JurnalPost.com - Siapa yang pernah mendengarkan meriahnya musik-musik khas Sumatera Barat? Musik tradisional Padang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya dan unik. Musik ini mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan musik tradisional daerah lain. Alat-alat musik yang sering digunakan untuk meriahkan musik tradisional Sumatera Barat yang populer adalah rebana, talempong, saluang, serunai, dan aguang. Kelima alat musik ini sangat erat kaitannya dengan budaya Minang. Keunikan musik tradisional Padang tidak hanya terletak pada alat musiknya saja, namun juga pada ritme dan melodi yang dimainkan. Musik ini sering digunakan dalam berbagai acara adat seperti pernikahan, upacara adat, serta pertunjukan seni dan budaya. Selain itu, musik tradisional Padang juga mempunyai nilai sosialisasi budaya yang tinggi. Melalui lagu daerah, masyarakat Padang dapat mengungkapkan rasa syukur, suka maupun duka menghadapi berbagai kejadian dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah Musik Tradisional Sumatera Barat Pada tahun 1870 imigran dari Arab dan Mesir masuk Hindia Belanda melalui Terusan Suez membawa alat musik Gambus dan memainkan Musik-musik Arab dan Melayu seperti Qasidah dan Gurindam dimainkan di Sumatera Barat seiring dengan jalannya penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Lalu pada tahun 1955 munculah Musik-musik Minang modern, dengan itu sudah jauh berubah dengan asalnya sebagai Qasidah, dikarenakan perkembangan zaman yang sudah modern ini bukan lagi menyanyikan syair Gurindam, namun sudah lebih berkembang sebagai alat musik pengiring tarian tradisional Sumatera Barat dan juga musik hiburan, dan juga kini sayangnya perkembangan zaman menyebabkan musik tradisional Sumatera Barat semakin terpinggirkan oleh musik modern. Dengan berkembangnya teknologi elektronik setelah tahun 1950, speaker, gitar elektrik, bahkan perkembangan keyboard mulai diperkenalkan. Generasi muda lebih tertarik pada musik populer luar negeri dibandingkan mempelajari dan melestarikan musik tradisional sendiri.
Genre Musik Tradisional Sumatera Barat Musik tradisional Padang memiliki beberapa genre unik dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satu genre musik tradisional Padang yang paling terkenal adalah Saluang jo sangang. Genre ini menggunakan alat musik saluang, khususnya seruling bambu, yang dimainkan dengan menggabungkan suara merdu saluang, seruling bambu, dengan irama sangang, alat musik perkusi yang terbuat dari kulit sapi. Saluang Jo Sangang menggambarkan keindahan alam dan keseharian masyarakat Minangkabau. Tarian-tarian tradisional dari Sumatera Barat juga diiringi dengan keindahan saluang (seruling bambu). Salah satu alasan mengapa genre Saluang Jo Sangang layak untuk ditelusuri dan dilestarikan adalah persentuhan budayanya. Ini merupakan bagian penting dari budaya Minangkabau, yang memiliki warisan dan sejarah yang kaya. Dengan memahami dan mengapresiasi genre-genre tersebut, kita dapat lebih memahami tradisi, nilai-nilai, dan gaya hidup mereka. Dengan itu, genre Saluang Jo Sangang juga menampilkan kesenian dan keterampilan para pemainnya. Musisi yang memainkan alat musik ini telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menguasai keterampilan dan menyempurnakan tekniknya. Kemampuan mereka dalam menciptakan melodi yang indah hanya dengan menggunakan seruling bambu dan kendang kulit sapi sungguh luar biasa.
Apalagi Genre Saluang Jo Sangang memberikan hiburan dan kenikmatan baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan. Ritmenya yang hidup dan nada-nadanya yang catchy menular, sehingga mustahil untuk tidak menyentuh kaki Anda atau bergoyang mengikuti alunan musik. Genre ini juga semakin populer di luar batas Sumatera Barat karena telah dipertunjukkan di berbagai festival budaya di seluruh Indonesia.
Selain genre Saluang jo sangang, ada juga genre Talempong yang diiringi dengan alat musik talempong. Alat musik talempong terbuat dari campuran timah putih, besi putih, dan campuran tembaga lalu dimainkan dengan cara dipukul dengan kayu kecil (stik). Bunyi talempong mampu meramaikan suasana kemeriahan saat menyambut pengunjung. Genre ini biasanya dimainkan dalam acara-acara adat seperti pernikahan atau upacara adat lainnya. Salah satu alasan utama mengapa Genre Talempong harus dibudayakan dan dilestarikan adalah kemampuannya untuk menghubungkan orang-orang dengan iramanya. Melalui irama ketukan dan melodi yang merdu, bercerita tentang sejarah, tradisi, dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau. Ini berfungsi sebagai pengingat perjuangan dan kemenangan nenek moyang mereka, menumbuhkan rasa bangga dan identitas di kalangan generasi muda.
Apalagi Genre Talempong telah mendapat pengakuan internasional atas nilai seninya. Melodinya yang rumit dan ritmenya yang kompleks telah memikat penonton di seluruh dunia. Dengan melestarikan genre ini, kita dapat menampilkan kekayaan keragaman budaya Indonesia kepada komunitas global.
Ada juga genre Rabab Pasisia, yaitu genre musik tradisional Padang yang menggunakan alat musik rabab. Genre Rabab Pasisia adalah salah satu genre musik tradisional yang berasal dari daerah Pasaman, Rabab Pasisia biasanya dimainkan dalam pertunjukan seni seperti randai atau tarian tradisional Minangkabau. Genre Rabab Pasisia memiliki keunikan dan keindahan tersendiri yang membuatnya layak untuk dijelaskan, Alunan melodi yang dihasilkan oleh rabab mampu menghipnotis pendengarnya dan membawa mereka ke dalam suasana yang mendalam. Musik ini juga memiliki ritme yang kuat dan energik, sehingga mampu membangkitkan semangat dan emosi pada pendengarnya.
Rabab Pasisia mencerminkan identitas budaya dari daerah Pasaman. Dengan melestarikan genre ini, kita dapat menjaga keberagaman budaya Indonesia serta menghormati warisan nenek moyang kita.
Dengan adanya berbagai genre musik tradisional Padang ini, kita dapat melihat betapa kaya dan beragamnya budaya masyarakat Minangkabau. Musik tradisional Padang bukan hanya sekedar hiburan semata, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas dan kebudayaan masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melestarikan dan mengapresiasi genre-genre musik tradisional Padang ini agar tidak punah dan tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang berharga.
Oleh: Zsa Zsa Tsabita Mizhari Mahasiswi Sastra Jepang Universitas Andalas Padang 2023/2024
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda