Dorong Guru Beralih ke Bahan Ajar Digital
Pelatihan difokuskan pada kemampuan guru merancang e-modul ajar interaktif yang mengintegrasikan prinsip Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam. Program tersebut dilatarbelakangi kebutuhan sekolah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang tidak hanya bergantung pada buku teks cetak dan aktivitas belajar berbasis hafalan. Melalui pelatihan ini, para guru dikenalkan pada pengembangan bahan ajar digital multimodal yang mengombinasikan teks, gambar, video, serta berbagai fitur interaktif. Penggunaan berbagai media tersebut diharapkan dapat membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus mendorong peserta didik memahami materi secara lebih mendalam.Libatkan Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNJ
Dalam pelaksanaannya, tim dosen UNJ turut melibatkan mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan UNJ untuk memperkuat pendampingan teknis kepada peserta. Rangkaian kegiatan dipandu Bambang Wiyoso, S.T., MMSI. sebagai pembawa acara. Materi utama mengenai paradigma modul berbasis Deep Learning disampaikan Kemal Muhammad Rasyid, S.T.P., M.Pd. Setelah itu, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan modul interaktif bersama Arif Yudianto, M.Pd. Ketua tim PKM, Prof. Robinson Situmorang, menjelaskan bahwa proses pelatihan menggunakan model instruksional ADDIE yang terdiri atas Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Model tersebut dipadukan dengan pendampingan secara langsung serta penelaahan sejawat atau peer review untuk membantu guru menghasilkan bahan ajar yang lebih terstruktur. “Melalui pendekatan Deep Learning, media pembelajaran yang dirancang guru difokuskan untuk menciptakan pengalaman belajar bagi siswa yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful),” ujar Prof. Robinson.Terapkan Scaffolding dan Kuis Interaktif
Penyusunan e-modul juga mengacu pada sintesis teori perkembangan kognitif Jerome Bruner serta teori konstruktivisme Lev Vygotsky. Dalam praktiknya, guru dibimbing menyusun alur pembelajaran spiral melalui visualisasi seperti peta pikiran dan infografis. Para peserta juga mempelajari penerapan scaffolding atau perancah kognitif berupa petunjuk bertahap untuk membantu siswa memahami materi secara sistematis. Selain itu, guru dilatih memasukkan kuis interaktif dan kegiatan refleksi mandiri ke dalam e-modul sehingga peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda