TANGERANG SELATAN, JurnalPost.com — Warga Bintaro Jaya yang berbelanja di minimarket atau supermarket belakangan kerap mendapati rak beras premium hanya terisi sebagian. Di saat yang sama, jeruk Sunkist, pisang Sunpride, dan wortel masih tersedia setiap hari. Ayam broiler juga tetap ditemukan di pasaran, meskipun harganya mengalami fluktuasi cukup tajam.
Survei Kelompok 3 terhadap sejumlah pedagang, yang dipadukan dengan data pemberitaan dan jurnal ilmiah, menunjukkan bahwa enam komoditas pangan tersebut memiliki persoalan penawaran yang berbeda-beda.
Beras Premium: Barang Ada, tetapi Enggan Masuk Ritel
Persoalan paling mencolok terjadi pada beras premium. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menyebut beras premium semakin sulit ditemukan di ritel modern dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut terjadi karena pemasok enggan menjual beras dengan harga yang harus mengikuti ketentuan harga eceran tertinggi (HET) (Katadata, 2026a).
Pengamat pertanian Khudori menjelaskan bahwa produsen berpotensi mengalami kerugian apabila menjual beras sesuai HET. Akibatnya, beras khusus, seperti beras fortifikasi, semakin banyak mengisi rak penjualan (Katadata, 2026b). Adapun HET beras premium untuk Zona I ditetapkan sebesar Rp14.900 per kilogram.
Pemerintah memiliki pandangan berbeda. Deputi Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, menyatakan bahwa harga beras premium di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) pada 19 September 2026 berkisar antara Rp12.860 hingga Rp14.200 per kilogram, atau masih berada di bawah HET.
Menurutnya, keterbatasan stok beras premium di ritel modern berkaitan dengan potongan margin ritel serta penarikan 25 merek beras fortifikasi yang bermasalah (Republika, 2026).
Kedua penjelasan tersebut tidak harus saling bertentangan. Keduanya menunjukkan adanya hambatan dalam rantai pasok beras premium menuju ritel modern.
Berdasarkan survei lapangan Kelompok 3, dua pedagang beras menjual beras premium masing-masing seharga Rp17.000 dan sekitar Rp16.900 per kilogram. Sementara itu, beras medium dijual sekitar Rp14.800 per kilogram.

Kedua pedagang memperoleh pasokan dari PIBC dengan persediaan sekitar satu ton. Harga jual beras premium tersebut melampaui HET dan harga grosir yang dipantau Bapanas.
Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa harga di tingkat eceran tidak selalu bergerak sejalan dengan harga grosir.
Lonjakan serupa pernah terjadi di Tangerang Selatan pada 2025. Saat itu, beras premium kemasan lima kilogram di salah satu gerai Superindo kawasan Pamulang terpantau mencapai Rp138.000, jauh di atas harga biasanya yang berkisar Rp74.000 (Republika, 2025).
Wortel dan Tomat Hidroponik: Pedagang Kecil, Stok Terbatas
Wortel Brastagi dan tomat hidroponik umumnya dijual oleh pedagang dengan persediaan relatif terbatas, yakni sekitar 10–15 kilogram setiap kali melakukan penyetokan. Pasokan diperoleh dari agen serta Pasar Induk Kramat Jati.
Harga wortel berkisar antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, sedangkan tomat hidroponik dijual seharga Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram.
Menurut pedagang, tingkat persaingan cukup tinggi dan jumlah persediaan dapat ditambah atau dikurangi sesuai kondisi pasar. Hal tersebut menunjukkan adanya fleksibilitas dalam penawaran kedua komoditas.
Dalam teori ekonomi mikro, penawaran yang elastis menggambarkan kondisi ketika jumlah barang yang ditawarkan relatif responsif terhadap perubahan harga (Sukirno, 2013; Mankiw, 2018).
Meski demikian, salah satu kerentanan utama wortel terletak pada rantai pasoknya.

Penelitian mengenai rantai pasok wortel di Kabupaten Magetan mengidentifikasi keterlibatan berbagai pelaku, mulai dari petani, agen, pedagang lapak, hingga pedagang keliling.
Semakin panjang rantai distribusi, semakin besar pula potensi terjadinya kerusakan mekanis dan penyusutan hasil panen selama proses penanganan serta distribusi (Amilia et al., 2022).
Sementara itu, untuk tomat hidroponik, belum ditemukan data harga reguler maupun volume penjualan yang terdokumentasi secara khusus di kawasan Bintaro Jaya.
Oleh karena itu, hasil survei ini perlu dipahami sebagai gambaran awal kondisi pasar, bukan sebagai patokan harga yang berlaku secara menyeluruh.
Jeruk Sunkist dan Pisang Sunpride: Merek Menjaga Permintaan
Jeruk Sunkist premium dijual dengan harga sekitar Rp28.400 hingga Rp30.000 per kilogram. Harga tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan jeruk lokal atau mandarin yang berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Menurut pedagang, jeruk Sunkist diperoleh dari distributor buah dengan persediaan sekitar 10–15 kilogram.
Sementara itu, pisang Sunpride dijual dengan harga Rp24.920 hingga Rp27.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan pisang lokal yang berkisar Rp20.000 per kilogram. Pasokan pisang Sunpride berasal dari PT Sewu Segar Nusantara.
Perbedaan harga tersebut tampaknya tidak serta-merta mengurangi minat konsumen terhadap produk buah bermerek.
Penelitian di pasar modern Kota Bogor, yang merupakan salah satu kawasan penyangga Jakarta, menemukan bahwa konsumen jeruk didominasi oleh perempuan usia produktif dengan pendapatan lebih dari Rp4 juta per bulan.
Dalam penelitian tersebut, rasa dan kesegaran menjadi atribut terpenting yang dipertimbangkan konsumen ketika membeli jeruk, baik produk lokal maupun impor (Nafisah et al., 2014).
Sementara itu, penelitian di Bandar Lampung menunjukkan bahwa loyalitas merek merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian pisang Sunpride (Sujana et al., 2020).
Meski kedua penelitian dilakukan di wilayah berbeda, hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pembanding untuk memahami perilaku konsumen terhadap produk buah bermerek.
Dengan demikian, temuan tersebut tidak secara langsung menggambarkan kondisi konsumen di Bintaro Jaya, tetapi memberikan perspektif mengenai peran kualitas produk dan kekuatan merek dalam memengaruhi permintaan.
Ayam Broiler: Pasokan Lancar, Harga Berfluktuasi
Dibandingkan komoditas lainnya, ayam broiler menunjukkan pergerakan harga yang lebih dinamis.
Pedagang yang disurvei menjual ayam broiler dengan harga berkisar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
Jumlah persediaan disesuaikan dengan perkiraan permintaan harian karena daging ayam merupakan komoditas yang mudah mengalami kerusakan apabila tidak ditangani dan disimpan dengan baik.
Pada Agustus 2026, harga ayam di pasar tradisional dilaporkan meningkat dari sekitar Rp37.850 menjadi Rp53.175 per kilogram (Kabar Bursa, 2026).
Namun, data nasional menunjukkan kondisi yang berbeda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga daging ayam ras sebesar Rp39.712 per kilogram pada pekan pertama Agustus 2026, masih berada di bawah harga acuan konsumen sebesar Rp40.000 per kilogram (Avinews, 2026).
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa harga di pasar tertentu, termasuk kawasan Jabodetabek, dapat mengalami pergerakan yang lebih tajam dibandingkan rata-rata nasional.
Dari sisi produksi, harga ayam hidup pada Agustus 2026 tercatat mencapai rata-rata Rp24.351 per kilogram, meningkat sekitar 30,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Bisnis.com, 2026).
Namun, memasuki awal Oktober 2026, peternak menyebut harga ayam hidup berada pada kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram, sedangkan biaya produksinya mencapai sekitar Rp23.000 hingga Rp23.500 per kilogram (Kontan, 2026).
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan yang berbeda antara tingkat konsumen dan produsen.
Di satu sisi, konsumen menghadapi harga daging ayam yang relatif tinggi. Di sisi lain, peternak masih berhadapan dengan harga jual ayam hidup yang belum mampu menutupi biaya produksi.
Perbedaan tersebut menjadi gambaran bahwa kelancaran pasokan di tingkat pedagang tidak selalu mencerminkan kondisi usaha yang menguntungkan bagi peternak.
Apa Artinya bagi Warga Bintaro Jaya?
Hasil pengamatan terhadap enam komoditas pangan tersebut memperlihatkan tiga pola utama dalam mekanisme penawaran.
Pertama, kebijakan pengaturan harga, seperti HET pada beras premium, dapat memengaruhi keputusan pemasok dalam mendistribusikan barang melalui saluran penjualan tertentu. Ketika harga jual yang ditetapkan tidak sejalan dengan struktur biaya dan margin distribusi, pasokan di ritel modern berpotensi mengalami hambatan.
