JurnalPost.com – Deradikalisasi merupakan sebuah upaya atau proses dalam mengubah pandangan dan perilaku seseorang atau kelompok yang terpengaruh dengan pemikirian-pemikiran radikalisme, sehingga mereka dapat kembali ke kehidupan. Deradikalisasi tidak hanya mencegah seseorang untuk berbuat kekerasan tetapi juga membantu dalam mencitakan kehidupan yang damai antar sesama warga negara.
Pada generasi sekarang yang diisi oleh para pemuda dan terdiri dari berbagai kalangan umur sudah sangat mudah mengakses internet didukung dengan teknologi yang canggih pada zaman sekarang. Media internet yang terdiri dari berbagai macam konten mulai dari positif hingga negatif. Kemudahan para pemuda dalam mengakses internet memudahkan mereka mengakses internet dimanapun dan kapanpun hal tersebut menjadi tantangan bagi generasi muda. Para pemuda masih banyak yang belum mengerti sepenuhnya terkait konten yang mnereka lihat terutama bagi mereka yang masih dibawah umur. Apabila salah mengartikan terhadap suatu konten yang mereka lihat akan menimbulkan tindakan-tindakan yang seharusnya tidak mereka lakukan pada seusianya.
Banyak kasus radikalisme yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya seperti kasus beberapa tahun silam, Pada 17 Juli 2009, saat seorang pemuda yang baru berusia 18 tahun, yakni Dani Dwi Permana, melakukan aksi yang menggoncang kota metropolitan dengan melakukan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta. Ia tewas dalam aksinya itu. Pada kasus lain terjadi pada seorang pemuda, Tendi Sumarno yang berusia 23 tahun, menjadi pelaku teroris dengan menusuk Bripka Frence di halaman Kantor Intel Brimob Kelapa Dua, Depok. Tendi tewas ditembak di tempat, usai melakukan penyerangan.
Dalam mencegah paham radikalisme yang berujung tindak terorisme peran pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan dan mempersiapkan berbagai upaya dalam rangka membangun Kesiapsiagaan Nasional melalui upaya-upaya pencegahan sehingga terbentuk ketahanan masyarakat agar tidak terjerat pemahaman menyimpang. Upaya yang dilakukan BNPT salah satunya adalah program deradikalisasi dengan melibatkan banyak pihak mulai dari masyarakat seperti organsasi dan lembaga swadaya masyarakat hingga beberapa lembaga negara yaitu Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan kementerian serta para akademisi. Pencegahan paham radikalisme tidak hanya melalui peran pemerintah melainkan dari luar non pemerintahan.
Peran Keluarga
Keluarga memegang peranan penting dalam mencegah paham radikalisme pada anak-anak mereka. Keluarga merupakan tempat anak-anak mereka pertama kali belajar. Orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian yang baik untuk anaknya. Merekalah orang pertama yang memberikan nilai-nilai, aturan dan norma yang baik serta dasar bagi pergaulan hidup yang benar, sebelum mereka memiliki lingkungan yang lebih jauh dalam masyarakat. Orang tua harus melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak.
Peran Pendidikan
Pendidikan di sekolah hingga perguruan tinggi membantu para peserta didik untuk memahami perbedaan satu pandangan dengan yang lainnya. Dengan mendapatkan ilmu pengetahuan baru setiap orang akan bertambah wawasannya dan memiliki cara berpikir kritis sehingga mampu menganalisa setiap informasi yang didapatkan. Maka dari itu setiap individu diharapkan mampu menyaring konten yang berbahaya bagi pandangan dan perilaku mereka kedepannya.
Peran Organisasi
Aktif dalam beroganisasi merupakan salah satu dalam program deradikalisasi sangat penting. Melalui forum beroganisasi memberikan kegiatan-kegiatan positif seperti kegiatan sosial, dialog antarbudaya, dan kolaborasi antar kelompok Masyarakat dengan begitu dapat terbangun rasa saling pengertian dan toleransi. Berperan aktif dalam organisasi mampu menjadi penghalang terhadap penyebaran paham ekstremisme, dengan memberikan dukungan dan alternatif positif bagi generasi muda.
Peran Penggunaan Media Sosial
Di era digital, media sosial berfungsi sebagai alat yang berperan besar dalam menyebarkan ideologi, termasuk paham radikal. Oleh karena itu, program deradikalisasi harus memanfaatkan platform ini untuk menyebarkan pesan positif dan kontra-narasi. Kampanye yang menarik dan informatif dapat menjangkau generasi muda, membantu mereka dalam menyaring informasi dan membentuk pandangan yang lebih sehat.
Peran Pemerintah
Pemerintah yang merupakan pemilik wewenang dalam membuat dan mengeluarkan suatu kebijakan memiliki peran yang sangat penting dan dianggap dapat menangani gerakan radikalisme. Maka dari itu pemerintah memiliki upaya dalam deradikalisasi dengan melakukan penanggulangan terhadap tindakan terorisme, menanamkan nilai-nilai Pancasila pada kurikulum setiap lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal, rutin mengadakan sosialisasi guna mengenalkan dan memberikan pemahaman mengenai anti terorisme. Selain itu pemerintah dapat menjadi fasilitator bagi masyarakat untuk mengetahui dan memahami berbagai budaya, meminimalisir kesenjangan sosial yang dapat berakibat pada perbedaan dan perpecahan, menjaga kesatuan dan persatuan serta mendukung aksi positif seperti perdamaian.
Dalam mencegah radikalisme, setiap peran pemerintah dan non pemerintah harus saling bekerja sama untuk mengoptimalkan upaya deradikalisasi bagi para generasi muda. Dengan memahami arti dari nilai-nilai toleransi dapat menciptakan lingkungan yang damai dan aman. Sehingga mengurangi potensi dari tindakan terorisme dan mampu membangun kehidupan yang harmonis di masa depan. Upaya deradikalisasi memerlukan komitmen bersama untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera di masa depan.
Oleh: Adikara Wirasa



