Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Harga Pangan Naik, Warga Ciputat Makin Cermat Berbelanja di Pasar Tradisional

Harga Pangan Naik, Warga Ciputat Makin Cermat Berbelanja di Pasar Tradisional

Penulis:
  • Adetya Dhina Yushadiyanti, Aura Mumtaz Rasyanov, Aurell Tsabitah Dhafiyah, Najma Sofwatannida, Shavita Mantika, Cetta Janitra Utomo, Queen Syafaa Meilinka, Aura Nabila Putri Azis, Aura Walisah, dan Salsa Nabila.

Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, SP, M.Si

Afiliasi: Pengantar Ekonomi Mikro, Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Danang Purnama
14 Oktober 2026, 15.27 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Harga Naik

Tangerang Selatan, JurnalPost.com — Perubahan harga kebutuhan pangan membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut terlihat dari aktivitas jual beli di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, ketika pembeli harus menyesuaikan jumlah belanja, membandingkan harga, hingga mencari bahan pangan alternatif yang lebih terjangkau.

Meski harga sejumlah komoditas mengalami perubahan, aktivitas perdagangan tetap berlangsung. Kangkung, ikan lele, daging ayam, bawang merah, dan semangka masih menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat sehari-hari.

IKLAN

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 pedagang di Pasar Ciputat, ditemukan bahwa perubahan harga tidak selalu membuat konsumen berhenti membeli. Sebagian pembeli justru mengubah strategi belanja dengan melakukan tawar-menawar, membeli dalam jumlah tertentu untuk memperoleh harga lebih murah, atau mengganti produk dengan komoditas lain.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap dinamika harga sekaligus memberikan gambaran mengenai perilaku konsumen dalam perspektif ekonomi mikro.

Kondisi Pasar Ciputat dan Perubahan Perilaku Pembeli

Pasar Ciputat merupakan salah satu pusat perdagangan tradisional di Kota Tangerang Selatan yang telah beroperasi sejak 1992. Pasar ini menjadi tempat masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan, terutama bahan pangan segar.

Namun, aktivitas perdagangan di kawasan tersebut tidak sepenuhnya terpusat di dalam bangunan pasar.

Penelitian Pereira dan rekan-rekannya pada 2020 mencatat bahwa dari 1.137 kios dan los yang tersedia, sebanyak 441 kios dan 68 los masih digunakan untuk kegiatan perdagangan.

Penelitian tersebut juga menunjukkan perbedaan beban biaya antara pedagang di dalam gedung dan pedagang kaki lima. Biaya tahunan pedagang di dalam bangunan diperkirakan mencapai Rp10,11 juta, sedangkan pedagang kaki lima sekitar Rp4,38 juta.

Pantau harga

Perbedaan tersebut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan pilihan lokasi berjualan.

Penelitian Salsabillah pada 2026 juga menemukan bahwa sejumlah kios di lantai dua dan tiga bangunan pasar masih kosong atau mengalami kerusakan meskipun kawasan tersebut telah beberapa kali direvitalisasi.

Di tengah kondisi itu, aktivitas perdagangan tetap berjalan dan memperlihatkan karakteristik permintaan yang berbeda pada setiap komoditas.

Kangkung Rp4.000 per Ikat, Pembeli Mulai Memperhitungkan Pengeluaran

Kangkung menjadi salah satu komoditas sayuran yang relatif mudah dijangkau masyarakat. Berdasarkan wawancara, dua pedagang di Pasar Ciputat menjual kangkung dengan harga Rp4.000 per ikat.

Meskipun menawarkan harga yang sama, kedua pedagang memiliki pengalaman berbeda terkait tingkat permintaan.

Pak Tumadi mengungkapkan bahwa pembelian kangkung sedang mengalami penurunan. Menurutnya, sebagian pelanggan harus mengalokasikan penghasilan untuk kebutuhan pendidikan anak, seperti biaya sekolah dan kuliah.

Ia memiliki sekitar 20–25 pelanggan tetap setiap hari dengan jumlah stok mencapai 2.000 ikat.

Sementara itu, Pak Adi Suparto menyampaikan bahwa permintaan kangkung di lapaknya cenderung stabil. Ia melayani sekitar 15 pelanggan tetap dengan persediaan sekitar 1.000 ikat per hari.

Untuk menarik pembeli, pedagang juga menawarkan harga berdasarkan jumlah pembelian. Dua ikat kangkung dijual Rp7.000, sedangkan tiga ikat dibanderol Rp10.000.

cek pasar

Dengan skema tersebut, harga satuan menjadi lebih rendah dibandingkan pembelian satu ikat.

Selain daya beli masyarakat, kondisi cuaca turut memengaruhi perdagangan kangkung. Pada musim hujan, terutama sekitar Januari hingga Februari, risiko sayuran membusuk meningkat sehingga dapat memengaruhi pasokan dan harga.

Dalam menentukan pilihan belanja, konsumen juga dapat beralih ke bayam yang dijual sekitar Rp4.000 per ikat. Sementara itu, tempe dengan harga Rp5.000–Rp10.000 menjadi salah satu bahan pangan pendamping yang kerap dibeli masyarakat.

Permintaan Ayam Berubah, Pedagang Soroti Pengaruh Program MBG

Daging ayam termasuk komoditas yang cukup sensitif terhadap perubahan harga.

Dua pedagang yang diwawancarai, yakni Pak Kiki dan Pak Irfan, menjelaskan bahwa harga ayam di lapak mereka berada pada kisaran Rp45.000 hingga Rp60.000 per ekor, bergantung pada ukuran dan kondisi barang.

Pak Kiki menyebut harga ayam berkisar Rp45.000–Rp60.000 per ekor, sedangkan Pak Irfan menawarkan harga sekitar Rp45.000–Rp50.000 per ekor.

Ketika harga ayam meningkat, sebagian konsumen mempertimbangkan telur sebagai bahan pangan pengganti dengan harga sekitar Rp27.000 per kilogram.

Kedua pedagang juga mengaitkan perubahan permintaan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut pengamatan mereka, permintaan ayam cenderung mengalami penurunan ketika kegiatan MBG sedang libur. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi harga di tingkat pedagang.

Sebagai gambaran, pada 6 Maret 2026 harga ayam ras di Pasar Ciputat dilaporkan mencapai Rp45.000 per kilogram, meningkat dari kisaran Rp40.000 per kilogram menjelang Lebaran.

Pada akhir Maret, data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga ayam di pasar tersebut berada di sekitar Rp35.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga acuan penjualan sebesar Rp40.000.

Perubahan harga dan permintaan ayam menunjukkan bahwa kondisi pasar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan konsumen, tetapi juga oleh perubahan kebutuhan dari berbagai kelompok pembeli.

Meski demikian, hubungan antara pelaksanaan MBG dan pergerakan harga ayam masih memerlukan kajian lebih lanjut agar dapat diketahui seberapa besar pengaruhnya dibandingkan faktor pasokan dan distribusi.

Bawang Merah, Tawar-Menawar Jadi Cara Mendapat Harga Lebih Murah

Berbeda dengan komoditas lainnya, perdagangan bawang merah di Pasar Ciputat memperlihatkan kuatnya peran tawar-menawar dalam menentukan harga transaksi.

Ibu Santi menyampaikan bahwa harga bawang merah di lapaknya sedang mengalami penurunan menjadi sekitar Rp26.000 per kilogram dari harga normal Rp30.000–Rp35.000.

Sementara itu, Pak Firdaus menyebut harga normal bawang merah sekitar Rp35.000 per kilogram dan dapat meningkat hingga Rp40.000–Rp50.000 dalam kondisi tertentu.

Kedua pedagang memperoleh pasokan melalui tengkulak atau distributor dari pasar induk. Persediaan yang mereka miliki berkisar 15–30 kilogram dan umumnya habis dalam waktu sekitar tiga hari.

Menariknya, harga awal yang ditawarkan belum tentu menjadi harga akhir transaksi.

Pada salah satu pedagang, harga awal Rp26.000 per kilogram akhirnya dapat dinegosiasikan menjadi Rp50.000 untuk dua kilogram atau Rp25.000 per kilogram. Pembelian lima kilogram bahkan ditawarkan dengan harga Rp120.000 atau Rp24.000 per kilogram.

