
JurnalPost.com – Bias gender mencerminkan perlakuan tidak adil terhadap individu atau kelompok berdasarkan jenis kelamin mereka. Dalam konteks cerpen, ketidaksetaraan gender sering kali terwujud melalui perbedaan perlakuan antara karakter laki-laki dan perempuan. Baik secara disengaja maupun tidak disengaja, perbedaan ini dapat menghasilkan stereotip gender yang kemudian memengaruhi persepsi masyarakat terhadap peran dan perilaku yang diharapkan dari setiap jenis kelamin. Sebagai contoh karakter laki-laki mungkin diposisikan sebagai pribadi yang dominan dan kuat, sementara karakter perempuan cenderung dipandang sebagai sosok yang lemah atau bergantung pada laki-laki. Cerpen menjadi medium yang mencerminkan realitas sosial di mana bias gender masih merajalela, dan hal ini perlu menjadi refleksi kritis bagi pembaca untuk memahami serta mengatasi ketidaksetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana dalam cerpen berjudul “Buaian Rahim Patriarki” karya Ni Wayan Wijayanti menggambarkan sebuah pengakuan dan refleksi seorang ayah terhadap kegagalannya sebagai seorang bapak. Dalam cerita ini, sang ayah mengakui ketidaktahuannya akan penderitaan yang dialami oleh anak perempuannya sejak kepergian ibunya sepuluh tahun yang lalu. Ia menyadari bahwa anaknya tumbuh dalam kesendirian tanpa ibu, dan dalam tawanya, ia berhasil menyembunyikan segala air mata dan kepedihan yang tidak pernah ia ketahui. Cerita ini juga menyoroti stereotip gender dan pandangan tradisional terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam sebuah keluarga. Sang ayah mengakui bahwa ia tumbuh dalam budaya patriarki yang menganggap tugas-tugas rumah adalah tanggung jawab perempuan. Ia menggambarkan kehidupannya yang tidak pernah membantu dalam tugas-tugas rumah tangga dan tidak pernah menghargai peran ibunya.
Sejalan dengan Teori Hegemonik Maskulinitas yang dikemukakan oleh Robert W. Connell pada tahun 1987. Connell berpendapat bahwa maskulinitas tidak bersifat tunggal, melainkan memiliki berbagai macam bentuk yang saling bersaing dan berinteraksi dalam masyarakat. Salah satu bentuk maskulinitas yang dominan dan mendominasi kehidupan sosial disebut sebagai maskulinitas hegemonik. Dalam konteks cerpen, kita dapat melihat bagaimana karakter ayah mencerminkan elemen-elemen dari maskulinitas hegemonik. Ayah tersebut tumbuh dalam budaya patriarki yang memberikan nilai tinggi pada peran laki-laki, menganggapnya sebagai kepala keluarga yang harus kuat dan tidak mengekspresikan emosinya dengan mudah. Sikapnya terhadap anak perempuannya mencerminkan pengaruh stereotip gender dan ekspektasi tradisional terhadap peran perempuan dalam keluarga. Kegagalan ayah untuk memahami dan mendukung anak perempuannya, serta keinginannya untuk memaksa anaknya menikah tanpa memperhatikan impian dan aspirasinya, mencerminkan bagaimana maskulinitas hegemonik dapat mempengaruhi dinamika keluarga. Penggambaran kehidupan ayah yang tidak pernah membantu dalam tugas-tugas rumah tangga dan meremehkan peran ibunya juga mencerminkan pandangan tradisional terhadap peran gender dalam rumah tangga.
Cerpen “Buaian Rahim Patriarki” karya Ni Wayan Wijayanti menggambarkan bias gender dan stereotip dalam kehidupan keluarga. Sang ayah mengakui ketidaktahuannya terhadap penderitaan anak perempuannya setelah kepergian ibunya sepuluh tahun yang lalu. Cerita ini mencerminkan budaya patriarki yang menempatkan tugas rumah tangga sebagai tanggung jawab perempuan. Kegagalan ayah dalam memahami anak perempuannya dan desakan untuk menikah tanpa memperhatikan impiannya menunjukkan bagaimana norma-norma gender mempengaruhi dinamika keluarga. Penggambaran ayah yang tidak membantu dalam tugas rumah tangga dan meremehkan peran ibunya juga mencerminkan pandangan tradisional terhadap peran gender dalam rumah tangga. Cerpen ini mencerminkan realitas sosial dan menjadi panggilan untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis:
Salsabilla Alfiani Rizky Puspitasari
Dosen Pengampu:
Dr. Merry Fridha Tripalupi., M,Si



