Oleh : Maria Jessica Sutjahja, Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
JurnalPost.com - Penyakit leptospirosis sedang menjadi suatu permasalahan kesehatan di seluruh wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan kepada manusia melalui hewan. Leptospirosis disebabkan karena adanya infeksi bakteri patogen Leptospira. Bakteri ini menginfeksi hewan, kemudian menularkannya ke manusia. Contoh hewan yang dapat menularkan leptospirosis adalah tikus, anjing, dan hewan ternak. Kasus yang paling sering ditemukan bersumber dari hewan tikus. Saat musim penghujan, penyakit ini lebih mudah timbul dan menyebar melalui air maupun tanah yang terkontaminasi urin dari hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira.
Wilayah Kabupaten Bantul masih banyak ditemukan area persawahan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor risiko penyakit leptospirosis. Bakteri Leptospira ini memiliki bentuk spiral berpilin dan memiliki ukuran yang sangat kecil. Ukurannya yang sangat kecil, memudahkan bakteri ini hinggap dimana saja untuk bertahan hidup. Bakteri ini memang sudah ada secara alami dalam tubulus ginjal dan saluran kelamin pada beberapa hewan tertentu. Kasus penyakit leptospirosis yang ditemukan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta disebabkan karena urin tikus. Bakteri Leptospira yang ditemukan dalam tubuh tikus (Leptospira ballum dan Leptospira ichterohaemorhagicae) merupakan Leptospira paling berbahaya dibandingkan dengan serovar Leptospira yang ada di hewan pembawa lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui kulit dengan luka terbuka, hidung, mulut, dan mata. Saat penderita terinfeksi bakteri Leptospira, gejala yang dialami bervariasi dari gejala ringan hingga gejala berat. Bahkan beberapa penderita tidak mengalami gejala secara langsung, tetapi muncul setelah 2 hari sampai beberapa minggu berikutnya. Gejala yang umum yaitu demam, sakit kepala, batuk, nyeri otot, badan terasa tidak nyaman, mual, diare, muncul bintik-bintik merah, hingga batuk berdarah.
Kasus penyakit leptospirosis di Kabupaten Bantul pada tahun 2023 ini kembali meningkat. Pada tahun ini, tercatat oleh Dinas Kesehatan Bantul pada bulan Januari sampai dengan Maret ditemukan 90 kasus leptospirosis dengan 6 jumlah kematian. Sedangkan tahun 2022 lalu ditemukan 137 kasus leptospirosis dengan 4 jumlah kematian. Kasus ini terjadi di 3 bulan awal tahun 2023 saat masih musim penghujan. Banyaknya genangan air menyebabkan penyakit ini mudah menular. Genangan air yang ada di jalan dapat terkontaminasi urin tikus dan dapat jika tikus tersebut terinfeksi Leptospira akan menularkan penyakit leptospirosis ke manusia melalui luka yang terbuka. Pemerintah kemudian menghimbau masyarakat untuk berhati-hati ketika beraktivitas di tempat yang sekiranya dapat terkontaminasi bakteri Leptospira, terutama pada para petani. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul menghimbau para petani untuk menggunakan sepatu boots saat sedang bekerja di sawah. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan yaitu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit leptospirosis dan kegiatan emposan tikus sawah serta pembagian racun tikus pada setiap rumah.
Pemerintah Kabupaten Bantul terus menyusun strategi dalam penanggulangan leptospirosis meliputi pengendalian hewan tikus terutama tikus sawah dengan menggunakan racun tikus dan gropyokan yang dilakukan rutin, pengendalian bakteri Leptospira dengan pemberian Lysol pada genangan air, pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan sampah, pencegahan banjir, dan menghilangkan genangan-genangan air. Selain itu, masyarakat yang sudah terkena penyakit leptospirosis akan semakin diperhatikan oleh pemerintah dalam proses pengobatannya, pemberian antibiotik, dan adanya pencegahan terjadinya penularan penyakit tersebut. Tentunya, upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi perlu juga peran masyarakat untuk membantu pencegahan penyakit leptospirosis. Masyarakat harus melakukan kebersihan individu, melakukan pemahaman terhadap pemeliharaan hewan ternak, menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan peduli sampah, membuang air yang menggenang, menggunakan sarung tangan dan sepatu boots ketika membersihkan lingkungan rumah atau sekitar rumah, dan memastikan penggunaan air bersih.
Selain pengelolaan lingkungan, pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini sangat berpengaruh bagi proses pengendaliannya. Berdasarkan penelitian yang sudah banyak dilakukan, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bagaimana mekanisme penularan penyakit leptospirosis. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah dalam menentukan upaya pengendalian. Perlu diutamakan pemberian informasi bagi masyarakat Bantul mengenai penyakit leptospirosis dan bagaimana gejalanya. Sehingga peran bioteknologi sangat diperlukan dalam melakukan kerjasama dengan pemerintah kabupaten dalam melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Melalui pemberian penyuluhan kepada masyarakat diharapkan dapat menyadarkan masyarakat sepenuhnya terhadap bahaya tikus yang ada di lingkungan dan dapat memberdayakan diri masyarakat dalam pencegahan serta pengendalian penyakit leptospirosis. Masyarakat dapat ikut serta dalam pembasmian tikus dan pemerintah setempat dapat terus memantau dan memonitoring kasus penyakit leptospirosis di masyarakat Bantul.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda