Oleh: Alipia Salsa Ramadani
JurnalPost.com - Pernah lihat “jamur” berwarna mencolok yang tiba-tiba muncul di kayu lapuk atau tanah lembab? Sekilas, bentuk dan tempat hidupnya bikin kita mengira itu adalah jamur. Tapi ternyata tidak semua yang terlihat seperti jamur benar-benar jamur, lho
Salah satunya adalah Myxomycota, organisme unik yang sering dijuluki sebagai “jamur lendir” . Meskipun terlihat seperti jamur dan sangat sering ditemukan dilingkungan yang sama, Myxomycota justru menyembunyikan fakta yang sangat mengejutkan, ia bukan bagian dari kelompok sejati. Bahka, cara hidupnya pun berbeda jauh dari jamur pada umumnya. Dengan keunikan Myxomycota di balik bentuknya yang sederhana, organisme ini punya karakteristik yang tidak biasa. Lalu sebenarnya apa itu Myxomycota, dan kenapa bukan jamur?
Jamur atau fungi sering dianggap organisme sederhana yang muncul di tempat lembab, seperti tanah atau kayu lapuk. Padahal, jamur adalah makhluk yang cukup unik karena tidak memiliki klorofil dan mendapatkan makanan dari penyerapan nutrisi lingkungannya. Tubuhnya tersusun dari benang-benang halus (hifa) dan berkembang biak mengunakan spora (Wraight et al., 2007). Keberadaannya sangat penting, terutama sebagai pengurai yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Menariknya, tidak semua organisme yang terlihat seperti jamur benar-benar dalam kelompok fungi. Salah satu contohnya adalah si Myxomycota, atau lebih dikenal “jamur lendir”. Organisme ini kerap ditemukaan di lingkungan yang sama seperti jamur, bahkan memiliki bentuk serta siklus yang hampir mirip dengan jamur (Myxomycota et al., 2022)
Nama Myxomycota sendiri berasal dari kata myxo yang berarti lendir dan myces yang berarti jamur. Dari namanya saja, organisme ini sudah” terlihat” bagian dari dunia jamur. Tak heran, sejak lama Myxomycota memang diklasifikasikan sebagai fungi, apalagi ia mampu membentuk struktur menyerupai spora dan sering muncul tiba-tiba di permukaan kayu lapuk atau tanah lembap persis pada jamur pada umumnya.
Namun, di balik kemiripan itu, tersimpan fakta yang sangat mengejutkan sekaligus unik. Penelitian modern mengungkapkan bahwa Myxomycota memiliki cara hidup yang sangat berbeda dari jamur sejati. Pada fase tertentu, organisme ini berada dalam bentuk plasmodium, yaitu massa sel tanpa dinding yang dapat bergerak bebas layaknya amoeba untuk mencari makanan. Cara memperoleh nutrisinya pun berbeda Myxomycota “menelan” partikel makanan seperti bakteri dan bahan organik kecil (fagositosis), bukan menyerap nutrisi dari lingkungan seperti yang dilakukan fungi(Diversity, 2008)
Sebaliknya, jamur sejati memiliki dinding sel yang kaku, tidak dapat bergerak, dan memperoleh makanan dengan cara menyerap zat terlarut melalui permukaan tubuhnya. Perbedaan mendasar dalam struktur tubuh dan cara memperoleh nutrisi inilah yang menjadi kunci utama dalam membedakan keduanya.
Selain perbedaan cara hidupnya dengan jamur sejati, Myxomycota juga memiliki sejumlah karakteristik unik yang membuatnya semakin menarik untuk dipelajari. Salah satu ciri utamanya adalah tidak memiliki dinding sel pada fase vegetatif, sehingga tubuhnya bersifat lentur dan dapat berubah bentuk sesuai kondisi lingkungan. Hal ini berbeda dengan jamur yang memiliki dinding sel kaku.
Myxomycota juga memiliki fase hidup berupa plasmodium, yaitu massa sitoplasma besar yang mengandung banyak inti sel dan dapat bergerak secara aktif. Gerakan ini memungkinkan organisme tersebut mencari sumber makanan secara langsung di lingkungannya. Selain itu, Myxomycota umumnya hidup di tempat lembap, seperti kayu lapuk, serasah daun, dan tanah basah, mirip dengan habitat jamur
Meskipun bukan jamur, Myxomycota tetap memiliki kesamaan, seperti mampu membentuk struktur reproduksi yang menghasilkan spora. Inilah yang sering membuat organisme ini disalahartikan sebagai jamur. Padahal, jika dilihat dari struktur tubuh, cara bergerak, dan metode memperoleh nutrisi, Myxomycota jelas menunjukkan ciri khas sebagai organisme protista. Karena karakteristik unik tersebut, para ilmuwan akhirnya mengubah klasifikasi Myxomycota ke dalam kelompok protista, bukan lagi sebagai bagian dari fungi(Hermawan et al., 2022)
Editor Britannica (7 September 2023). Myxomycetes . Ensiklopedia Britannica . https://www.britannica.com/science/Myxomycetes Diversity, F. (2008). Life history strategies of corticolous myxomycetes : the life cycle , plasmodial types , fruiting bodies , and taxonomic orders. 1–16. Hermawan, R., Amelya, M. P., Amini, S., & Putra, I. P. (2022). Stemonitis pallida ; Matchstick Myxomycetes from West Java , Indonesia. 8(2), 71–77. Myxomycota, S., Putih, T., & Jawa, D. I. (2022). BIOTROPIKA Journal of Tropical Biology. 10(1). https://doi.org/10.21776/ub.biotropika.2022.010.01.08 Wraight, S. P., Inglis, G. D., & Goettel, M. S. (2007). Chapter IV-4 Fungi. 223–224.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda