Observasi lima komoditas di pasar tradisional Tangerang Selatan menunjukkan harga antarpedagang nyaris seragam, sementara pasokannya bergantung pada cuaca, pasar ekspor, dan kebijakan yang jauh dari lapak.
TANGERANG SELATAN, JurnalPost.com — Di Pasar Cimanggis Ciputat, pembeli yang menanyakan harga satu kilogram cabai atau sebutir kelapa jarang mendapat jawaban rumit. Angkanya langsung disebutkan oleh pedagang. Namun, harga tersebut sesungguhnya terbentuk melalui berbagai faktor yang jauh dari lapak, mulai dari hujan di sentra pertanian, tawaran harga eksportir, hingga kalender sekolah.
Observasi mahasiswa terhadap lima komoditas, yakni tahu sutra, sawi putih organik, cabai merah besar, kelapa parut, dan ayam broiler, memberikan gambaran mengenai bagaimana mekanisme penawaran bekerja di pasar tradisional.
Berdasarkan hasil pengamatan Kelompok 2 (2026), penawaran di pasar tersebut dipengaruhi oleh lima faktor utama, yaitu harga barang, teknologi, penjualan atau produksi, jumlah penjual, dan kondisi cuaca.
Tulisan ini membahas kelima faktor tersebut dengan menggabungkan data observasi lapangan dan berbagai laporan pada periode 2025–2026, sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang dapat maupun belum dapat dijelaskan melalui data yang tersedia.
Harga Nyaris Seragam, Kecuali Kelapa
Kelompok 2 melakukan pengamatan terhadap dua pedagang untuk setiap komoditas. Hasil observasi menunjukkan bahwa perbedaan harga antarpedagang relatif kecil, yakni sekitar 1–2 persen untuk tahu sutra, sawi putih, cabai merah besar, dan ayam broiler (Kelompok 2, 2026).
Kelapa parut menjadi pengecualian. Salah satu pedagang menjual kelapa seharga Rp20.000 per butir, sedangkan pedagang lainnya menetapkan harga Rp15.000 per butir.
Berdasarkan catatan pengamatan, pedagang yang menawarkan harga lebih tinggi mencantumkan berat pada setiap butir kelapa dan menyertakan sertifikat. Sementara itu, kedua pedagang sama-sama menggunakan mesin parut elektronik.
Perbedaan layanan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang menjelaskan variasi harga. Namun, pengamatan terhadap dua pedagang belum cukup untuk memastikan hubungan tersebut.
Tabel 1. Harga, Stok, dan Jumlah Penjual Berdasarkan Hasil Observasi di Pasar Cimanggis Ciputat
| Komoditas | Harga Penjual 1 | Harga Penjual 2 | Selisih* | Stok Harian per Penjual | Jumlah Penjual |
|---|---|---|---|---|---|
| Tahu sutra premium | Rp47.666/kg | Rp46.700/kg | ±2% | 100 kg | 3 |
| Sawi putih organik | Rp25.000/kg | Rp24.765/kg | ±1% | 100 kg | 5 |
| Cabai merah besar premium | Rp61.533/kg | Rp62.430/kg | ±1,5% | 1.000 kg | 4 |
| Kelapa parut premium | Rp20.000/butir | Rp15.000/butir | ±33% | 200 butir | 7 |
| Ayam broiler | Rp45.200/kg | Rp44.300/kg | ±2% | 700 ekor | 6 |
Keterangan: Selisih persentase dihitung berdasarkan harga terendah. Sumber: Kelompok 2 (2026), dengan perhitungan selisih oleh penulis.

Seluruh pedagang yang diamati menggunakan kemasan dan timbangan dalam kegiatan perdagangan. Pada komoditas tertentu, penggunaan teknologi juga terlihat dalam proses pengolahan produk.
Tahu sutra dipotong menggunakan alat otomatis, ayam broiler diproses dengan mesin pencabut bulu, sedangkan pedagang cabai menyediakan mesin penggiling untuk memenuhi pesanan cabai giling.
Kemiripan penggunaan teknologi dan perlengkapan perdagangan tersebut diduga turut memengaruhi kedekatan harga antarpedagang.
Perbandingan dengan produk substitusi juga memperlihatkan posisi harga setiap komoditas. Tahu sutra dijual sekitar 40 persen lebih mahal dibandingkan tahu kuning yang memiliki harga Rp33.400 per kilogram.
Sawi putih organik memiliki harga lebih dari dua kali lipat dibandingkan sawi hijau yang dijual Rp11.400 per kilogram. Sebaliknya, ayam broiler dijual sekitar separuh harga ayam kampung yang mencapai Rp87.857 per kilogram.
Cabai merah besar justru memiliki harga sekitar 21–22 persen lebih rendah dibandingkan cabai merah keriting yang dijual Rp79.200 per kilogram (Kelompok 2, 2026).
Dari sisi skala perdagangan, cabai merah besar memiliki stok harian terbesar, yakni 1.000 kilogram per penjual. Sementara itu, stok tahu sutra dan sawi putih organik masing-masing mencapai 100 kilogram.
Ayam broiler memiliki stok sekitar 700 ekor per hari, sedangkan kelapa parut mencapai 200 butir.
Jumlah penjual yang tercatat juga berbeda. Tahu sutra memiliki jumlah pedagang paling sedikit, yakni tiga orang, sedangkan kelapa parut memiliki jumlah terbanyak dengan tujuh pedagang (Kelompok 2, 2026).
Selain harga dan stok, terdapat perbedaan layanan yang diberikan pedagang. Salah satu pedagang sawi putih organik menyediakan layanan pengembalian barang. Sementara itu, pedagang cabai melakukan pemilihan kualitas serta pencabutan batang cabai secara manual sebelum produk dikemas.
Perbedaan tersebut tidak selalu tercermin dalam label harga, tetapi menjadi bagian dari nilai produk dan layanan yang ditawarkan kepada konsumen.
Hujan dan Pasokan yang Tidak Bisa Dipercepat
Kondisi cuaca merupakan salah satu faktor eksternal yang memengaruhi penawaran komoditas pertanian. Baik kemarau ekstrem maupun hujan lebat dapat mengganggu proses produksi, distribusi, dan ketersediaan barang di pasar.
Kelompok 2 mencatat bahwa perubahan cuaca berpengaruh terhadap kelima komoditas yang diamati.
Dampak cuaca terhadap harga terlihat dalam perkembangan pasar pada awal 2026. Pada 8 Januari 2026, harga sawi hijau di Pasar Ciputat meningkat dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 per kilogram. Salah seorang pedagang menyebutkan bahwa kenaikan tersebut berkaitan dengan lahan pertanian yang mengalami banjir (Lestarini, 2026).
Kondisi serupa terjadi pada komoditas cabai. Pada 6 Maret 2026, pedagang cabai di Pasar Ciputat menyampaikan bahwa pasokan terganggu akibat hujan yang berlangsung terus-menerus (detikFinance, 2026).
Hujan tidak hanya memengaruhi penawaran, tetapi juga permintaan konsumen.
Pedagang sayur di Pasar Ciputat menjelaskan bahwa omzet penjualan pada musim hujan berbeda karena sebagian masyarakat enggan datang ke pasar. Di sisi lain, seorang ibu rumah tangga mengaku mengurangi pembelian kebutuhan pokok ketika harga meningkat (Nordiansyah, 2026).
Dengan demikian, pedagang dapat menghadapi dua tekanan secara bersamaan, yakni keterbatasan pasokan dan penurunan daya beli atau volume pembelian konsumen.
Dalam teori ekonomi mikro, kemampuan produsen atau penjual untuk menyesuaikan jumlah barang yang ditawarkan akibat perubahan harga dikenal sebagai elastisitas penawaran.
Menurut Sukirno (2016), elastisitas penawaran menunjukkan seberapa besar respons jumlah barang yang ditawarkan terhadap perubahan harga.
Penelitian Fajar (2022), yang menggunakan data bulanan Badan Pusat Statistik periode 2008–2018, menunjukkan bahwa respons penawaran cabai besar tergolong inelastis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Artinya, perubahan harga tidak selalu diikuti perubahan jumlah penawaran dalam proporsi yang sama.
