
Zhejiang, JurnalPost.com – Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional bersama pelajar diaspora Indonesia di Zhejiang Normal University, Tiongkok.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 24 Juni 2026 pukul 16.00 waktu setempat hingga selesai, bertempat di Gedung 25 Ruang 210, Zhejiang Normal University, Zhejiang, Tiongkok. Sebanyak 18 mahasiswa Indonesia hadir sebagai peserta.
PKM internasional tersebut mengusung tema “Capacity Building Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri melalui Pelatihan Perancangan Pengabdian kepada Masyarakat Berdampak dan Berkelanjutan Berbasis Jejaring Diaspora Akademik”.
Kegiatan ini tidak berbentuk pendampingan masyarakat secara langsung di Indonesia, melainkan difokuskan pada penguatan kapasitas pelajar diaspora. Para peserta dibekali pemahaman tentang bagaimana merancang program pengabdian kepada masyarakat yang tepat, berkualitas, berdampak, dan berkelanjutan.
Tim PKM Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin FBS Unesa dipimpin oleh Yogi Bagus Adhimas, S.Pd., M.A. Adapun anggota tim terdiri atas Miftachul Amri, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D., Tiffany Qorie, S.S., M.TCSOL., Dzun Nun Septin Renda Rabbani, S.Pd., MTCSOL., serta mahasiswa Evan Satya Fauzan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FBS Unesa dalam memperluas ruang pengabdian melalui kolaborasi akademik lintas negara. Pelajar Indonesia di luar negeri dinilai memiliki posisi strategis karena memiliki pengalaman global, jejaring internasional, serta kedekatan emosional dengan Indonesia.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak memahami kembali hakikat pengabdian kepada masyarakat. Selama ini, PKM kerap dipahami sebatas kegiatan insidental, seremonial, atau pemenuhan kewajiban akademik. Cara pandang tersebut dinilai berpotensi membuat program pengabdian hanya berhenti pada kegiatan jangka pendek dan belum memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat sasaran.
Tim PKM Mandarin FBS Unesa menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat perlu dirancang melalui proses yang matang. Program pengabdian harus dimulai dari pemetaan kebutuhan, perumusan tujuan, penyusunan program, pelaksanaan yang terukur, hingga keberlanjutan setelah kegiatan utama selesai.
Dengan pendekatan tersebut, PKM diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi pelaksana kegiatan, tetapi juga dapat menjadi ruang transformasi sosial bagi masyarakat sasaran.
Salah satu gagasan yang dibahas dalam kegiatan ini adalah model pengabdian berbasis komunitas diaspora. Komunitas pelajar Indonesia di luar negeri, misalnya, dapat memilih satu sekolah di desa tertentu di Indonesia untuk dijadikan sekolah binaan.
Dukungan yang diberikan dapat berupa kelas motivasi, pendampingan belajar, penguatan literasi, pengajaran jarak jauh, hingga bantuan sederhana sesuai kebutuhan sekolah. Melalui cara ini, pelajar diaspora tidak hanya berperan sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai penghubung antara pengalaman akademik global dan kebutuhan pendidikan di Indonesia.
Selain dukungan akademik dan motivasional, kontribusi material juga dapat dirancang secara kreatif. Komunitas diaspora dapat menyisihkan sebagian beasiswa atau dukungan kolektif untuk membantu kebutuhan siswa di sekolah binaan, seperti perlengkapan belajar, seragam sekolah, atau seragam batik dengan motif yang dirancang oleh komunitas diaspora.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian dapat menggabungkan kepedulian sosial, pendidikan, kreativitas, dan identitas budaya Indonesia. Jika dilakukan secara konsisten, jejaring diaspora Indonesia berpotensi menjadi kekuatan besar dalam mendukung pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
PKM internasional ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Penguatan kapasitas pelajar diaspora dinilai mendukung pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, kolaborasi antara FBS Unesa dan pelajar diaspora Indonesia di Tiongkok menjadi wujud pentingnya kemitraan lintas institusi, komunitas, dan negara dalam membangun program yang berdampak.
Meski berlangsung dalam waktu terbatas, kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang hangat dan reflektif. Peserta tidak hanya menerima materi mengenai perancangan PKM yang tepat, tetapi juga diajak membayangkan kontribusi nyata yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Dari ruang belajar di Zhejiang Normal University, semangat pengabdian tumbuh melalui percakapan tentang pendidikan, diaspora, jejaring, dan tanggung jawab kepada Indonesia.
Penulis: Yogi Bagus Adhimas, S.Pd., M.A. Dosen FBS Unesa sekaligus Ketua Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin FBS Unesa
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda