BOGOR, JurnalPost.com – Gerakan hemat energi mulai dinyalakan dari rumah-rumah warga Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Melalui program “Desa Hemat Energi”, tim Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengajak masyarakat mengendalikan konsumsi listrik dan menekan biaya rumah tangga melalui pemanfaatan teknologi sederhana.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Desa Singasari pada Kamis, 18 Juni 2026, tersebut diikuti kurang lebi 20 peserta yang terdiri atas masyarakat dan ibu rumah tangga. Peserta mendapatkan sosialisasi mengenai dampak penggunaan listrik secara boros serta pengenalan perangkat hemat energi berbasis timer, smart plug, dan sensor cahaya.
Program ini dipimpin oleh Aedil Akmal, S.Pd., M.Pd., bersama Prof. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd., Muhamad Wahyu Iqbal, S.Pd., M.T., dan Fadly Nendra, S.Pd., M.Pd.T. Dua mahasiswa UNJ, Meyta Salsabila dan Ilham Restu Ramadhan, turut terlibat sebagai fasilitator dan pendamping teknis.
Kegiatan tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak perangkat elektronik tetap terhubung atau menyala meskipun sedang tidak digunakan. Kebiasaan yang terlihat sederhana ini kerap tidak disadari, padahal dapat meningkatkan konsumsi energi dan biaya listrik rumah tangga.
Ketua tim pelaksana, Aedil Akmal, menjelaskan bahwa penghematan listrik tidak harus dilakukan dengan teknologi yang rumit. Masyarakat dapat memulainya dengan mengatur waktu penggunaan peralatan elektronik agar tidak terus beroperasi ketika sudah tidak diperlukan.

Dalam kegiatan tersebut, warga dikenalkan dengan fungsi dan cara penggunaan perangkat hemat energi. Timer dapat mengatur waktu menyala dan matinya lampu, dispenser, pompa air, serta peralatan lainnya secara otomatis. Sementara itu, smart plug memungkinkan pengguna mengontrol dan menjadwalkan pengoperasian perangkat melalui telepon pintar.
Sensor cahaya juga diperkenalkan sebagai teknologi yang dapat mengendalikan lampu berdasarkan kondisi pencahayaan. Lampu dapat menyala ketika hari mulai gelap dan mati saat cahaya sudah cukup terang. Penggunaannya dapat mengurangi risiko lampu menyala sepanjang hari karena lupa dimatikan.
Selain mengenalkan perangkat, tim UNJ menjelaskan dampak pemborosan listrik terhadap ekonomi keluarga dan lingkungan. Penggunaan listrik yang tidak terkendali dapat meningkatkan tagihan rumah tangga sekaligus menambah kebutuhan produksi energi dan emisi dari proses pembangkitan listrik.

Aedil menambahkan bahwa tujuan kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan perangkat, melainkan membangun kebiasaan menggunakan listrik secara bijak. Menurutnya, teknologi hanya menjadi alat bantu, sedangkan keberhasilan penghematan tetap bergantung pada kesadaran setiap anggota keluarga.
“Alatnya sederhana, tetapi yang ingin kami bangun adalah kebiasaannya. Jika masyarakat mulai menggunakan listrik sesuai kebutuhan, manfaatnya tidak hanya terasa pada tagihan bulanan, tetapi juga pada lingkungan dalam jangka panjang,” kata Aedil.
Sosialisasi berlangsung interaktif. Peserta melihat cara kerja perangkat dan berdiskusi mengenai penerapannya di rumah. Keterlibatan ibu rumah tangga dinilai penting karena mereka memiliki peran besar dalam mengatur penggunaan peralatan elektronik sehari-hari.
“Selama ini kami kadang lupa mematikan lampu atau peralatan listrik lainnya. Ternyata dengan timer dan sensor cahaya, alat-alat tersebut bisa mati dan menyala secara otomatis. Ini sangat membantu, terutama ketika kami sedang sibuk atau tidak berada di rumah,” ujar Nur Aeni.
Kolaborasi antara UNJ, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat ini turut mendukung SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dari perangkat sederhana di rumah, warga Singasari mulai menyalakan gerakan bersama: pantau daya, pangkas biaya, dan gunakan energi secara lebih bijak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda