Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Permasalahan dan Tantangan Pengendalian Leptospirosis di Bantul

Permasalahan dan Tantangan Pengendalian Leptospirosis di Bantul

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
13 Juni 2023, 18.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Permasalahan dan Tantangan Pengendalian Leptospirosis di Bantul

Oleh : Maria Jessica Sutjahja, Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

JurnalPost.com - Penyakit leptospirosis sedang menjadi suatu permasalahan kesehatan di seluruh wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan kepada manusia melalui hewan. Leptospirosis disebabkan karena adanya infeksi bakteri patogen Leptospira. Bakteri ini menginfeksi hewan, kemudian menularkannya ke manusia. Contoh hewan yang dapat menularkan leptospirosis adalah tikus, anjing, dan hewan ternak. Kasus yang paling sering ditemukan bersumber dari hewan tikus. Saat musim penghujan, penyakit ini lebih mudah timbul dan menyebar melalui air maupun tanah yang terkontaminasi urin dari hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira.

IKLAN

Wilayah Kabupaten Bantul masih banyak ditemukan area persawahan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor risiko penyakit leptospirosis. Bakteri Leptospira ini memiliki bentuk spiral berpilin dan memiliki ukuran yang sangat kecil. Ukurannya yang sangat kecil, memudahkan bakteri ini hinggap dimana saja untuk bertahan hidup. Bakteri ini memang sudah ada secara alami dalam tubulus ginjal dan saluran kelamin pada beberapa hewan tertentu. Kasus penyakit leptospirosis yang ditemukan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta disebabkan karena urin tikus. Bakteri Leptospira yang ditemukan dalam tubuh tikus (Leptospira ballum dan Leptospira ichterohaemorhagicae) merupakan Leptospira paling berbahaya dibandingkan dengan serovar Leptospira yang ada di hewan pembawa lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui kulit dengan luka terbuka, hidung, mulut, dan mata. Saat penderita terinfeksi bakteri Leptospira, gejala yang dialami bervariasi dari gejala ringan hingga gejala berat. Bahkan beberapa penderita tidak mengalami gejala secara langsung, tetapi muncul setelah 2 hari sampai beberapa minggu berikutnya. Gejala yang umum yaitu demam, sakit kepala, batuk, nyeri otot, badan terasa tidak nyaman, mual, diare, muncul bintik-bintik merah, hingga batuk berdarah.

Kisah Widji
Baca Juga

Kisah Widji, Berawal dari Nasabah BRI Kini Sukses Jadi Agen BRILink di Bojonegoro dan Raup Omzet Besar

IKLAN

Kasus penyakit leptospirosis di Kabupaten Bantul pada tahun 2023 ini kembali meningkat. Pada tahun ini, tercatat oleh Dinas Kesehatan Bantul pada bulan Januari sampai dengan Maret ditemukan 90 kasus leptospirosis dengan 6 jumlah kematian. Sedangkan tahun 2022 lalu ditemukan 137 kasus leptospirosis dengan 4 jumlah kematian. Kasus ini terjadi di 3 bulan awal tahun 2023 saat masih musim penghujan. Banyaknya genangan air menyebabkan penyakit ini mudah menular. Genangan air yang ada di jalan dapat terkontaminasi urin tikus dan dapat jika tikus tersebut terinfeksi Leptospira akan menularkan penyakit leptospirosis ke manusia melalui luka yang terbuka. Pemerintah kemudian menghimbau masyarakat untuk berhati-hati ketika beraktivitas di tempat yang sekiranya dapat terkontaminasi bakteri Leptospira, terutama pada para petani. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul menghimbau para petani untuk menggunakan sepatu boots saat sedang bekerja di sawah. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan yaitu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit leptospirosis dan kegiatan emposan tikus sawah serta pembagian racun tikus pada setiap rumah.

Pemerintah Kabupaten Bantul terus menyusun strategi dalam penanggulangan leptospirosis meliputi pengendalian hewan tikus terutama tikus sawah dengan menggunakan racun tikus dan gropyokan yang dilakukan rutin, pengendalian bakteri Leptospira dengan pemberian Lysol pada genangan air, pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan sampah, pencegahan banjir, dan menghilangkan genangan-genangan air. Selain itu, masyarakat yang sudah terkena penyakit leptospirosis akan semakin diperhatikan oleh pemerintah dalam proses pengobatannya, pemberian antibiotik, dan adanya pencegahan terjadinya penularan penyakit tersebut. Tentunya, upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi perlu juga peran masyarakat untuk membantu pencegahan penyakit leptospirosis. Masyarakat harus melakukan kebersihan individu, melakukan pemahaman terhadap pemeliharaan hewan ternak, menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan peduli sampah, membuang air yang menggenang, menggunakan sarung tangan dan sepatu boots ketika membersihkan lingkungan rumah atau sekitar rumah, dan memastikan penggunaan air bersih.

Selain pengelolaan lingkungan, pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini sangat berpengaruh bagi proses pengendaliannya. Berdasarkan penelitian yang sudah banyak dilakukan, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bagaimana mekanisme penularan penyakit leptospirosis. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah dalam menentukan upaya pengendalian. Perlu diutamakan pemberian informasi bagi masyarakat Bantul mengenai penyakit leptospirosis dan bagaimana gejalanya. Sehingga peran bioteknologi sangat diperlukan dalam melakukan kerjasama dengan pemerintah kabupaten dalam melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Melalui pemberian penyuluhan kepada masyarakat diharapkan dapat menyadarkan masyarakat sepenuhnya terhadap bahaya tikus yang ada di lingkungan dan dapat memberdayakan diri masyarakat dalam pencegahan serta pengendalian penyakit leptospirosis. Masyarakat dapat ikut serta dalam pembasmian tikus dan pemerintah setempat dapat terus memantau dan memonitoring kasus penyakit leptospirosis di masyarakat Bantul.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/permasalahan-dan-tantangan-pengendalian-leptospirosis-di-bantul/53458/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 09.39 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kisah Narti, Pedagang Kedelai Pasar Banjarejo Bojonegoro yang Raup Omzet Besar dan Andalkan BRI

Kisah Nasabah BRI di Bojonegoro, Pedagang Sayur Raup Omzet Rp10 Juta hingga Berhasil Kuliahkan Anak di ITS Surabaya

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pensiun Bukan Halangan, Sugeng Harijanto Kembangkan Usaha Jus Jambu Berkat Dukungan KUR BRI di Bojonegoro

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Pilihan Editor

  1. 1 Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel
  2. 2

    Kisah Nasabah BRI di Bojonegoro, Pedagang Sayur Raup Omzet Rp10 Juta hingga Berhasil Kuliahkan Anak di ITS Surabaya

  3. 3

    Dari Watchdog menjadi Trusted Advisor: Peran Baru Inspektorat Daerah sebagai APIP dalam Mengawal Kebijakan dan Tata Kelola Daerah

  4. 4

    Agen BRILink di Bojonegoro Permudah Transaksi Warga Lansia yang Belum Terbiasa Mobile Banking

  5. 5

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.