JAKARTA, JurnalPost.com - Perjalanan pulang Tim Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Gelombang dua (G2) dari lokasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan rangkaian kisah pengabdian, kebersamaan, dan refleksi kemanusiaan yang panjang. Sebanyak 16 relawan menutup tugas mereka dengan perjalanan laut selama sembilan hari sebelum akhirnya kembali ke Jakarta digantikan Tim Relawan Gelombang tiga (G3).
Enam belas relawan tersebut adalah Setiadi Rahmansyah, Imam Khojali, Sukimang, Tumiyono, Nurul Fajri Subhi, Muhlison, Ali Musa, Muhajir Effendi, Abdul Halim, Aminullah, Sudrajat, Imron, M. Jalaludin, Mardi Ikhsan, Sigit Setiadi, dan Uthbah Abdul Qowy. Mereka berasal dari wilayah Jabodetabek dan Lampung.
Perjalanan kepulangan dimulai pada Rabu, 7 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, dari Posko UAR Tanjung Pura menuju Pelabuhan Belawan, Medan. Sekitar pukul 20.30 WIB, rombongan bertemu dengan Tim Relawan UAR G3 yang berjumlah 25 personel dan baru tiba dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menggunakan Kapal Kemanusiaan PMI “Oemarraseed” milik Kalla Lines.
Pergantian tugas antara Tim Relawan G2 yang dipimpin Mardi Ikhsan dengan Tim G3 yang dipimpin Muqarrobin berlangsung di Pelabuhan Belawan pada pukul 21.00 WIB. Malam itu, para relawan G2 langsung ikut naik kapal yang sama. Mereka bermalam di atas kapal karena kapal terlebih dahulu melakukan bongkar muatan logistik.
Keesokan harinya, Kamis, 8 Januari 2026, kapal baru berlayar menuju Lhokseumawe dan Banda Aceh untuk menurunkan bantuan logistik pemerintah untuk masyarakat terdampak bencana. Di sela waktu menunggu keberangkatan dan proses bongkar muat, para relawan mengisi hari dengan aktivitas sederhana namun berkesan, mulai dari memancing di laut dari atas kapal hingga bersilaturahim.
Saat kapal sandar di Banda Aceh, para relawan menyempatkan diri bersilaturahim ke kediaman Arif Ramdan, alumni STAI Al-Fatah Cileungsi Bogor asal Garut, Jawa Barat yang kini menetap di Aceh. Mereka juga mengunjungi Museum Tsunami Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, dan Kapal Apung, tempat-tempat yang menjadi saksi bisu ketangguhan masyarakat Aceh menghadapi bencana.
Perjalanan panjang itu akhirnya berlanjut kembali ke Jakarta. Pada Selasa, 13 Januari 2026, kapal bertolak dari Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh. Sabtu 17 Januari 2026 pagi pukul 08.00 WIB, Kapal “Oemarraseed” bersandar di Pelabuhan Domestik Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengakhiri perjalanan panjang melalui laut. Dalam kapal PMI tersebut, turut serta tiga relawan dari Masjid Istiqomah Bandung yang kembali ke Jakarta.
Penyambutan Relawan Kedatangan para relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue disambut hangat oleh Pembina UAR H. Syakuri, Ketua Umum UAR H. Endang Sudrajat beserta staf pusat, serta Ketua Presidium AWG Muhammad Ansharulloh dan jajaran. Sebelum kembali ke daerah masing-masing para relawan mengikuti seremoni penyambutan sederhana di pelataran pelabuhan.
Dalam sambutannya, Pembina UAR H. Syakuri menyampaikan rasa syukur atas kepulangan para relawan dalam keadaan sehat. “Alhamdulillah, saya merasa senang melihat kalian semua kembali dalam keadaan sehat wal afiat. Namun misi kemanusiaan kita tidak hanya sampai di sini. Tantangan amal sholih kemanusiaan ke depan masih terbuka dan menanti uluran tangan para pejuang kemanusiaan,” ujarnya.
Syakuri juga menyampaikan apresiasi kepada PMI dan pihak Kalla Lines yang telah memfasilitasi perjalanan para relawan. “Kami ucapkan banyak terima kasih, jazakumullah khairan kepada pihak PMI dan ABK Kapal Kalla Lines yang telah memfasilitasi relawan UAR beramal sholih membantu masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera,” katanya. Senada dengan itu, Ketua Umum UAR H. Endang Sudrajat menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak pernah benar-benar usai. “Misi kemanusiaan terus menanti. Oleh karenanya kita harus selalu siap kapan pun diperlukan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan setiap langkah ibadah kita semua,” tandasnya.
Sementara itu, Mardi Ikhsan, Ketua Tim Relawan Gelombang 2, merasa bahwa perjalanan panjang tersebut meninggalkan kesan mendalam. “Alhamdulillah perjalanan kepulangan 16 relawan dalam misi kemanusiaan tanggap bencana Sumatra bersama Kapal Kalla Lines sangat berkesan dan menorehkan catatan loyalitas dan dedikasi terhadap kemanusiaan,” tuturnya.
Ia menambahkan, pengalaman bersilaturahim, mengunjungi Museum Tsunami, Kapal Apung, hingga shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman menjadi penguat ikatan batin para relawan. “Semoga jejak-jejak relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue menjadi tali persaudaraan di kemudian hari,” pungkas Mardi kepada media ini, Sabtu (17/1/2026).
Perjalanan panjang itu pun berakhir, namun semangat pengabdian para relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue terus hidup, siap menyambut panggilan kemanusiaan berikutnya, di mana pun dan kapan pun dibutuhkan. [am]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda