
JurnalPost.com – Budaya menghisap shisa atau hookah merupakan salah satu tradisi sosial yang paling dikenal di dunia Arab. Praktik ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Timur Tengah selama berabad-abad. Meskipun pada awalnya merupakan tradisi yang terbatas pada wilayah tertentu, shisa kini telah melintasi batas budaya dan menjadi populer di berbagai belahan dunia.
Sejarah dan Asal-Usul Shisa
Asal-usul shisa dapat ditelusuri hingga abad ke-16 di India dan Persia. Shisa awalnya dirancang sebagai alat untuk menghisap tembakau dengan menggunakan sistem penyaringan air. Dari Persia, tradisi ini menyebar ke Kekaisaran Ottoman dan kemudian ke wilayah Arab lainnya, seperti Mesir, Suriah, dan Lebanon. Selama berabad-abad, shisa telah mengalami berbagai modifikasi, baik dalam desain maupun bahan yang digunakan, hingga menjadi bentuk yang kita kenal sekarang.
Di dunia Arab, shisa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menikmati tembakau, tetapi juga sebagai simbol budaya dan identitas. Penggunaan shisa menjadi sangat populer di kalangan masyarakat perkotaan, khususnya di kafe-kafe tradisional (qahwa) yang menjadi pusat interaksi sosial.
Shisha telah menjadi bagian dari gaya hidup yang menarik masyarakat secara luas di berbagai belahan dunia. Di negara-negara seperti Cina, Turki, Pakistan, Bangladesh, India, serta beberapa wilayah lain di Asia, diperkirakan terdapat sekitar 100 juta individu yang menikmati aktivitas merokok shisha. Peralatan shisha terdiri dari tabung berisi air yang berfungsi sebagai penyaring asap, dilengkapi dengan wadah, mangkuk, selang, dan pipa. Di dalam tabung tersebut, terdapat tembakau yang dirancang secara khusus, dipanaskan, dan diberi tambahan aroma buah.
Makna Sosial dan Budaya Shisa
Menghisap shisa memiliki makna sosial yang mendalam di dunia Arab. Aktivitas ini sering kali menjadi sarana untuk bersosialisasi dan mempererat hubungan antarindividu. Dalam tradisi Arab, menghisap shisa dilakukan secara bersama-sama, baik di rumah maupun di tempat umum seperti kafe. Kebiasaan ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, keramahan, dan inklusivitas yang menjadi ciri khas budaya Arab.
Selain itu, shisa juga memiliki dimensi simbolis dalam konteks budaya Arab. Menghisap shisa dianggap sebagai bentuk relaksasi dan pelarian dari rutinitas sehari-hari. Di beberapa negara Arab, kafe-kafe yang menyediakan shisa sering menjadi tempat berkumpul untuk berdiskusi, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati waktu luang. Dalam konteks ini, shisa berperan sebagai medium untuk menciptakan suasana yang santai dan ramah.
Variasi dan Gaya Shisa
Shisa memiliki berbagai variasi yang mencerminkan kekayaan budaya dunia Arab. Salah satu elemen penting dalam shisa adalah tembakau yang digunakan, yang dikenal dengan nama mu’assel. Tembakau ini biasanya dicampur dengan molase dan rasa buah-buahan, seperti apel, anggur, mint, atau melon. Variasi rasa ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi para penikmatnya, sekaligus mencerminkan preferensi lokal.
Selain itu, desain dan dekorasi shisa juga mencerminkan seni dan kerajinan tradisional. Misalnya, shisa dari Mesir sering memiliki dekorasi yang rumit dan warna-warna cerah, sementara shisa dari Suriah lebih mengedepankan keindahan bentuk yang elegan. Desain-desain ini tidak hanya menunjukkan estetika, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dari masing-masing wilayah.
Dampak terhadap Kesehatan
Meskipun memiliki nilai sosial dan budaya yang signifikan, kebiasaan menghisap shisa juga menimbulkan kekhawatiran dari segi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa menghisap shisa dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama karena kandungan nikotin, karbon monoksida, dan zat-zat kimia berbahaya lainnya yang terdapat dalam asap tembakau.
Salah satu mitos yang berkembang adalah bahwa penggunaan air dalam shisa dapat menyaring zat-zat berbahaya. Namun, penelitian membuktikan bahwa air tidak efektif untuk menghilangkan racun dalam asap tembakau. Sebaliknya, sesi menghisap shisa yang berlangsung selama satu jam dapat menghasilkan paparan karbon monoksida dan tar yang lebih tinggi dibandingkan dengan merokok satu batang rokok.
Dampak kesehatan ini semakin parah oleh popularitas shisa di kalangan anak muda. Di banyak negara Arab, remaja dan dewasa muda sering kali menganggap shisa sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok, meskipun kenyataannya tidak demikian. Fenomena ini memunculkan tantangan baru bagi pemerintah dan lembaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya shisa.
Shisa dalam Konteks Modern
Dalam beberapa dekade terakhir, budaya menghisap shisa telah mengalami perubahan signifikan. Di dunia Arab, tradisi ini tetap bertahan sebagai bagian dari kehidupan sosial, tetapi juga menghadapi tantangan dari modernisasi dan globalisasi. Salah satu perubahan terbesar adalah meningkatnya popularitas shisa di luar dunia Arab, khususnya di Eropa, Amerika Utara, dan Asia.
Di beberapa kota besar di dunia, kafe-kafe shisa telah menjadi tempat yang populer bagi berbagai kelompok usia dan latar belakang budaya. Fenomena ini mencerminkan daya tarik shisa sebagai simbol gaya hidup modern, sekaligus memperkuat citra dunia Arab sebagai pusat tradisi dan budaya yang unik.
Namun, globalisasi juga membawa dampak negatif terhadap budaya shisa. Di beberapa negara, praktik menghisap shisa telah kehilangan makna tradisionalnya dan lebih dianggap sebagai tren semata. Selain itu, regulasi pemerintah terkait tembakau dan larangan merokok di tempat umum telah memengaruhi keberlangsungan kafe-kafe shisa di berbagai negara.
Fakta Unik Shisha
- Shisha mengandung bahan-bahan yang sama dengan rokok, seperti tembakau, nikotin, tar, karbon monoksida, arsenik, dan timah.
- Asap shisha bisa lebih beracun daripada asap rokok. Merokok shisha selama satu jam bisa setara dengan mengisap 40–400 batang rokok
- Shisha mengandung bahan kimia penyebab kanker yang sama dengan rokok dan cerutu.
- Perokok shisha menghirup logam berat, karbon monoksida, dan senyawa beracun lainnya yang dikeluarkan oleh arang yang terbakar.
- Air pada shisha tidak dapat menyaring semua zat, terlebih yang berbahaya.
- Shisha elektrik mengandung gliserol, yaitu cairan kental tidak berbau dan tidak berwarna yang berfungsi sebagai pelarut dari nikotin, zat kimia perisa, dan bahan pengawet.
- Paparan senyawa aldehid, karbon monoksida, dan tar yang terdapat dalam shisha dapat menyebabkan kanker paru-paru.
- Gejala awal kanker paru-paru akibat shisha berupa batuk dengan dahak atau darah.
Penutup
Budaya menghisap shisa adalah salah satu aspek yang mencerminkan kekayaan tradisi dan identitas dunia Arab. Meskipun memiliki sejarah panjang dan makna sosial yang mendalam, praktik ini juga menimbulkan tantangan, terutama dari segi kesehatan dan dampak modernisasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami budaya shisa dalam konteks yang lebih luas, termasuk nilai-nilai tradisional yang diusungnya, serta dampak yang ditimbulkannya dalam masyarakat modern.
Sebagai bagian dari warisan budaya dunia Arab, shisa tetap menjadi simbol kebersamaan dan keramahan yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Namun, kesadaran akan dampak kesehatan yang ditimbulkan juga harus ditingkatkan, sehingga tradisi ini dapat terus dilestarikan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan yang seimbang, budaya menghisap shisa dapat terus menjadi bagian yang harmonis dari kehidupan sosial dunia Arab, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi pemahaman lintas budaya di tingkat global.
Oleh: Fathirahma Hasya Azifah
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



