
JurnalPost.com – Artificial intelligence (AI) adalah teknologi kecerdasan buatan yang sangat marak digunakan di era yang semakin maju ini. Perkembangan teknologi digital, memungkinkan AI untuk digunakan dalam berbagai sistem informasi dan komunikasi. AI merupakan teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia. AI memungkinkan komputer untuk belajar dari pengalaman, mengidentifikasi pola, membuat keputusan, dan menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan cepat dan efisien. Dengan kehadiran AI, dapat mempermudah kita dalam mengumpulkan informasi. AI dalam bentuk ChatGPT adalah salah satu contoh AI yang banyak digunakan dikalangan mahasiswa karena kemampuannya mengumpulkan informasi dengan cepat. Perkembangan AI saat juga telah banyak digunakan di berbagai aplikasi seperti search engine, asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, dan Cortana.
Hambatan Perkembangan Aritificial Intelligence (AI)
Dalam perkembangan AI, tentunya memiliki hambatannya tersendiri. Menurut Syaifa Tania, S.I.P., M.A, selaku Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada, terdapat empat hal utama yang menjadi tantangan berkembangnya AI. “Pertama, proteksi konsumen terhadap produk dan layanan yang digunakan. Kaitannya dengan privasi, ya. Kemudian adanya misinformasi, kita sudah sangat sering mendengar hoaks. Lalu news diversity, personalisasi berita yang memungkinkan institusi berita dan audiens sama-sama meraih keuntungan. Kemudian ada online targeting and community standard,” terang Tania. Layanan AI yang cenderung melakukan personalisasi informasi menyebabkan individu terpapar banyak informasi sejenis, sehingga muncul hambatan untuk mendapatkan informasi yang berbeda. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa hoaks saat ini mudah tersebar.
Dampak AI Terhadap Lapangan Pekerjaan
Melihat teknologi AI yang sudah marak digunakan, tanpa disadari AI sudah memengaruhi dan menjadi bagian dari hidup kita. Salah satu dampak yang ditimbulkan yaitu, AI dipercaya dapat menggantikan peran manusia dalam bidang ketenagakerjaan. Kemampuan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas dapat mengancam pekerjaan manusia. Pekerjaan yang sederhana dan berulang dapat digantikan oleh sistem AI, sehingga mempengaruhi lapangan pekerjaan tertentu. sejumlah pekerjaan yang terancam hilang dengan adanya adopsi teknologi AI yaitu yang berkaitan erat dengan penyedia layanan seperti administrasi pemerintahan, informasi dan komunikasi, serta aktivitas jasa lainnya.
Namun, kita tidak perlu khawatir teknologi yang kita gunakan sekarang akan menggantikan peran manusia. AI selamanya tidak akan pernah menggantikan manusia, tapi manusia yang menggunakan AI lah yang akan lebih unggul,” tutur Rosinski Hiro, S.I.P., M.Sc, alumni Departemen Ilmu Komunikasi UGM. Dalam serial Diskoma #8 bertema “Artificial Intelligence dalam Industri Komunikasi”. AI mungkin bisa menawarkan informasi yang lebih cepat, murah, dan banyak. Tapi manusia lebih bisa memberikan informasi secara tepat, berkualitas dan relevan. Kalau dibanding manusia, relevansi informasi dari AI masih sangat jauh,” tambah Rosinski.
Mengutip dari Kompas.id, AI akan berdampak ke 17 sektor lapangan usaha di Indonesia. Diperkirakan pekerjaan dari 26,7 juta orang dapat dibantu atau dibuat lebih efisien dengan teknologi AI. Tingkat efisiensi Paling besar akan terasa di sektor komunikasi (58,1 persen). AI tidak perlu diposisikan sebagai ancaman, justru fokus yang harus dilakukan adalah bagaimana AI bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
Kesimpulannya, AI adalah teknologi yang menjanjikan dengan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam berbagai bidang. Teknologi ini terus berkembang dan memiliki potensi untuk merubah cara kita hidup dan bekerja secara fundamental. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang AI, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan dan peluang yang dihadirkannya.
Oleh : Naufaldi Risha Pamungkas Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB Program Studi Komunikasi Digital dan Media