Sementara itu, pada pedagang lainnya, pembelian dua kilogram disepakati Rp65.000 dan empat kilogram Rp120.000.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pembeli yang membeli dalam jumlah lebih besar berpeluang mendapatkan harga satuan lebih rendah.

Dalam perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menggambarkan pengaruh jumlah pembelian dan proses negosiasi terhadap pembentukan harga transaksi.

Ikan Lele Tetap Dicari, Persaingan Harga Menjadi Pertimbangan

Komoditas ikan lele juga memperlihatkan persaingan harga antarpenjual.

Pak Haryadi menjual ikan lele sekitar Rp26.000 per kilogram, sedangkan Pak Putra menawarkan harga Rp28.000 per kilogram.

IKLAN

Selain melayani konsumen secara langsung, Pak Haryadi juga menjadi pemasok ikan bagi pedagang lain. Karena itu, jumlah persediaannya menyesuaikan kebutuhan pelanggan dan mitra dagang.

Menurut perkiraan Pak Haryadi, sebagian konsumennya memiliki penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan dengan anggaran belanja harian kurang lebih Rp100.000.

Keterbatasan anggaran membuat pembeli harus mempertimbangkan harga dan jumlah bahan pangan sebelum memutuskan pembelian.

Pedagang juga memberikan penawaran dalam bentuk paket. Tiga kilogram ikan lele dapat dibeli dengan harga Rp70.000, sedangkan lima kilogram ditawarkan Rp130.000.

Di sisi lain, konsumen memiliki pilihan ikan alternatif, seperti nila dengan harga Rp25.000–Rp26.000 per kilogram dan tongkol sekitar Rp24.000 per kilogram.

Pak Putra menilai persaingan harga dan kualitas menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli ikan tidak semata-mata ditentukan oleh kebutuhan konsumsi, tetapi juga dipengaruhi oleh perbandingan harga, kualitas, dan kemampuan belanja.

Harga Semangka Naik, Pembeli Beralih ke Buah Lain

Perubahan musim dan harga dari produsen menjadi faktor yang memengaruhi perdagangan semangka.

Salah seorang pedagang menyampaikan bahwa harga semangka meningkat dari Rp10.000 menjadi Rp14.000 per kilogram karena belum memasuki masa panen yang optimal.

Pedagang lainnya menyebut harga semangka naik dari Rp13.000 menjadi Rp15.000 per kilogram mengikuti perubahan harga dari pemasok.

Kedua pedagang memperoleh buah dari Pasar Induk Kramat Jati. Pedagang pertama melakukan pengadaan sekitar 100 buah setiap minggu, sedangkan pedagang kedua menyediakan sekitar 10 buah per hari.

Ketika harga semangka meningkat, pembeli memiliki kecenderungan mempertimbangkan buah lain, seperti pepaya seharga Rp12.000 dan melon sekitar Rp18.000.

Namun, respons konsumen terhadap kenaikan harga tidak selalu sama.

Pedagang pertama menilai pelanggan relatif tetap membeli semangka meskipun harga meningkat. Sebaliknya, pedagang kedua mengamati bahwa konsumen menjadi lebih selektif terhadap harga dan kualitas buah.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa respons konsumen dapat dipengaruhi oleh kebiasaan belanja, kebutuhan, pendapatan, serta preferensi terhadap kualitas produk.

Pembelian semangka juga cenderung meningkat pada awal bulan ketika sebagian konsumen baru menerima gaji.

Berdasarkan penuturan pedagang, pengeluaran pelanggan untuk membeli semangka diperkirakan berkisar Rp120.000 hingga Rp240.000 per bulan, bergantung pada frekuensi dan jumlah pembelian.

Memahami Permintaan Konsumen melalui Perspektif Ekonomi Mikro

Hasil wawancara terhadap para pedagang di Pasar Ciputat menunjukkan bahwa perubahan harga memiliki dampak berbeda terhadap setiap komoditas.

Kangkung dan bawang merah, misalnya, merupakan bahan yang sering digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Karena itu, pembeli tetap membutuhkan kedua komoditas tersebut meskipun harus menyesuaikan jumlah pembelian.

Sementara itu, konsumen ayam, ikan lele, dan semangka memiliki pilihan produk alternatif yang dapat dipertimbangkan ketika terjadi kenaikan harga.

Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep permintaan, barang substitusi, dan elastisitas harga dalam ekonomi mikro.

Barang substitusi merupakan produk yang dapat digunakan sebagai pengganti barang lain untuk memenuhi kebutuhan yang relatif sama. Sementara itu, elastisitas harga permintaan menggambarkan tingkat perubahan jumlah barang yang diminta ketika harga mengalami perubahan.

Dari hasil wawancara, terlihat bahwa sebagian pembeli merespons perubahan harga dengan mengurangi jumlah pembelian, mencari produk alternatif, atau melakukan negosiasi dengan penjual.

Namun, penilaian mengenai elastisitas dalam penelitian ini masih berdasarkan pengalaman dan pengamatan pedagang, bukan hasil perhitungan statistik.

Karena wawancara hanya melibatkan 10 pedagang, temuan tersebut belum dapat digeneralisasikan untuk menggambarkan seluruh konsumen maupun pedagang di Pasar Ciputat.

Meskipun demikian, pengamatan lapangan ini memberikan gambaran mengenai bagaimana teori ekonomi mikro dapat ditemukan dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.

Strategi Belanja Menjadi Kunci di Tengah Perubahan Harga

Kondisi perdagangan di Pasar Ciputat memperlihatkan bahwa masyarakat terus menyesuaikan perilaku konsumsi untuk menghadapi perubahan harga kebutuhan pangan.

Pembeli tidak selalu berhenti berbelanja ketika harga naik. Sebaliknya, mereka mencari cara agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Tawar-menawar, membandingkan harga antarpenjual, membeli dalam jumlah tertentu, hingga beralih ke barang pengganti merupakan beberapa strategi yang ditemukan dalam aktivitas pasar.

Bagi pedagang, memahami perilaku tersebut menjadi penting untuk menentukan harga, menjaga kualitas produk, serta mempertahankan pelanggan.

Di sisi lain, kestabilan pasokan dari produsen dan distributor juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keberlangsungan perdagangan.

Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pasar tradisional bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan juga ruang untuk memahami hubungan antara harga, pendapatan, permintaan, dan keputusan ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, naik-turunnya harga pangan tidak selalu menghentikan aktivitas belanja. Namun, perubahan tersebut mendorong konsumen untuk semakin cermat dalam menentukan pilihan.

Ketika harga berubah, masyarakat pun menyesuaikan cara berbelanja. Di tengah keterbatasan anggaran, setiap rupiah menjadi pertimbangan penting untuk menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Daftar Pustaka

Argarini, M., Wastra, A. R., & Sari, R. A. P. (2016). Analisis rantai nilai komoditas ikan air tawar unggulan di Kota Tangerang. Agribusiness Journal, 10(1), 1–12.

Dewi, F. S. (2026). Bapanas klaim harga pangan turun usai sempat melonjak saat Lebaran.

Kelompok 2. (2026). Analisis pasar permintaan di Pasar Ciputat. Presentasi tugas kelompok, tidak dipublikasikan.

Nabila, M. (2026). Harga cabai meroket 103%, efek El Niño mulai terasa.

Pereira, N. D. S., Herlambang, S., Rahardjo, P., & Santoso, S. (2020). Studi transformasi pasar tradisional, objek studi Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Jurnal STUPA, 2(2), 2719–2730.

Purnomo, H. (2026). Hasil Wamendag keliling Pasar Ciputat: Harga cabai, ayam, telur naik.

Salsabillah, J. (2026). Analisis efektifitas desain Pasar Ciputat, Tangerang Selatan. Skripsi sarjana, Universitas Pembangunan Jaya.

Yudha, T. (2026). Harga ayam dan telur naik, Mentan sebut efek MBG.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/harga-pangan-naik-warga-ciputat-makin-cermat-berbelanja-di-pasar-tradisional/98165/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 02.05 WITA

  • #Ekonomi Mikro
  • #Pasar Tradisional
  • #Perilaku Konsumen
  • #harga pangan
  • #pasar ciputat
  • #tangerang selatan

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.