Kedua, komoditas bermerek dan impor, seperti jeruk Sunkist dan pisang Sunpride, memiliki karakteristik penawaran yang relatif terkelola melalui jaringan distributor. Kualitas produk, ketersediaan barang, serta loyalitas konsumen terhadap merek turut berperan dalam menjaga permintaan.
Ketiga, komoditas pangan segar dengan rantai pasok yang panjang, seperti wortel dan ayam broiler, cenderung lebih rentan terhadap perubahan biaya distribusi, risiko kerusakan, serta fluktuasi harga di tingkat produsen maupun konsumen.
Bagi masyarakat Bintaro Jaya yang mengandalkan ritel modern untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, memahami pola penawaran tersebut dapat membantu dalam mengambil keputusan konsumsi yang lebih rasional.
Membandingkan harga antara minimarket, supermarket, dan pasar tradisional menjadi salah satu langkah sederhana untuk memperoleh harga yang lebih sesuai dengan kemampuan belanja.
Secara keseluruhan, kondisi penawaran pangan di Bintaro Jaya menunjukkan bahwa ketersediaan barang tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan harga, struktur distribusi, karakteristik komoditas, serta perilaku konsumen.
Daftar Pustaka
Amilia, W., Ulfa, E. J., Suryaningrat, I. B., & Suryadharma, B. (2022). Analisis risiko kehilangan pasca panen pada rantai pasok wortel dengan metode House of Risk (studi kasus di Kabupaten Magetan). Jurnal Hasil Penelitian Universitas Jember, 1(1). https://doi.org/10.19184/jpsti.v1i1.93
Avinews. (2026, Agustus). Harga daging ayam ras naik di 188 kabupaten/kota. https://avinews.com/id/harga-daging-ayam-ras-naik-di-188-kabupaten-kota/
Bisnis.com. (2026, 18 September). Harga ayam naik 30%, prospek emiten unggas menguat. https://market.bisnis.com/read/20260918/189/2005177/harga-ayam-naik-30-prospek-emiten-unggas-menguat
Kabar Bursa. (2026). Lonjakan harga ayam dan menguatnya transaksi asing bayangi kinerja sektor perunggasan. https://www.kabarbursa.com/makro/lonjakan-harga-ayam-dan-menguatnya-transaksi-asing-bayangi-kinerja-sektor-perunggasan
Katadata. (2026a, 4 September). Beras premium langka di ritel, pemasok enggan jual di bawah HET. https://katadata.co.id/berita/industri/6a9a89c729c54/beras-premium-langka-di-ritel-pemasok-enggan-jual-di-bawah-het
Katadata. (2026b, 3 September). Beras premium langka di ritel modern, produsen beralih ke beras fortifikasi? https://katadata.co.id/berita/industri/6a996246b61d8/beras-premium-langka-di-ritel-modern-produsen-beralih-ke-beras-fortifikasi
Kelompok 3. (2026). Tabel faktor penawaran enam komoditas pangan di Bintaro Jaya (revisi) [Data primer survei pedagang, tidak dipublikasikan].
Kontan. (2026, 4 Oktober). Peternak ayam broiler tertekan, harga jual masih di bawah HPP. https://industri.kontan.co.id/news/peternak-ayam-broiler-tertekan-harga-jual-masih-di-bawah-hpp
Mankiw, N. G. (2018). Principles of economics (8th ed.). Cengage Learning.
Nafisah, S. N., Suharno, & Tinaprilla, N. (2014). Sikap dan persepsi konsumen terhadap jeruk lokal dan jeruk impor di pasar modern Kota Bogor. Forum Agribisnis, 4(1), 71–84. https://doi.org/10.29244/fagb.4.1.71-84
Republika. (2025, 25 Agustus). Harga beras premium melonjak, tembus Rp138 ribu. https://ekonomi.republika.co.id/berita/t1j31u416/harga-beras-premium-melonjak-tembus-rp138-ribu
Republika. (2026, 30 September). Bapanas klaim harga beras premium di PIBC masih wajar. https://ekonomi.republika.co.id/berita/tm6990349/bapanas-klaim-harga-beras-premium-di-pibc-masih-wajar
Sujana, U. T., Irianto, H., & Khomah, I. (2020). Pengaruh elemen ekuitas merek terhadap keputusan pembelian pisang “Sunpride” di Kota Bandar Lampung. Jurnal Agrisep, 19(1), 15–26. https://doi.org/10.31186/jagrisep.19.1.15-26
Sukirno, S. (2013). Mikroekonomi: Teori pengantar (Edisi ke-3). Rajawali Pers.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda