INDERALAYA, SUMATERA SELATAN, JurnalPost.com — Kebiasaan duduk terlalu lama dan kurangnya aktivitas fisik dapat memicu keluhan muskuloskeletal, seperti pegal dan rasa tidak nyaman pada tubuh. Melihat kondisi tersebut, tim Sriwijaya Young Innovation Program (SYIP) dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) menghadirkan program MOVEPLAY.
Program yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussalam Al-Fatah, Tanjung Pering, Sumatera Selatan, ini diinisiasi oleh Kirania, Cia, Alya, Aisyah, dan Natasya.
Berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2026, MOVEPLAY dirancang untuk meningkatkan pemahaman santriwati mengenai postur ergonomis sekaligus mendorong kebiasaan peregangan dan aktivitas fisik secara rutin.
Aktivitas belajar dan mengaji dalam waktu lama dengan posisi tubuh yang kurang ergonomis dapat memicu rasa pegal, kekakuan otot, serta keluhan pada leher dan punggung.
Berdasarkan asesmen awal bersama mitra, santriwati masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai posisi belajar yang ergonomis dan gerakan peregangan sederhana.
Kondisi ini mendorong perlunya edukasi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan aktif.
MOVEPLAY Menggabungkan Edukasi Kesehatan dan Gamifikasi
MOVEPLAY dikembangkan sebagai pendekatan edukasi kesehatan yang menggabungkan konsep Habit Loop dengan gamifikasi.
Pendekatan ini menggunakan pemicu (cue), rutinitas (routine), dan penghargaan (reward) untuk membantu peserta membangun kebiasaan aktif.
Dengan mengemas edukasi melalui permainan dan tantangan sederhana, santriwati diharapkan dapat mempelajari perilaku hidup aktif melalui pengalaman yang lebih menarik, bukan hanya melalui penyampaian materi.
Program ini menghadirkan empat media inovatif yang saling melengkapi.

Monolarga menjadi media permainan edukatif yang memadukan informasi kesehatan, kartu tantangan gerak, dan puzzle.
Selanjutnya, GAOL (Gacha) menghadirkan tantangan peregangan melalui sistem pengambilan tantangan secara acak sehingga peserta dapat mencoba gerakan yang berbeda.
Sementara itu, TrackMov digunakan untuk mencatat aktivitas dan kondisi tubuh serta melakukan refleksi terhadap kebiasaan bergerak.
Seluruh media tersebut didukung oleh buku panduan yang memuat petunjuk penggunaan dan pemeliharaan media program.
Santriwati Diajak Belajar Sambil Bermain
Untuk mengenalkan media tersebut secara langsung, tim MOVEPLAY mengajak santriwati Pondok Pesantren Darussalam Al-Fatah belajar sambil bermain.
Melalui Monolarga, santriwati diajak mengenal informasi kesehatan sekaligus menyelesaikan tantangan bersama.
Keseruan berlanjut ketika mereka mencoba GAOL dan mengambil kapsul berisi tantangan stretching atau peregangan untuk dipraktikkan.
Santriwati juga diperkenalkan dengan TrackMov sebagai sarana pemantauan aktivitas sehari-hari.
Tidak hanya melibatkan peserta, tim turut memberikan pengenalan dan pelatihan kepada guru pendamping agar media MOVEPLAY dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas fisik di lingkungan pesantren.
Bagi santriwati, kegiatan ini bukan sekadar kesempatan bermain, tetapi juga pengalaman untuk mengenali pentingnya menjaga kenyamanan tubuh di tengah rutinitas belajar dan mengaji.
Galuh, salah seorang santriwati, menceritakan bahwa MOVEPLAY membantunya memahami cara mengatasi rasa pegal yang kerap dirasakan setelah duduk dalam waktu lama.
“Program yang kakak-kakak bawa ini bermanfaat karena kami jadi lebih tahu cara mengatasi rasa pegal di punggung. Biasanya, kami sering sakit pinggang karena belajar dan mengaji dengan posisi duduk di lantai dalam waktu lama. Setelah mengikuti program ini, kami jadi tahu kalau badan mulai terasa pegal, kami bisa berhenti sebentar untuk stretching dan menggerakkan badan. Kami juga jadi tahu bagaimana gerakannya, supaya badan terasa lebih nyaman,” ungkap Galuh.
Pihak Pesantren Sambut Positif Program MOVEPLAY
Manfaat program juga dirasakan dari sudut pandang pihak pesantren.
Umi Nikmah, selaku perwakilan Pondok Pesantren Darussalam Al-Fatah, menyambut baik kehadiran MOVEPLAY yang memberikan aktivitas tambahan bagi santriwati sekaligus memperkenalkan pengetahuan kesehatan melalui permainan.
“Alhamdulillah, program ini sangat membantu santriwati karena mereka jadi memiliki kegiatan tambahan yang membuat mereka lebih banyak bergerak. Permainan yang dibawa adik-adik juga membantu mereka belajar dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Selama ini, santriwati terbiasa belajar di lantai sehingga terkadang mengalami sakit pinggang. Dengan adanya program ini, alhamdulillah mereka jadi belajar bagaimana posisi tubuh yang benar saat belajar dan mulai lebih senang melakukan aktivitas olahraga,” ujar Umi Nikmah.
Menanggapi pengalaman peserta dan dukungan pihak pesantren, Kirania Alliyu Putri selaku ketua tim MOVEPLAY menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menghubungkan edukasi kesehatan dengan praktik sederhana yang dapat dilakukan dalam keseharian.
“Melalui MOVEPLAY, kami ingin menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu disampaikan melalui materi, tetapi juga bisa melalui permainan dan aktivitas yang menyenangkan. Kami berharap santriwati tidak hanya mengetahui pentingnya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga mulai menerapkannya dalam keseharian, seperti memperbaiki posisi saat belajar dan melakukan stretching ketika tubuh mulai terasa pegal. Harapannya, kebiasaan ini bisa terus dilakukan meskipun program kami sudah selesai,” ungkap Kirania.
Mendorong Kebiasaan Aktif yang Berkelanjutan
Pengalaman santriwati dan dukungan pihak pesantren menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MOVEPLAY.
Namun, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari antusiasme selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dari bagaimana kebiasaan aktif mulai diterapkan dalam keseharian.
Melalui pemanfaatan Monolarga, GAOL, dan TrackMov, santriwati diharapkan semakin terbiasa mengenali kebutuhan tubuh, melakukan peregangan ketika mulai merasa pegal, serta memantau aktivitas fisiknya secara mandiri.
Evaluasi melalui tes pemahaman, pengamatan gerakan, dan catatan aktivitas menjadi bagian dari upaya meninjau perkembangan tersebut.
Keberlanjutan MOVEPLAY juga didukung melalui keterlibatan guru pendamping dan pemanfaatan media yang telah disediakan.
Kegiatan peregangan diharapkan dapat terus dilakukan dengan memanfaatkan waktu olahraga rutin di pesantren maupun melalui aktivitas ringan secara mandiri.
Dengan demikian, MOVEPLAY tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari keseharian santriwati.
Melalui MOVEPLAY, tim berharap langkah sederhana seperti mengubah posisi tubuh, menyelingi waktu belajar dengan peregangan, dan lebih memperhatikan kondisi tubuh dapat berkembang menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Sebab, hidup aktif tidak selalu harus dimulai dari aktivitas yang besar. Terkadang, perubahan justru berawal dari gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda