JurnalPost.com - Mendengar kata pantai, biasanya akan membayangkan lautan biru dengan pasirnya. Namun, tidak untuk Pantai Kamali yang terletak di Jalan Mayjend Sutoyo, Kelurahan Wale, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Pantai ini menyajikan deburan ombak yang kuat, langit biru terbentang bagai lukisan, awan yang putih seakan berpijak di horizon selat Buton. Pantai Kamali yang juga merupakan salah satu pantai yang telah direklamasi pada tahun 2004 seluas 34.040 m2 dan diresmikan pembukaannya pada 18 Agustus 2005.
‘Kamali’ atau “Malige” dalam bahasa suku Wolio mempunyai arti istana, yaitu tempat tinggal raja atau sultan dan keluarganya. Suku Wolio sendiri adalah suku yang mendiami wilayah bekas Kesultanan Buton, termasuk Kota Baubau, dan tersebar di beberapa kabupaten seperti Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Wakatobi, Bombana, Muna, dan Muna Barat. Suku ini erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Buton, yang dulunya merupakan Kerajaan Wolio, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang kemudian menjadi kesultanan Islam pada abad ke-15 Saat ini, pantai Kamali jadi ruang publik yang paling ramai dan merupakan magnet untuk rekreasi dengan keunikan menggabungkan konsep alun-alun dan taman, karena alun-alun milik Kota Baubau ini berada persis di pinggiran pantai. Dibuat sangat panjang seakan-akan memiliki tubuh, yang dibangun mengikuti bibir pantai sehingga pengunjung tak akan menjumpai pasir landai menuju laut.
Selain pemandangan Selat Buton dengan suasana pantai yang asri dan hijaunya pulau Muna yang berdiri gagah di seberang pantai, Pantai Kamali juga menunjukkan betapa sibuknya hilir mudik perahu tradisional oleh nelayan yang mencari ikan dan juga pemandangan kedatangan kapal-kapal yang siap menurunkan penumpang di pelabuhan Murhum lokasinya sangat dekat atau juga menjadikan pelabuhan ini sebagai tempat transit. Tak jarang bunyi ‘stoom’ kapalnya terdengar hingga ke Pantai Kamali menjadikan peristiwa ini pelengkap pengalaman tersendiri, dengan ombak yang kuat dan angin kencang Pantai Kamali mewakili sentuhan kemegahan alam.
Pantai Kamali dibagi menjadi tiga area utama, yakni area barat, timur, dan tengah. Area di wilayah barat pantai ditujukan sebagai tempat parkir yang didominasi oleh para pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam dagangan juga sering dijadikan tempat untuk menggelar event-event penting. Selanjutnya di wilayah timur pantai, terdapat area yang dimanfaatkan oleh para pedagang yang berdagang pada malam hari banyak penjual aksesoris lesehan, mainan anak seperti mandi bola, memancing ikan magnet dll. Sementara area tengah pantai terdapat patung kepala naga besar berwarna hijau menghadap ke laut, seolah mengucapkan selamat datang kepada para pendatang. Patung ini merepresentasikan keberanian, kekuatan, kejayaan, dan kegigihan dari Kerajaan Buton tempo dulu. Area tengah pantai inilah yang sekaligus menjadi pusat seluruh aktivitas di Pantai Kamali.
Tongkrongan Favorit di Malam Hari Menjelang matahari terbenam pantai indah ini selalu ramai pengunjung. Hal ini bukanlah tanpa sebab, karena memang panorama sunsetnya begitu mempesona cahaya kuning keemasan dengan sedikit rona merah berbaur menjadi satu bak lukisan, juga pemandangan lampu-lampu kapal yang mulai dinyalakan pun berpadu dengan temaramnya senja. Pada malam hari menjelma menjadi salah satu tempat tongkrongan favorit bagi masyarakat sekitar. Sepanjang pantai dipasangi lampu warna warni yang menambah pesona keindahan pantai. Terlebih lagi bila malam Minggu tiba, jika beruntung pengunjung dapat menemukan pertunjukan jalanan. Seperti konser musik mini atau sekelompok orang yang memainkan alat musik yang merdu membawakan beberapa lagu.
Disini para pengunjung tak hanya memanjakan mata, namun juga lidah dengan menikmati wisata kuliner lokal yang terkenal nikmat. Mulai dari makanan utama, penutup, camilan hingga makanan khas pulau Buton. Apalagi tempat ini menyajikan pula minuman khas Sulawesi yakni Saraba. Saraba terlihat mirip dengan wedang jahe di Jawa, namun Saraba memiliki aroma cita rasa yang kuat dari rempah rempah alaminya.
Akses Menuju ke Pantai Kamali Jika bergerak dari Pelabuhan Murhum Baubau akan menempuh jarak sekitar 100 meter ke pantai ini. Namun bila berangkat dari Bandara Betoambari, perjalanan menuju Pantai Kamali hanya memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Jalur menuju pantai juga sudah diaspal dengan baik, sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman.
Berlokasi tepat berada di pusat kota, sehingga akses menuju Pantai Kamali sangat mudah. Mulai dari angkutan umum, mobil dan sepeda motor. Bagi yang memulai perjalanan dari Jl. Pahlawan cukup mengikuti jalan hingga perempatan yang menghubungkan Jl. Diponegoro dengan Jl. Anoa. Kemudian belok kiri menuju arah Jl. Sultan Hassanudin hingga Jl. Balai Kota. Sementara itu, Pantai Kamali tepat berada di samping kiri Pelabuhan Murhun jika dari arah timur.
Penulis : SULTAN MUSA (@sultanmusa97) - Traveller & Penulis Buku
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda