• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Bantuan Kemensos kepada Ibu Baldiah Pengemis Aa Kasihan Aa

Editor Redaksi
12 Maret 2024
in Kolom Opini

Oleh: Rajwa Shaliha, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

JurnalPost.com – Kisah Ibu Baldiah, yang menjadi perbincangan di media sosial, menggambarkan sebuah perjalanan dari kehidupan sulit menuju solusi yang diberikan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Namun, di balik bantuan yang diberikan, kita perlu merenung lebih dalam terkait dampak positif dan risiko yang mungkin timbul.

Wawancara dengan seorang Tiktoker membuka tabir tentang alasan Ibu Baldiah mengemis, yaitu atas perintah suaminya yang mengalami keterbatasan sebagai penyandang tunarungu dan tunawicara. Keterbatasan ini menjadi tantangan tersendiri dalam mencari pekerjaan, sehingga Ibu Baldiah terpaksa mengemis sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, melalui langkah bijak Kemensos, bantuan modal usaha dan dukungan lainnya telah diberikan untuk memberdayakan mereka secara berkelanjutan.

Bantuan modal usaha tidak hanya memberikan solusi finansial, tetapi juga menghentikan kegiatan mengemis Ibu Baldiah. Ini adalah langkah positif yang tidak hanya mengatasi masalah sesaat, tetapi juga memberikan peluang bagi mereka untuk mandiri secara ekonomi. Dukungan dari PKK Desa Ciasihan juga menjadi bukti kolaborasi masyarakat dalam mengembangkan usaha keripik milik Ibu Baldiah.

Namun, perlu diingat bahwa cerita ini juga memunculkan risiko cerita serupa muncul untuk mendapatkan perhatian dan bantuan tanpa memperhatikan latar belakang yang sebenarnya. Kita sebagai masyarakat harus tetap peduli terhadap sesama, tanpa terpengaruh oleh seberapa viral cerita mereka di media sosial. Kepedulian yang tulus harus menjadi landasan dalam memberikan bantuan sosial.

Penting untuk mengapresiasi langkah Kemensos, namun, kita juga perlu merenung tentang bagaimana masyarakat dapat turut berperan aktif dalam membantu sesama tanpa terpengaruh oleh popularitas di dunia maya. Keberlanjutan bantuan dan kolaborasi antarinstansi menjadi kunci untuk memastikan solusi yang diberikan tidak hanya bersifat sementara.

Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk membangun sikap kepedulian dan keadilan yang lebih mendalam, bukan hanya karena viralitas di media sosial. Mari bersama-sama merenung dan berkomitmen untuk membentuk masyarakat yang lebih peduli, adil, dan berdaya. Semoga Kementerian Sosial terus mengambil kebijakan yang bijak, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar mencapai mereka yang membutuhkan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.