• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Toxic Positivity: Ketika Kebahagiaan Menjadi Beban

Editor Redaksi
11 Maret 2025
in Artikel
Emosi Lain Selain Bahagia (pixabay/AbsolutVision)

Toxic positivity adalah fenomena yang kerap terdengar dalam kehidupan masyarakat modern. Mengutip berdasarkan hasil survei Ipsos Global 2024, 82% masyarakat Indonesia merasa bahagia, dan menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga dalam kebahagiaan global. Survei ini mengukur tingkat kebahagiaan seseorang melalui berbagai faktor seperti hubungan dengan keluarga, hubungan dengan teman, kesejahteraan, keuangan, kondisi politik, dan kondisi ekonomi. Survei menunjukkan bahwa individu merasa puas dalam hubungan sosial, tetapi banyak yang merasa tidak puas dengan situasi politik dan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan untuk tampil bahagia, realitas kehidupan seringkali lebih kompleks.

Dan dibalik hasil survei yang menunjukkan angka tinggi ini, muncul pertanyaan penting: apakah semua orang benar-benar bahagia, ataukah ada yang merasa tertekan untuk merasa ‘bahagia’ karena norma sosial yang ada?.

“Cara umum yang digunakan untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan berfokus pada sisi positif, emosi positif, dan sifat positif. Ketiganya berada di bawah payung besar teori Psikologi Positif oleh Martin Seligman, yang selanjutnya akan disebut sebagai konsep positif.” (Putra et al., 2023). Namun, seiring berjalannya waktu terjadi miskonsepsi terhadap konsep positif ini. Seperti pada konteks relasi atau hubungan sosial, contoh ungkapan seperti: “kamu masih mending, lah aku?”, atau “kamu harus bersyukur, masih banyak orang yang lebih buruk kondisinya”, atau bisa juga seperti ungkapan “gitu aja kok nangis, harus tetap kuat dong!”.

Ungkapan-ungkapan seperti ini mungkin ditujukan agar memberikan dukungan, namun dari sisi subjek yang sedang berada dalam kondisi yang butuh diperhatikan justru terdengar menyudutkan, dan akan memunculkan perasaan bersalah karena tidak dapat melihat kondisi yang ada secara positif. Tidak hanya pada kehidupan real-life, dilansir dari laman alodokter.com, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat membuat seseorang terjebak dalam toxic positivity.

Konsep untuk selalu positif tersebut yang disebut dengan toxic positivity. Jadi, dapat dikatakan bahwa toxic positivity adalah kepercayaan akan konsep positif yang berlebihan, menuntut seseorang untuk selalu positif di segala keadaan dan mengabaikan emosi negatif. Melansir dari laman cnnindonesia.com, toxic positivity dapat membahayakan bagi subjek yang mengalami itu secara nyata, mereka bisa saja akan memiliki masalah dalam memandang diri mereka, perasaan seperti rendah diri, stress, atau bahkan depresi dapat muncul karena toxic positivity ini.

Berikut adalah cara-cara yang dapat diterapkan agar dapat terlepas dari toxic positivity, agar toxic positivity tidak mengganggu kehidupan kita mengutip dari dr. Jiemi Adrian, Sp. KJ. dalam saluran YouTube beliau dengan judul video “4 Alasan Kita Jadi Toxic Positivity”:

  1. Ketahui bahwa setiap emosi setara

Dalam bermasyarakat saat ini, kita sudah terlalu terbiasa mengelompokkan emosi menjadi kelompok positif dan negatif, bukan sesuatu yang salah sebenarnya, tetapi usahakan untuk tidak langsung menilai bahwa emosi yang kita anggap negatif itu adalah emosi yang harus segera kita musnahkan ketika dirasa kita sedang mengalaminya. Karena dalam hidup seorang manusia tidak mungkin akan selalu dalam keadaan emosi yang positif.

  1. Beri waktu untuk mengenali emosi

Umumnya orang yang terkena toxic positivity cenderung tidak diberi waktu yang cukup untuk merespon dan menyikapi dengan tepat emosi yang dirasakan, lingkungan sekitarnya selalu mendorongnya untuk menutupi emosi-emosi yang dinilai sebagai ”emosi negatif”.

  1. Resapi emosi yang kamu rasakan perlahan

Emosi itu bisa diibaratkan dengan batu baterai yang tidak akan bisa menyala kalau tidak ada sisi negatif dan positif, hidup manusia pun sama, emosi negatif dan positif itu setara, hanya saja jangan terlalu larut dalam emosi yang membuatmu tidak nyaman. Jadi, nikmati dan resapi semua emosi agar hidup tetap seimbang.

Dalam menjalani kehidupan ini setiap manusia akan menghadapi berbagai keadaan, sebagai manusia kita tidak harus selalu dalam kondisi yang bahagia karena segala emosi yang kita rasa berhak untuk dipahami dan dirangkul bersama.

Penulis: Intan Sya’ban Rina, Universitas Syiah Kuala

Sumber:

https://www.ipsos.com/en-id/global-happiness-indonesia-2024

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20211210115136-260-732396/mengenal-apa-itu-toxic-positivity-dan-cara-menghadapinya/1

Putra, R. P., Ramadhanti, A., Rahajeng, A. S., Fadil, A., & Salsyabila, N. (2023). Toxic Positivity in Adolescents: An Attitude of Always Being Positive in Every Situation. Journal of Psychology and Instruction, 7(1), 11-21. https://doi.org/10.23887/jopai.v7i1.60616

https://www.alodokter.com/mengenal-lebih-jauh-tentang-toxic-positivity

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.