JurnalPost.com - Program Dosen Pulang Kampung di Desa Petir menjadi wujud nyata kolaborasi transdisiplin ilmu dan kokreasi dalam pengembangan masyarakat desa. Kegiatan yang berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2025 ini melibatkan banyak dosen dari berbagai fakultas di IPB University yang berupaya memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang ada di masyarakat, melalui pendekatan ilmu yang terintegrasi, partisipatif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menjembatani pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat. Para dosen IPB tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga berdiskusi, mendengarkan, dan bekerja sama bersama masyarakat untuk mencari solusi atas masalah yang mereka alami sehari-hari, mulai dari pengelolaan sampah, peningkatan pendapatan usaha kecil, pemanfaatan AI, hingga mitigasi bencana iklim. Program ini tidak hanya menghadirkan pengabdian masyarakat secara konvensional, tetapi juga memperkenalkan konsep Desa Digital sebagai fondasi untuk mewujudkan kemandirian dan keberlanjutan. Melalui pendampingan dari berbagai dosen, masyarakat diajak untuk memahami dan menerapkan teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari.
Dr. rer. nat. Rina Mardiana, dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB sekaligus salah satu penggerak program, menjelaskan bahwa tema besar kegiatan tahun ini adalah “Transdisiplin Ilmu dan Kokreasi dalam Pengembangan Masyarakat Desa Lingkar Kampus.”
“Kali ini Dosen Pulang Kampung diikuti oleh dosen dari berbagai fakultas dan departemen. Ada saya sendiri dan Pak Saharudin dari Fakultas Ekologi Manusia (Departemen SKPM), Dr. Yani Nurhadryani, S.Si., M.T dan Bu Fatimah dari Ilmu Komputer, Prof. Dr. Ir. Tania June, M.Sc dari Meteorologi dan Geofisika, Dr.rer.nat. Nur Rochmah Kumalasari, S.Pt, M.S dari Peternakan, Dr. Desniar, S.Pi, M. Si danDr. Ir.. Mia Setiawati, M.Si dari Perikanan, serta Dr. Meti Ekayani, S.Hut, M.Sc, IPM dan Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.ScAgr dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen,” jelasnya.
Program ini mencakup delapan fokus bidang yang saling berkaitan yakni pertanian, peternakan, perikanan, rantai pasok, UMKM, mitigasi bencana, tata kelola sampah, dan desa digital. Delapan bidang tersebut kemudian dikelompokkan menjadi tiga klaster utama.
Klaster pertama berfokus pada pertanian, UMKM, rantai pasok, dan desa digital, dengan tujuan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui peningkatan literasi digital dan akses pasar. Klaster kedua berkaitan dengan mitigasi bencana seperti longsor dan angin puting beliung, yang juga dapat dipicu oleh pengelolaan sampah yang belum optimal. Sedangkan klaster ketiga mencakup peternakan dan perikanan, bagaimana limbah pertanian dan peternakan dapat diolah menjadi kompos atau pakan ternak, menciptakan sistem pertanian berkelanjutan di tingkat lokal.

Desa Petir sendiri dipilih karena memiliki potensi besar dalam pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM, namun juga menghadapi tantangan seperti bencana alam, keterbatasan pengelolaan sampah, serta rendahnya literasi dan akses digital.
Pada 24 Oktober 2025, salah satu dosen, Medhanita Dewi Renanti, S.Kom., M.Kom., dosen Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak IPB, mengajarkan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk memahami dasar-dasar digital marketing, mulai dari pembuatan platform online, penggunaan Google Ads, hingga strategi Search Engine Optimization (SEO) agar produk lebih mudah ditemukan di internet.
“Desa Petir punya banyak produk yang bagus mulai dari makanan olahan hingga hasil pertanian tapi masih banyak yang belum tahu cara memasarkan secara digital,” jelas Medha.” Ia menekankan pemasaran digital bukan soal teknologi semata, tetapi juga soal keberanian untuk mencoba dan membangun identitas usaha di dunia maya.
Seorang peserta pelatihan, Ibu Ira, pelaku UMKM dengan produk sale pisang ambon, mengatakan bahwa ia mendapatkan banyak pengetahuan baru. “Sebelumnya saya udah jualan di Shopee, tapi gak maksimal. Setelah ikut pelatihan ini saya jadi ngerti pentingnya kata kunci, cara mengelola akun, dan jadi lebih semangat untuk jualan online,” ujarnya dengan antusias.
Sementara itu, Fatimah, dosen dosen Program Studi Kecerdasan Buatan IPBmemperkenalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari seperti membuat foto produk dan video promosi. “Sebenarnya Desa Petir sebagai desa digital artinya mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mempermudah kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda dan juga pelaku usaha di sini tahu AI tapi belum paham potensinya.” jelasnya.
Kemudian, Dr. Meti Ekayani menyampaikan pembahasan mengenai isu lingkungan melalui edukasi pengelolaan sampah yang bisa dimulai dari rumah tangga. ia mengajak masyarakat untuk memulai perubahan dari lingkup rumah tangga dengan memisahkan sampah menjadi organik dan anorganik. Menurutnya, sistem pengelolaan sampah di Desa Petir saat ini masih konvensional dengan cara kumpul, angkut, buang. Padahal, cara tersebut tidak dapat bertahan lama tanpa solusi pengolahan dari sumbernya.
“Jika dipisahkan dengan benar, sampah anorganik dapat dijual, sementara sampah organik bisa diproses menjadi pakan maggot. Di IPB sendiri, terdapat pengolahan semacam ini di tempat pembuangan akhir kampus,” jelasnya.
Program Dosen Pulang Kampung Menjadi bukti bahwa perubahan tidak harus datang dari kebijakan besar. Melalui program ini,, IPB University menunjukkan bahwa kampus tidak hanya untuk tempat belajar dan riset, melainkan juga tempat berkolaborasi untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda