Arzetio Irhamna Sya’bhani
NIM 165231112
Pengantar Teknologi Maju, Fakultas Teknologi Maju Multidisiplin, Prodi Teknik Industri Universitas Airlangga
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi peran vital Teknik Industri dalam membangun keterhubungan yang berkelanjutan dengan industri pertambangan. Dengan fokus pada pengoptimalan proses, manajemen risiko, dan integrasi teknologi, tulisan ini membahas bagaimana pendekatan teknik industri dapat meningkatkan efisiensi operasional sambil mengurangi dampak lingkungan. Melalui tinjauan literatur dan studi kasus, artikel ini menguraikan strategi konkret yang dapat diterapkan untuk memperkuat kolaborasi yang saling menguntungkan antara teknik industri dan industri pertambangan, mengarah pada keterhubungan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.
I.Pendahuluan
I.I Latar Belakang
Sistem operasional penambangan yang menguntungkan, diperlukan pengetahuan dan keterampilan bidang ilmu teknik pertambangan, teknik geologi, teknik sipil, teknik geodesi dan geomatika. Ilmu teknik industri sangat cocok bagi indutri pertambangan, sebab mempelajari perencanaan, monitoring, dan kontrol aktivitas industri yang menitikberatkan pada proses yang efektif, efisien, dan aman.
Bisnis pertambangan itu mulai dari perencanaan eksplorasi (pencarian sumber mineral), eksploitasi (pengerjaan operasional mineral), proses (memproses bahan mineral pra jual), serta pemasaran mineral. Sedang aktivitasnya mulai dari perencanaan kelayakan proses, eksplorasi sampling mineral batuan pembersihan vegetasi di permukaan tanah, teknik menambang yang aman dan efisien, teknik pemisahan materialnya, sampai pemasaran kepada stakeholder.
Kompetensi utama lulusan Teknik Industri adalah mampu mengidentifikasi, memformulasikan dan memecahkan masalah keteknik-industrian. Selain itu, memiliki kemampuan menerapkan matematika, statistika, sains dan analisis engineering pada penyelesaian masalah bidang teknik industri, termasuk di industri tambang.
I.II Pembahasan
Penting untuk membedakan antara individu yang memiliki gelar “sarjana teknik industri” dengan keterampilan praktis yang dimiliki dalam konteks peran mereka dalam suatu perusahaan atau industri. Dalam industri pertambangan (dan industri lainnya), penekanan lebih pada kemampuan praktis yang relevan, terlepas dari gelar akademis yang dimiliki. Sebagai contoh, seseorang yang bertanggung jawab atas pemasaran produk tidak harus memiliki latar belakang dalam manajemen; seorang sarjana teknik mesin dengan keterampilan pemasaran yang kuat, yang mungkin diperoleh melalui pengalaman lapangan atau pembelajaran mandiri, juga dapat berhasil dalam peran tersebut. Namun demikian, individu dengan gelar sarjana manajemen yang juga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pemasaran cenderung menghasilkan kinerja yang sangat baik.
Dalam proses pertambangan, kemampuan teknik industri dapat dikontribusikan pada siub proses berikut:
Proses analisis kelayakan investasi tambang.
Proses ini berkutat pada analisis kelayakan penambangan dilihat dari sisi cost dan revenue-nya. Ilmu teknik industri mempelajari tentang analisis biaya, manajemen risiko industri, dan analisis manajemen lainnya yang menunjang pengambilan keputusan untuk meneruskan project atau menghentikannya. Tentu, seseorang dengan kemampuan analisis biaya tidak dapat bekerja sendiri, karena analisis kelayakan pun melibatkan analisis ketahanan lereng, kemudah-tambangan, kemudah-jualan bahan mineral yang ditambang, yang itu semua dapat dilakukan oleh orang dengan ilmu teknik pertambangan, teknik geologi, dan teknik sipil.
Proses evaluasi performa operasional pertambangan
Saat sudah memasuki tahap pengerjaan operasional tambang secara rutin, maka keberjalanya perlu dibarengi dengan sistem monitoring dan controlling, yang hasilnya berupa rekomendasi dan strategi memperbaiki system yang berjalan. Dalam hal ini, ilmu teknik industri dapat banyak berperan.
Contoh sederhana adalah pada proses penambangan mineral, dimana pekerjaan dituntut untuk efisien agar memenuhi target bulanan yang ditetapkan. Produksi per jam yang dihasilkan harus dibandignkan dengan cost berupa harga bahan bakar per jam yang dikeluarkan, harga depresiasi mesin, harga gaji operator, dan lain-lain agar dapat ditentukan apakah dengan system menambang itu dapat menuai untung atau malah merugi. Kemampan analisis yang baik akan banyak didukung oleh keterampilan di bidang statistik dan rekayasa proses.
Contoh lainnya adalah pada perencanan berapa jumlah truk yang harus diberikan kepada sebuah ekskavator untuk melakukan aktivitas mengeruk tanah, dan dibuang ke daerah buangan (disposal). Di sini, ekskavator akan mengeruk tanah (atau mineral) kemudian diangkut oleh truk jumbo. Truk akan berangkat ke area pembuangan tanah, kemudian kembali lagi ke area ekskavator. Ketika jumlah ekskavator dianggap sebagai server, dengan waktu layan tertentu, dan dengan jarak tempuh truk dari ekskavator ke tempat buangan, maka penentuan jumlah truk agar siklus tersebut berjalan dapat ditentukan dengan analisis dari teori antrian, teori shortest path, dan teori penjadwalan.
Proses perancanaan dan pemantauan implementasi sistem kerja aman dan sehat.
Sub ilmu teknik industri di bidang Ergonomi dan Kesehatan Kerja akan sangat banyak berkontribusi di bidang pertambangan, khususnya di bidang manajemen K3. Di sini, ilmu ergonomi dapat diterapkan untuk mengevaluasi sistem yang berjalan, atau membuat sistem baru (melalui analisis kelayakan, tentunya) sebagai perbaikan.
Scope ergonominya pun luas, mulai dari ergonomi mikro seperti penilaiain risiko kerja di kantor, di bengkel/workshop, maupun di lapangan, serta ergonomi makro, seperti penilaian budaya selamat (safety culture), fatigue management, serta sistem strategis untuk penerapan SHE jangka panjang.
Sistem rantai suplai dan penggudangan (supply chain and warehousing)
Perusahaan pertambangan tidak lepas dari kebutuhan logistik yang mendukung, mulai dari logistik yang berkaitan dengan operasional tambang (alat berat, bahan peledak, alat pelindung diri), maupun untuk kegiatan pendukungnya (perlengkapan kantor, bahan bangunan, dll). Ilmu optimasi rantai suplai, logistik, dan penggudangan dibutuhkan untuk memastikan proses pemesanan dan permintaan dapat berjalan seimbang.
Sistem penjadwalan pengapalan bahan mineral
Dalam sub proses pengapalan, atau dikenal dengan istilah barging, ilmu yang dipakai adalah penjadwalan produksi (yang fleksibel diterapkn sesuai ruang lingkup pengapalan). Ilmu ini menghasilkan jadwal yang optimal yang memastikan ketersediaan bahan mineral (pasca proses) dapat dikirim saat kapal tongkang sudah merapat. Tidak hanya optimasi waktu, namun juga optimasi jumlah stok bahan mineral yang harus memenuhi kapasitas kapal tongkang tersebut.
Dan lain-lain.
Keilmuan di atas tentunya banyak dimiliki oleh sarjana Teknik Industri, namun bisa jadi orang dengan latar belakang berbeda namun memiliki salah satu dari keahlian di atas yang dapat berkontribusi lebih banyak. Alangkah lebih baik, jika ilmu yang sudah dipelajari juga dibarengi dengan pengembangan keterampilan, sehingga setelah lulus, seorang sarjana Teknik Industri dapat lebih banyak berkontribusi di peran proses manapun.
II. Kesimpulan
Dalam menghadapi tuntutan sistem operasional yang menguntungkan dalam industri pertambangan, terlihat jelas bahwa pengetahuan dan keterampilan dari berbagai bidang ilmu teknik menjadi kunci utama. Mulai dari teknik pertambangan, geologi, sipil, geodesi, hingga geomatika, setiap disiplin ilmu tersebut memberikan kontribusi penting dalam memastikan kelangsungan operasional yang efektif, efisien, dan aman. Namun demikian, peran Teknik Industri dalam konteks ini tidak boleh diabaikan.
Teknik Industri menawarkan pendekatan yang holistik dalam perencanaan, monitoring, dan pengendalian aktivitas industri, dengan fokus pada pencapaian proses yang optimal secara keseluruhan. Dari tahap perencanaan eksplorasi hingga proses pemasaran mineral, Teknik Industri dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memastikan keselarasan antara tujuan bisnis dan praktik operasional yang berkelanjutan. Hal ini terlihat dari berbagai contoh konkrit, mulai dari analisis kelayakan investasi hingga sistem penjadwalan pengapalan bahan mineral.
Kemampuan utama lulusan Teknik Industri dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan menyelesaikan masalah keteknik-industrian menjadi kunci dalam konteks industri pertambangan. Keterampilan analisis biaya, manajemen risiko, optimasi rantai suplai, hingga pemantauan sistem kerja aman dan sehat merupakan beberapa contoh konkret bagaimana Teknik Industri dapat memberikan nilai tambah yang signifikan dalam operasional industri pertambangan.
Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa dalam menghadapi dinamika industri pertambangan, penggabungan pengetahuan dan keterampilan dari berbagai bidang ilmu teknik, termasuk Teknik Industri, menjadi kunci kesuksesan. Dengan demikian, kesimpulan ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam menciptakan sistem operasional yang berkelanjutan dan berkinerja tinggi dalam industri pertambangan.
III. Daftar pustaka
Pertambangan Butuh Teknik Industri untuk Efisiensi .jogpaper.net/pertambangan-butuh-teknik-industri-untuk-efisiensi/
annisabersabda.wordpress.com/2014/05/04/peran-ilmu-teknik-industri-di-industri-pertambangan/
Kasih, A. P. (2021, 5 19). Mengenal Jurusan Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri serta Prospek Kerjanya. Kompas.



