JurnalPost - Museum Karaeng Pattingaloang adalah sebuah museum khusus yang berada di dalam kompleks Benteng Somba Opu. Museum ini dibangun sejak tahun 1989 dan selesai pada tahun 1995 dan menyimpan banyak peninggalan-peninggalan kerajaan Gowa.
Demi mengenal lebih dalam mengenai Museum ini saya akhirnya pergi Ke Museum Pattingaloang yang berada cukup cekat dari pusat kota Makassar 11 November 2021. Di Luar Museum saya melihat papan berukuran cukup besar yang bertuliskan Museum Karaeng Pattingaloang. Bisa terlihat juga kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan membawahi Museum ini.

Di bagian depan Museum juga terlihat sebuah meriam berwarna hitam hasil rekonstruksi peninggalan sejarah kejaraan Gowa. Kemudian saya melangkah maju menuju depan pintu Museum,saya harus melepas alas kaki sebelum masuk. Terlihat juga beberapa petugas Museum yang sudah bekerja di area depan. Museum ini berbentuk Rumah Panggung berbahan kayu dengan model rumah controuler Belanda di Bone. Pendesainnya adalah Ananta Yudono dari Universitas Hasanuddin. Tampak depan seperti layaknya sebuah rumah kayu biasa namun semua berubah ketika saya melangkah masuk kedalam museum.

Ketika saya masuk ke dalam barulah terlihat banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah dari kerajaan Gowa yang ada di museum ini. Mulai dari pragmen gerabah, peluru, tombak bermata satu, mata uang asing, keramik asing, lukisan raja-raja gowa dan masih banyak lagi. Terdapat juga lukisan Benteng Somba Opu pada langit-langit Museum.

Terlihat juga tulisan-tulisan yang menjelaskan sejarah Benteng Somba Opu dan perang yang terjadi antara Kerajaan Gowa dan VOC dari Belanda. Dalam salah-satu tulisan di jelaskan kalau seorang belanda mendeskripsikan bahwa Benteng Somba Opu hanyalah sebuah benteng dengan struktur rapuh dan tidak kokoh. Namun ketika Perang Makassar, VOC mencoba untuk menaklukkan kerajaan Gowa dan benteng ini dengan menembakkan 30.000 peluru namun benteng somba opu tidak goyah.

Saya kemudian melihat beberapa hal yang cukup mengganjal saya ketika berada di dalam museum. Pada lantai pertama terlihat kalau ada papan keterangan yang salah tempat. Kemudian ada dari benda bersejarah dalam museum termasuk tempat penyimpannnya yang berdebu. Ditambah lagi ada beberapa lemari tempat benda bersejarah di pajang tetapi tidak ada isinya.

Lanjut ke lantai dua saya menemukan kalau beberapa lampu penerangan tidak berfungsi dengan baik pula. Tetapi sisi baiknya, di lantai dua terlihat ada alat pemadam api ringan.

Saya kemudian mengobrol dengan Bapak Marzuki selaku Staf Taman Budaya Benteng Somba Opu untuk lebih mengenal Museum dan Benteng ini, dan mempertanyakan masalah-masalah yang tadi saya temui. Saya kemudian bertanya soal mengapa Museum ini dinamakan Museum Karaeng Pattingaloang. Beliau kemudian mengatakan
“ Karena dulu di kerajaan gowa itu ada salah satu tokoh yang terkenal ya, namanya Karaeng Pattingaloang. Beliau itu adalah salah-satu cendekiawan atau orang terpintar di Kerajaan Gowa. Untuk mengingat beliau makanya museum ini kita beri nama Museum Karaeng Pattingaloang” jawab Bapak Marzuki.
Beliau juga menambahkan kalau salah-satu alasan terbentuknya Kerajaan Gowa adalah berkat kontribusi dari Karaeng Pattingaloang. Bahkan jika ada undangan dari negara lain, Karaeng Pattingaloang lah yang akan mewakili atau mendampingi Raja Gowa.

Saya kemudian bertanya soal darimana saja peninggalan-peninggalan sejarah di dalam Museum ini berasal. Bapak Marzuki kemudian mengatakan “ Koleksi yang ditampilkan disini adalah hasil dari ekskavasi atau penggalian dinding Benteng Somba Opu”
Menurut beliau peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di museum ini berasal dari Benteng Somba Opu itu sendiri. Walaupun begitu saya juga melihat ada peninggalan sejarah hasil dari Hibah. Saya akhirnya mempertanyakan soal beberapa masalah yang yang saya temui terkait museum ini, pertama saya bertanya soal papan keterangan yang salah tempat.
Kemudian Bapak Marzuki mengatakan kalau memang salah tempat alias terbalik, dimana tulisan tombak bermata satu tetapi peninggalan yang terlihat adalah peluru, begitupun sebaliknya. Tulisan keterangan peluru ada di bagian tombak bermata satu. Menurut dia ini adalah kesalahan orang yang membersihkan bagian Museum. Tetapi saat saya liat saksama ada beberapa bagian peninggalan dan juga lemari tempat memajang yang kelihatan berdebu. Langit-langit museum juga demikian.
Museum Karaeng Pattingaloang menyimpan banyak sekali cerita dan peninggalan sejarah yang sangat bernilai. Sayang apabila masih ada beberapa bagian yang kurang terurus dengan baik.
Penulis : Andi Alfath S.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda