JurnalPost.com - Selain tokoh ikonik Pramesti yang dihidupkan dari boneka tanah liat oleh Langginis dalam sequel sebelumnya Mantra Manusia dan dalam kisahnya kali ini diulas kembali pada sequel pementasan teater Matahari Malam yang diadaptasi dari novel Jemari Jingga karya Arief Akbar Bsa, terdapat pula tokoh ikonik antagonis Kirana dan Rangkasina.
Pementasan teater Matahari Malam yang digelar pada 25 Oktober 2025 lalu di Auditorium Sekda Pemkab Bogor begitu mewah dan megah dengan penataan artistik dan tata cahaya yang dikemas secara profesional oleh team kreatif dari penyelenggara Ruang Kreasi Nusantara pimpinan Raharjo, SE.
Tampilan dimulai dari sajian opening act berupa tata koreo tari-tarian Wonderfull Indonesia menampilkan tarian Nusantara yang dimulai dari Indonensia Bagian Barat, Indonesia Bagian Tengah, dan diakhiri dengan tarian dari Indonesia Bagian Timur diikuti dengan pembacaan teks Proklamasi dan Sumpah Pemuda. Giat acara berlanjut dengan sesi pementasan teater Bingung Tunggal Ika karya Angger Samudera yang mengadopsi gaya realis simbolik mendapatkan standing applause dari para penonton termasuk tamu-tamu undangan yang dihadiri oleh Kementerian Dalam Negeri, perwakilan Bupati Bogor, Dinas Pendidikan, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Bogor yang turut hadir berbaur dengan masyarakat memenuhi tribun dari 450 kursi yang tersedia terlihat penuh oleh pengunjung.
Merangsek pada acara pamungkas pentas virtual teatrikal Matahari Malam mengadopsi gaya realis elementer berkisah tentang Pramesti dan Kirana. Dalam kisah ini selain penokohan Pramesti yang menjadi sorotan para penonton, tokoh Kirana dan Rangkasina pun tak lepas dari sorotan para penonton dikarenakan sosok ini merupakan intisari dari benang merahnya cerita Matahari Malam. Kirana yang diperankan oleh Noor Amelia Paramita sedangkan Rangkasina diperankan oleh Keenan Rizqi Pribadi dimana keduanya adalah siswa siswi dari SMA Plus PGRI Cibinong Bogor terbilang sukses dalam membawakan perannya di atas panggung.
Bermula dari kedamaian di negeri Dialingga, tiba-tiba Rangkasina sang penjaga gerbang kematian membuka portal gerbang kematian sehingga menyebabkan banyak bencana alam, wabah penyakit, dan sindrom halusinasi melanda seluruh bumi. Atas dasar bujuk rayu Hastarupa dan Bogawirya disamping telah terpesona oleh kecantikan Kirana dan bersedia untuk menjadi istrinya yang ke-313, maka portal tersebut dibuka sehingga dari sinilah cerita tersebut dikembangkan secara ekspiisit dan implisit oleh penulis dan dituangkan dalam dramaturgi panggung.
Penokohan Kirana dan Rangkasina yang begitu ikonik dan sakral telah berhasil dibawakan oleh aktor-aktor muda berbakat dari kalangan pelajar yang memang sebelumnya telah melakukan casting dan dibekali pelatihan keras oleh penyelenggara Ruang Kreasi Nusantara dengan mendatangkan dua sutradara teater ternama untuk memoles dan mengemasnya.
Para pelajar yang terlibat dalam pementasan Matahari Malam selain dari SMA Plus PGRI Cibinong terdapat pula SMAN 4 Cibinong dan SMAN 1 Citereup kabupaten Bogor yang terbagi dari dua pertunjukan yaitu Bingung Tunggal Ika dan Matahari Malam dengan menyerap keterlibatan pelajar kabupaten Bogor lebih dari 100 pelajar.
"Pokoknya seru banget ini adalah pengalaman yang bakal saya ingat, Terimakasih kepada team management dan teman-teman di lokasi syuting/latihan mereka semua sangat baik, dan sudah membuat proses ini terasa ringan dan beharga, semoga kita bisa bekerja sama lagi kedepannya," pungkas Keenan pemeran Rangkasina.
"Menurut saya penampilan Matahari Malam kemarin keren banget walaupun saya sempat gugup karena itu penampilan pertama saya, tapi ternyata seru banget dan crewnya ramah dan asik semua hingga pementasannya berjalan dengan lancar karena kerjasama dari tim manajemen dan para aktor, dan semoga kedepannya bisa bekerja sama lebih baik lagi," papar Mita pemeran Kirana mengakhiri sesi wawancara bersama kami.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda