Penulis: Nindyo Satrio Mahamboro (Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang)
JurnalPost.com - Di era transformasi digital saat ini telah memunculkan berbagai hal baru di kalangan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi yang kompleks telah menciptakan budaya digital yang terus berkembang. Konten kreator pun telah menjadi lapangan kerja baru yang saat ini banyak dilirik oleh anak muda di era milenial.
Saat ini konten kreator dianggap menjadi profesi yang dapat menjanjikan penghasilan tinggi. Pasalnya, sumber penghasilan konten kreator dapat diraih melalui beragam cara. Konten kreator dapat menghasilkan keuntungan dari hasil endorsement, adsense, bahkan menjadi bintang tamu pada suatu acara besar. Hal tersebut mendukung anak muda untuk turut serta terjun ke dunia konten kreator. Tidak hanya itu, pengaruh globalisasi pun turut serta berperan dalam membuka pemikiran dan kreativitas anak muda, sehingga anak muda sekarang memiliki jiwa kreativitas yang lebih variatif. Di samping itu, perkembangan teknologi digital mendorong anak-anak muda untuk mengembangkan skill ke dalam dunia digital kreatif seperti editing video, desain grafis, dan animasi. Banyaknya perangkat lunak yang saat ini lebih mudah dipahami pun turut serta mendukung anak muda dalam menuangkan ide dalam pengembangan konten kreatif.
Melansir dari id.prosple.com, konten kreator merupakan seseorang yang membuat karya yang memuat informasi untuk disebarkan melalui media digital. Dilansir dari halaman gokampus.com (04/07/2022), konten kreator sudah bukan menjadi profesi yang aneh ditengah majunya teknologi. Profesi ini dapat menciptakan berbagai informasi yang tersedia di media cetak maupun elektronik, karena konten yang mereka ciptakan bersifat informatif, edukatif, dan menghibur.
Jika melihat fenomena yang berkembang saat ini, Mengutip dari pijarnews.com (05/11/2021), anak muda sekarang lebih menyukai konten yang sama sekali tidak berfaedah. Padahal jika anak muda menekuni untuk berkreasi dalam menuangkan ide positif ke dalam konten, hal ini dapat memungkinkan anak tersebut untuk mendapatkan penghasilan. Melansir dari news.uad.ac.id (10/11/22), La Junta direktur Mindplace Studio mengatakan bahwa seseorang bisa mendapatkan uang dan keuntungan dari membuat konten. Namun, Direktur Mindplace Studio tersebut menyebutkan bahwa tidak mudah untuk bertahan di dunia kreatif sebab konten kreator harus melahirkan kreativitas secara berkala.
Dilansir dari katadata.co.id (28/04/2022) potensi pertumbuhan industri kreator konten itu sejalan dengan besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Pertumbuhan pasar ini tercermin dari banyaknya artis yang memasarkan karya mereka di media sosial. Selain itu di dalam industri kreatif telah melahirkan banyak pengguna baru, hal tersebut mendorong mereka untuk berlomba menjadi yang terbaik dan disukai oleh banyak orang.
Banyaknya konten kreator yang berambisi tinggi untuk mengejar trending dan ketenaran, menyebabkan persaingan antar konten kreator semakin ketat. Semakin trending konten yang dibuat, maka akan memudahkan kreator tersebut untuk mendapat nama dan peluang penghasilan yang lebih besar. Agar dapat menjadi konten kreator yang banyak dikenal di kalangan masyarakat, tentu harus memikirkan konsep dari suatu konten yang dibangun. Melansir dari mediaindonesia.com (26/08/2022), pembuatan konten tidak boleh asal-asalan, namun perlu dikemas dengan menarik dan informasi yang disampaikan harus bisa dipertanggungjawabkan.
Perlu diketahui bahwa internet dan media sosial dapat menjadi boomerang untuk para konten kreator apabila dalam penggunaannya tidak memperhatikan etika digital. Mengutip dari katadata.co.id (16/09/2022), etika digital muncul karena adanya perkembangan teknologi yang dapat dipakai oleh banyak orang, sehingga etika digital digunakan untuk mengatur segala bentuk perilaku digital yang dilakukan oleh manusia.
Namun sangat disayangkan, terdapat beberapa kreator yang masih tidak memperdulikan etika dalam bermedia sosial. Dikutip dari viva.co.id (01/02/2023), terdapat konten kreator justru memilih cara mengemis online yang dilakukan dengan cara live streaming di platform TikTok dengan mengharapkan saweran dari penonton. Banyak masyarakat yang menilai bahwa hal tersebut tidak manusiawi dan melanggar etika, dikarenakan kreator tersebut mempergunakan orang lanjut usia sebagai media untuk melakukan aksi mandi lumpur. Permasalahan ini tentunya perlu diperhatikan oleh orang-orang yang terjun di dunia konten kreator, agar tidak menimbulkan kontroversi di khalayak umum.
Terdapat beberapa tips yang perlu diperhatikan ketika ingin menjadi konten kreator, yakni sebagai berikut:
1. Riset yang matang. Sebelum memproduksi konten, melakukan riset menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan. Riset dilakukan untuk menentukan jenis konten yang dibuat, target pasar, dan mengetahui jenis konten yang sedang trend.
2. Tentukan target audiens. Menentukan target audiens merupakan hal penting yang perlu dilakukan. Karena jenis konten yang dibuat harus sesuai dengan target audiens yang dicari, agar konten yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan audiens dalam mencari informasi ataupun hiburan.
3. Update dengan tren terbaru. Menjadi konten kreator tentunya harus update dengan tren terbaru. Sebagai konten kreator juga dapat ikut membahas tren yang sedang banyak diperbincangkan oleh khalayak umum. Hal itupun juga dapat berpengaruh dalam mendapatkan jumlah penonton yang lebih banyak.
4. Membuat konten yang berkualitas. Kualitas konten tentu menjadi hal utama yang diperhatikan oleh penonton. Konten yang disajikan tidak perlu bertele-tele yang dapat membuat penonton merasa bosan. Konten yang disajikan harus memiliki tata bahasa yang jelas serta video dan audio yang berkualitas baik.
5. Harus konsisten Konsistensi harus diterapkan ketika menjadi konten kreator. Semakin banyak konten berkualitas yang diproduksi, tentunya penonton akan selalu menantikan konten-konten lain di waktu kedepan.
Bagi orang-orang yang mempunyai keinginan untuk menjadi konten kreator diharapkan dapat memperhatikan hal-hal apa saja yang perlu disiapkan seperti etika dalam bermedia sosial yang tidak menyinggung, tidak mengandung sara, pronografi, dan hal sensitif lainnya. Diharapkan konten yang dirancang dapat memuat informasi yang edukatif sehingga penikmat tidak hanya melihat konten sebagai bahan hiburan saja, namun dapat diambil manfaat dari konten tersebut.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda