BOGOR, JurnalPost.com - Pembina Utama Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), Imaam Yakhsyallah Mansur, menyambut hangat kepulangan para relawan UAR yang telah menuntaskan misi kemanusiaan di wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, Selasa (23/12/2025).
Sebanyak delapan relawan yang baru kembali dari Aceh Tamiang disambut langsung di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mereka terdiri dari Panja Akbar (Korwil UAR Jawa Tengah), Ubaydillah, Sohirin, dan Ramadhan Al Faqih (Jabodetabek), Aris Rismanto dan Sobar Muslim (Jawa Barat), Doni Nofrizal (Sumatera Selatan), serta Ghulam (Lampung).
Usai menunaikan salat Dhuhur berjama’ah di Masjid At-Taqwa, Tim Relawan UAR yang diwakili oleh Panja Akbar menyampaikan laporan kondisi terkini di lapangan. Ia menggambarkan situasi di Aceh Tamiang yang masih sangat memprihatinkan akibat terjangan banjir bandang 25 - 30 November 2025.
“Banyak rumah warga hancur dan hanyut terbawa arus. Material kayu dan sampah berserakan di mana-mana. Bahkan ada kayu gelondongan yang besarnya sampai empat orang dewasa merentangkan tangan,” ungkap Panja.
Menurutnya, persoalan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat akibat menumpuknya material kayu dan limbah sampah yang belum tertangani secara optimal.
“Kami di lapangan menghadapi keterbatasan relawan dan peralatan. Di sisi lain, material kayu dan sampah harus segera disingkirkan agar tidak memicu penyakit,” ujar Panja Akbar.
Anggota UAR Korda Brebes, Jawa Tengah itu menambahkan, kendala lain yang cukup dirasakan adalah minimnya kendaraan sewa di Aceh Tamiang. Kalaupun tersedia, sebagian besar kendaraan dalam kondisi kurang layak akibat terdampak banjir bandang.
Menanggapi laporan tersebut, Imaam Yakhsyallah Mansur menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas pengabdian para relawan yang telah berjibaku di medan bencana selama kurang lebih 20 hari.
“Terima kasih dan jazakumullah khairan atas amal shalih para ikhwan di lokasi bencana. Bisa dibayangkan, jika para relawan tidak hadir di Sumatera, mungkin hingga kini rumah warga, masjid, dan jalan-jalan masih dipenuhi lumpur dan material banjir,” tutur Imaam.
Ia juga menyampaikan doa dan dukungan bagi relawan UAR yang hingga kini masih bertugas di sejumlah titik bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
“Alhamdulillah, jazakallah khairan. Tetap semangat para relawan. Insya Allah kami selalu membersamai, meski hanya dalam doa. Salam untuk seluruh pejuang kemanusiaan di medan bencana Sumatera,” ujar Imaam Yakhsyallah Mansur dalam pesan tertulisnya.
Sebelumnya, enam relawan UAR yang bertugas di Padang, Sumatera Barat, telah lebih dulu kembali ke Cileungsi, Bogor, pada Sabtu malam (20/12/2025). Mereka adalah Muqarrobin Al Ayubi, Fidianto, Nanang Setiawan, Edi Siswanto, Wali Al Jabar, dan Ary Yulison.
Tanggap Darurat Diperpanjang
Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menetapkan perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 24 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026.
Kebijakan tersebut tertuang dalam SK Bupati Aceh Tamiang Nomor 100.3.3.2/1025/205 tanggal 23 Desember 2025, dengan pertimbangan kondisi lapangan yang masih sangat mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat akibat banjir, cuaca ekstrem, pohon tumbang, dan tanah longsor.
Hal serupa juga dilakukan oleh Bupati Agam, Sumatera Barat, Benni Warlis, yang memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana di Kabupaten Agam selama dua pekan, terhitung sejak 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Melalui Surat Pernyataan Bencana Alam Nomor 360/475/BPBD-AG/XII/2025, perpanjangan tersebut dilakukan menyusul tingginya curah hujan yang terus berlangsung, sehingga berpotensi memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang di wilayah tersebut. [am]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda