
JurnalPost.com – Ju’aji merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Pegaraman, Karang Anyar – Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep. Tradisi ini cukup unik karena dilakukan hingga tengah malam. Ju’aji digelar di sebuah makam leluhur, yakni Kyai Aji. Ju’aji merupakan sebuah ritual tahunan yang berlangsung pada hari minggu di bulan Maulid. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen garam yang melimpah.
Istilah Ju’aji berasal dari bahasa Madura yakni “Ju’ artinya kyai,nyai,kakek,dan nenek. Sedangkan Aji merupakan nama seorang pemuka agama yang menyebarkan agama islam di Desa Karang Anyar – Pinggir Papas.
Sebelum melakukan ritual, saat menjelang maghrib, warga Karang Anyar – Pinggir Papas akan membawa sebuah hantaran yang disebut (Panjhang). Hantaran tersebut berisi nasi putih, telur dadar, pandhebe (otak-otak ikan bandeng), dan sesisir pisang.
“Makanannya identik putih karena putih artinya suci. Suci ini menandakan bahwa niat kami ibadah dan tulus dari dalam hati” Ujar Nura Riskana (34), warga Desa Karang Anyar

Di sekitar makam Kyai Aji, warga akan berkumpul sambil meletakkan Panjhang. Sedangkan di dalam makam, terdapat ketua adat dan beberapa peserta ritual yang akan berdoa. Selepas Maghrib, ritual doa di depan makam Kyai Aji dimulai. Menjelang tengah malam dilakukannya ritual selajutnya yakni Dha’ kaom.
Dha’kaom merupakan ritual memakai bedak cair yang di oleskan ke sebagian area dahi, leher, dan telinga. Ritual ini diawali oleh tetua adat kemudian dilanjut para peserta adat. Bedak tersebut sebelumnya telah di bacakan doa. Dengan memakai bedak tersebut dipercaya dapat menambah keberkahan.
Ritual terakhir yakni “Ngaom” yang artinya makan bersama. Ngaom dilakukan secara bersama-sama bersama yang di pimpin ketua adat dan peserta ritual. Ritual Ngaom diyakini warga setempat untuk memperoleh keberkahan hidup. Kemudian peserta ritual akan menikmati makanan yang mereka bawa. Mereka akan makan bersama keluarganya masing-masing.
“Sebenarnya di ritual terakhir ini dapat mempererat hubungan keluarga karena mereka bisa berkumpul dan makan bersama di acara ini” terang Hairul Anwar (39), warga Desa Karang Anyar.
Setelah sesi “Ngaom”, seluruh peserta ritual akan beranjak pulang. Mereka pulang dengan membawa harapan hasil panen garam akan semakin baik dan melimpah setiap tahunnya
Menurut Hairul Anwar, tradisi Ju’aji belum jelas asal usulnya. Mereka hanya melestarikan tradisi turun temurun yang ada di desa tersebut.
“Tiap tahun akan selalu rutin dilakukan agar tradisi ini tidak hilang” pungkasnya.
Penulis : F.A.Daosty (Mahasiswa Ilmu Komunikasi)




