaran moral’, tetap haram ditonton karena mempertontonkan ‘aurat dosa’.” Sementara kelompok liberal beralasan: “Ini hanya fiksi untuk edukasi.” Di sinilah kontradiksi terjadi.
Allah sudah memperingatkan:
*إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ*
“Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji (fahisyah) di kalangan orang beriman, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 19)
Pertanyaannya: Apakah menayangkan adegan mertua-menantu berselingkuh di Layar Lebaran bukan termasuk “menyebarkan fahisyah”?
🤝Salam untuk Penonton
Bagi yang tetap ingin menonton, renungkan hadis:
*كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى…*
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan…” (HR. Bukhari)
Jangan sampai tiket nonton Norma menjadi tiket penolakan terhadap surga. Lebaran seharusnya diisi dengan takbir, bukan dengan membayar untuk melihat kemaksiatan.
🤝Salam Sebagai penulis dari Content Yogyakarta,
“Saya mengajak pembaca untuk menjadikan film ini sebagai cermin untuk introspeksi. Mari kita perkuat nilai-nilai keluarga dan menjaga kehormatan dalam setiap hubungan”.



