• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

BAHAYA! Pernahkah kalian melihat seseorang mencoba melukai dirinya sendiri?

Editor Redaksi
8 Maret 2024
in Kolom Opini
Ilustrasi self-harm (sumber: I Am Okay.id)

Oleh: Alya Fidita Syahnaz, Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala

JurnalPost.com – Self-harm adalah istilah psikologi yang memiliki arti sebuah tindakan atau upaya seseorang untuk menyakiti atau melukai dirinya sendiri. Self-harm juga menjadi salah satu issue kesehatan mental yang sedang marak terjadi sebagai upaya pelarian dari tekanan emosional yang disalurkan dari rasa sakit secara fisik untuk mengurangi stress. Perilaku self-harm merupakan bentuk tindakan yang dilakukan seorang individu untuk mengatasi rasa sakit atas tekanan emosional yang di alaminya dengan cara yang merugikan diri seperti menyakiti dan melukai diri sendiri tanpa ada keinginan untuk mati. Sehingga, bisa disimpulkan bawasannya perilaku self-harm ini merupakan upaya menyakiti atau melukai diri sendiri yang dilakukan seseorang secara sengaja sebagai bentuk reaksi dari emosi yang dirasakan individu.

Upaya seseorang untuk melukai dirinya sendiri bisa terjadi dengan banyak kemungkinan, seseorang mungkin saja mencoba untuk menggores atau menyayat bagian tubuh tertentu, mengigit bagian tubuh sendiri, memukul atau membenturkan kepala ke tembok, membakar bagian tubuh tertentu, mencabut bulu, rambut atau kuku, melukai kembali proses penyembuhan luka, dan mengkonsumsi obat-obatan dengan dosis yang tidak sesuai. Perilaku self-harm yang paling sering terjadi adalah upaya menggores atau menyayat kulit menggunakan cutter atau benda tajam lainnya, pelaku biasanya akan menggores atau menyayat bagian tubuh di tangan bagian dalam, paha, betis, dan perut. Perilaku ini biasanya disebut dengan istilah self cutting.

Penyebab seseorang melalukan self-harm juga di dorong oleh banyak faktor, baik faktor internal ataupun faktor eksternal. Sebagai contoh, faktor internal yang dipicu dari sikap otoriter orang tua kepada anaknya, masalah keluarga, kesepian, penghargaan diri yang rendah, masalah percintaan, kematangan emosi yang belum stabil, menyaksikan kekerasan fisik, dan lain-lain. Lalu ada faktor eksternal yang bisa dipicu dari lingkungan yang tidak sehat, misalnya seorang siswa yang mendapat perilaku kekerasan dan juga bullying di lingkungan sekolahnya, atau seorang wanita yang menjadi korban pelecehan.

Namun terlepas dari contoh yang sudah disebutkan, banyak faktor-faktor lainnya yang dapat memicu seseorang untuk berupaya melukai dirinya sendiri, bahkan terkadang alasan yang diberikan bisa terbilang aneh dan tidak masuk akal. Self-harm sendiri adalah sebuah gangguan yang terjadi pada diri dan mental seseorang.

Individu yang terlibat dalam perilaku melukai-diri akan memiliki harapan untuk memperoleh perasaan bebas dan terlepas dari perasaan atau kognitif yang negatif, dapat mengatasi dan terlepas dari kesulitan interpersonal, serta untuk menimbulkan perasaan yang positif pada dirinya.
Upaya yang dapat dilakukan jika sudah terjerumus ke dalam perilaku melukai diri adalah sebagai berikut:

• Penerimaan diri
Menyadari kalau perilaku melukai diri bukannya solusi untuk semua masalah, dan hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan. Berusaha untuk menerima keadaan diri sendiri dalam segala kondisi dan berusahalah untuk dapat mengontrol emosi, meskipun sambil terus menangis.
• Cari bantuan profesional
Tentu saja saat sudah lelah dengan keadaan sendiri, kita membutuhkan bantuan profesional untuk membantu mencari jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi. Cobalah untuk mencari psikolog atau psikiater yang dapat kalian percaya.
• Mendekatkan diri dengan Tuhan
Tidak dapat di pungkiri salah satu cara dan jalan terbaik yang dapat kita ambil ketika kita merasa tidak baik-baik saja adalah dengan kembali mendekatkan diri ke yang Maha Pencipta. Mulailah berdoa dan datang ke rumah ibadah untuk mendapat pencerahan dan juga ketenangan jiwa.
• Pelajari ilmu psikologi
Menyadari pentingnya ilmu tentang kesehatan mental dan juga penanganannya, guna mencegah dan menghindari perilaku yang dapat merugikan diri sendiri.

• Dukungan sosial
Yang tidak kalah penting dari semua aspek di atas adalah dukungan dari lingkungan terdekat kita, baik dari keluarga ataupun teman terdekat. Dengan kehadiran orang-orang baik di sekitar kita tentu saja dapat membantu kita pulih lebih cepat, support yang mereka berikan bisa menjadi sumber untuk kita bangkit dari masalah-masalah yang kita hadapi.
 
Sumber referensi
Jurnal Faktor-faktor Penyebab Perilaku Melukai-Diri Pada Remaja Perempuan oleh Bernardus Khrisma Wibisono, Elly Yuliandari Gunatirin. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.7 No.2 (2018)
Jurnal STUDI KASUS : FAKTOR PENYEBAB PERILAKU SELF-HARM PADA REMAJA PEREMPUAN oleh Saridewi Mutiara Insani Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya. Siti Ina Savira Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri (2023)

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.