Kelompok 2 juga mencatat bahwa sawi putih memerlukan waktu sekitar 40–60 hari sejak penanaman hingga panen. Sementara itu, tahu sutra memiliki karakteristik sangat lembut dengan kandungan air tinggi sehingga tidak dapat disimpan dalam waktu lama ketika harga mengalami penurunan (Kelompok 2, 2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak dapat langsung direspons dengan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan. Proses produksi, karakteristik produk, dan keterbatasan waktu menjadi faktor yang menentukan kemampuan penjual dalam menyesuaikan pasokan.
Kelapa: Ketika Ekspor Lebih Menggiurkan
Komoditas kelapa memberikan gambaran mengenai bagaimana permintaan pasar internasional dapat memengaruhi ketersediaan dan harga barang di pasar domestik.
Pada April 2025, harga kelapa bulat di sejumlah pasar wilayah Jakarta dan sekitarnya mencapai Rp20.000–Rp25.000 per butir.

Sejumlah pedagang mengaitkan kenaikan tersebut dengan meningkatnya ekspor kelapa ke Tiongkok. Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengakui bahwa peningkatan ekspor menjadi salah satu penyebab naiknya harga kelapa di dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa nilai ekspor kelapa berkulit selama Januari–Maret 2025 mencapai US$45,6 juta, dengan sebagian besar tujuan ekspor ke Tiongkok (Madjid, 2025).
Sebelumnya, pada Maret 2025, Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa permintaan ekspor dan kebutuhan industri dalam negeri terhadap kelapa sama-sama tinggi (Damayanti, 2025).
Dalam observasi Kelompok 2 pada 2026, harga kelapa parut di Pasar Cimanggis Ciputat berada pada kisaran Rp15.000–Rp20.000 per butir.
Harga tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat harga yang sempat terjadi pada April 2025. Namun, harga tertinggi yang ditemukan dalam observasi masih melampaui kisaran normal Rp10.000–Rp15.000 per butir sebagaimana disampaikan pedagang di Pasar Rawa Bebek, Jakarta (detikFinance, 2025).
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mekanisme penawaran komoditas tidak hanya dipengaruhi kondisi pasar lokal, tetapi juga berkaitan dengan perubahan permintaan pada tingkat nasional dan internasional.
Dapur MBG dan Sepinya Pasar Saat Libur Sekolah
Faktor lain yang turut menjadi perhatian dalam perkembangan pasar pangan adalah perubahan permintaan yang berkaitan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program MBG sempat dihentikan sementara pada 22 Juni hingga 13 Juli 2026 selama periode libur sekolah (Bisnis.com, 2026b).
Dalam periode tersebut, sejumlah pedagang di berbagai daerah melaporkan adanya penurunan harga komoditas pangan.
Di Pasar Legi, Solo, harga sawi putih turun dari Rp8.000 menjadi Rp5.000 per kilogram.
Pedagang mengaitkan penurunan harga tersebut dengan beberapa faktor, antara lain liburnya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), meningkatnya hasil panen, berkurangnya kegiatan hajatan, serta libur sekolah (RRI, 2026).
Pantauan terhadap harga komoditas pangan di pasar tradisional Jawa Barat pada 7 Juli 2026 juga menunjukkan kecenderungan penurunan harga telur, daging ayam, dan cabai. Penghentian sementara kegiatan MBG diduga menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut (GoodStats, 2026).
Setelah kegiatan MBG kembali berjalan, harga rata-rata nasional telur ayam ras dilaporkan meningkat sebesar 8,12 persen menjadi Rp31.300 per kilogram pada 20 Juli 2026 (Bisnis.com, 2026b).
Meskipun demikian, hubungan antara perubahan aktivitas MBG dan harga komoditas di Pasar Cimanggis Ciputat belum dapat dipastikan secara langsung.
Hal ini disebabkan belum tersedianya data harga khusus Pasar Cimanggis yang mampu memisahkan pengaruh pelaksanaan MBG dari faktor lain, seperti panen raya, perubahan pasokan, maupun kondisi permintaan masyarakat.
Oleh karena itu, pengaruh MBG terhadap pergerakan harga di pasar yang menjadi objek observasi masih perlu dikaji lebih lanjut.
Ayam dan Tahu: Tekanan Permintaan dan Biaya Produksi
Perubahan harga ayam broiler memperlihatkan bagaimana momentum permintaan dapat memengaruhi kondisi pasar.
Pada 6 Maret 2026, menjelang Hari Raya Idulfitri, pedagang di Pasar Ciputat menjual ayam dengan harga sekitar Rp45.000 per kilogram, meningkat dari harga biasanya sebesar Rp40.000 per kilogram (detikFinance, 2026).
Sekitar tiga pekan kemudian, Badan Pangan Nasional mencatat harga ayam berada pada kisaran Rp35.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga acuan penjualan sebesar Rp40.000 per kilogram (Bisnis.com, 2026a).
Kelompok 2 juga mencatat sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa penawaran ayam broiler memiliki karakteristik elastis, berbeda dengan beberapa komoditas pertanian seperti cabai dan sawi putih (Kelompok 2, 2026).
Sementara itu, komoditas tahu menghadapi tekanan yang berkaitan dengan biaya bahan baku.
Pada April 2026, perajin tahu di Jakarta Selatan mengeluhkan meningkatnya harga kedelai. Salah satu strategi yang dilakukan untuk mempertahankan usaha adalah memperkecil ukuran tahu tanpa menaikkan harga jual (NU Online, 2026).
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan biaya produksi tidak selalu diteruskan secara langsung melalui kenaikan harga kepada konsumen.
Untuk tahu sutra yang berada pada segmen harga premium, kemungkinan terdapat strategi penyesuaian yang berbeda. Namun, observasi ini belum melakukan pengukuran secara khusus terhadap struktur biaya produksi tahu sutra.
Dengan demikian, hubungan antara harga bahan baku, biaya produksi, dan penawaran tahu sutra masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tabel 2. Faktor Penggerak Harga dan Pasokan Berdasarkan Bukti yang Dilaporkan
| Faktor Penggerak | Komoditas | Bukti yang Ditemukan | Cakupan Data |
|---|---|---|---|
| Cuaca atau hujan | Sawi dan cabai | Harga sawi hijau meningkat dari Rp8.000 menjadi Rp12.000/kg pada Januari 2026. Pasokan cabai terganggu akibat hujan pada Maret 2026. | Pasar Ciputat |
| Pasar ekspor | Kelapa | Harga kelapa mencapai Rp20.000–Rp25.000/butir. Nilai ekspor kelapa berkulit mencapai US$45,6 juta pada Januari–Maret 2025. | Jakarta dan sekitarnya; nasional |
| Permintaan MBG | Sayur, telur, ayam, dan cabai | Harga sawi putih turun dari Rp8.000 menjadi Rp5.000/kg selama libur MBG pada Juli 2026. | Solo, Jawa Barat, dan nasional |
| Hari raya | Ayam | Harga ayam meningkat dari Rp40.000 menjadi Rp45.000/kg menjelang Lebaran pada Maret 2026. | Pasar Ciputat |
| Biaya bahan baku | Tahu | Ukuran tahu diperkecil tanpa mengubah harga jual akibat meningkatnya harga kedelai pada April 2026. | Jakarta Selatan |
Sumber: Lestarini (2026), detikFinance (2026), Madjid (2025), RRI (2026), dan NU Online (2026). Diolah oleh penulis.
Keterbatasan Observasi dan Implikasi Ekonomi
Observasi terhadap mekanisme penawaran di Pasar Cimanggis Ciputat memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara harga, teknologi, pasokan, jumlah pedagang, serta kondisi eksternal yang memengaruhi kegiatan perdagangan.
Namun, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Pertama, pengamatan hanya dilakukan terhadap dua pedagang pada setiap komoditas sehingga hasilnya belum dapat menggambarkan keseluruhan kondisi pasar.
Kedua, observasi dilakukan dalam satu periode pengamatan dan belum mencakup perubahan harga maupun stok secara berkala.
Ketiga, data mengenai keseluruhan volume pasokan harian di Pasar Cimanggis Ciputat belum tersedia secara terbuka.
Akibat keterbatasan tersebut, sebagian analisis menggunakan informasi pendukung yang berasal dari Pasar Ciputat serta sejumlah daerah lainnya.
Berdasarkan catatan Kelompok 2, pemasok komoditas yang diperdagangkan berasal dari berbagai sentra produksi, antara lain Kediri, Bandung, Karanganyar, Cianjur, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya.
Kondisi produksi, distribusi, serta perubahan harga di daerah-daerah tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga barang di Pasar Cimanggis Ciputat.
Secara ekonomi, temuan ini mengindikasikan bahwa pedagang pasar tradisional dalam banyak situasi lebih berperan sebagai penerima harga (price taker) daripada pihak yang sepenuhnya menentukan harga pasar.
Harga barang terbentuk melalui interaksi antara permintaan, penawaran, biaya produksi, kondisi distribusi, serta berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali pedagang.
Oleh karena itu, ketersediaan data harga dan pasokan yang lebih terbuka pada tingkat pasar menjadi penting untuk mendukung pengambilan keputusan.
Informasi tersebut dapat membantu pedagang dalam mengatur persediaan, konsumen dalam menentukan pilihan pembelian, serta peneliti dalam membedakan perubahan harga musiman dari persoalan struktural dalam sistem perdagangan pangan.
Daftar Pustaka
Bisnis.com. (2026a, 27 Maret). Bapanas klaim harga pangan turun usai sempat melonjak saat Lebaran. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260327/12/1962523/bapanas-klaim-harga-pangan-turun-usai-sempat-melonjak-saat-lebaran
Bisnis.com. (2026b, 20 Juli). Harga telur ayam naik usai Program MBG bergulir lagi. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260720/12/1989322/harga-telur-ayam-naik-usai-program-mbg-bergulir-lagi
Damayanti, A. (2025, 21 Maret). Mendag akui harga kelapa naik, ini biang keroknya. detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7835092/mendag-akui-harga-kelapa-naik-ini-biang-keroknya
detikFinance. (2025). Harga kelapa naik, ternyata banyak diekspor ke China hingga Vietnam. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7937190/harga-kelapa-naik-ternyata-banyak-diekspor-ke-china-hingga-vietnam
detikFinance. (2026, 6 Maret). Hasil Wamendag keliling Pasar Ciputat: Harga cabai, ayam, telur naik. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8387130/hasil-wamendag-keliling-pasar-ciputat-harga-cabai-ayam-telur-naik
Fajar, M. (2022). Pemodelan respon penawaran komoditas cabai besar. Euclid, 9(2), 75–81. https://doi.org/10.33603/e.v9i2.5178
GoodStats. (2026, 7 Juli). Harga komoditas pangan hari ini 7 Juli 2026: Mayoritas turun, cabai rawit hijau naik 4,85%. https://goodstats.id/article/harga-komoditas-pangan-hari-ini-7-juli-2026-mayoritas-turun-cabai-rawit-hijau-naik-4-85-M3BkP
Kelompok 2 Laki-laki. (2026). Analisis penawaran komoditas di Pasar Cimanggis Ciputat [Presentasi]. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Lestarini, A. H. (2026, 9 Januari). Harga kemiri dan sayur-mayur di Pasar Ciputat melonjak. Metrotvnews.com. https://www.metrotvnews.com/play/KRXCQnMR-harga-kemiri-dan-sayur-mayur-di-pasar-ciputat-melonjak
Madjid, Z. (2025, 22 April). Saat harga naik di dalam negeri, ekspor kelapa RI tembus US$45,6 juta. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250422071134-4-627650/saat-harga-naik-di-dalam-negeri-ekspor-kelapa-ri-tembus-us-456-juta
Nordiansyah, E. (2026, 9 Januari). Adu kiat ibu rumah tangga hadapi kenaikan harga pangan. Metrotvnews.com. https://www.metrotvnews.com/read/N0BC1x3B-adu-kiat-ibu-rumah-tangga-hadapi-kenaikan-harga-pangan
NU Online. (2026, 16 April). Pengrajin tahu atur strategi imbas kenaikan harga kedelai. https://nu.or.id/nasional/pengrajin-tahu-atur-strategi-imbas-kenaikan-harga-kedelai-mALMv
RRI. (2026, 6 Juli). Dapur SPPG libur, harga sayur mayur di Kota Solo alami penurunan signifikan. https://rri.co.id/surakarta/umkm/2549344/dapur-sppg-libur-harga-sayur-mayur-di-kota-solo-alami-penurunan-signifikan
Sukirno, S. (2016). Mikroekonomi: Teori pengantar (Edisi ke-3). RajaGrafindo Persada.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda