Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Dari Yogyakarta ke Arunachal Pradesh: Teater Tubuh Indonesia Menggetarkan Festival Teater India

Dari Yogyakarta ke Arunachal Pradesh: Teater Tubuh Indonesia Menggetarkan Festival Teater India

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
11 Maret 2026, 22.20 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
9 menit baca
Teater Tubuh Indonesia
Kedatangan IBCreativeart dan TIm Dubai di Donyi Polo Airport, Itanagar(sumber: ibcreativeart)
Oleh : Ramanda Noviandri JurnalPost.com - Sebuah karya seni kadang lahir dari ruang yang sederhana. Dari studio latihan yang tidak terlalu besar, dari diskusi panjang di antara para seniman, atau dari sebuah tugas akademik yang pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai syarat kelulusan. Namun pada momen tertentu, karya tersebut menemukan jalannya sendiri dan melampaui batas yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hal itulah yang terjadi pada pertunjukan teater “Tarasmara” yang diproduksi oleh IB Creative Art dari Yogyakarta. Karya ini mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam Arunachal Rang Mahotsav, sebuah festival teater internasional yang berlangsung di Arunachal Pradesh, wilayah timur laut India yang dikenal kaya akan keberagaman budaya. Festival ini berlangsung dari 23 November hingga 8 Desember, mempertemukan berbagai kelompok teater dari beragam wilayah India serta beberapa negara lain. Dalam konteks tersebut, IB Creative Art hadir sebagai perwakilan dari Indonesia, membawa sebuah karya teater tubuh yang berbeda dari kebanyakan pertunjukan yang tampil di festival tersebut. Berdasarkan percakapan dengan Director festival Riken Ngomle, bahwa IB Creative Art menjadi kelompok Indonesia pertama yang tampil dalam festival tersebut, bahkan mungkin menjadi seniman Indonesia pertama yang tampil dalam konteks festival teater di Arunachal Pradesh. Kehadiran ini bukan sekadar perjalanan artistik. Ia juga menjadi sebuah peristiwa budaya: sebuah karya yang lahir dari lingkungan akademik di Yogyakarta akhirnya berdialog dengan publik internasional.

Arunachal Pradesh: India yang Berbeda

Ketika mendengar kata “India”, banyak orang memiliki gambaran visual tertentu: kulit gelap, hidung yang tegas, budaya yang lekat dengan Bollywood, atau kota-kota besar seperti Mumbai dan Delhi. Gambaran ini tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya lengkap. Perjalanan menuju Arunachal Pradesh membuka perspektif yang berbeda. Wilayah ini berada di ujung timur laut India, berbatasan dengan Tibet, Bhutan, dan Myanmar. Secara etnis, masyarakat Arunachal memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan wilayah India pada umumnya. Banyak komunitas di daerah ini memiliki ciri ras Mongoloid, dengan bentuk wajah, struktur mata, dan warna kulit yang lebih mirip dengan masyarakat Asia Timur atau Asia Tenggara. Bagi anggota tim IB Creative Art, pengalaman pertama melihat masyarakat Arunachal menghadirkan rasa keakraban yang tidak terduga. Secara visual, beberapa orang bahkan tampak lebih dekat dengan masyarakat Indonesia dibandingkan dengan stereotip wajah India yang sering muncul dalam media populer. Kemiripan ini ternyata juga dirasakan oleh masyarakat setempat. Beberapa warga dan panitia festival menyampaikan bahwa mereka merasa penasaran dengan kedatangan kelompok dari Indonesia. Dalam percakapan informal sebelum pertunjukan, mereka menyebutkan bahwa ada rasa kedekatan kultural antara masyarakat Asia Tenggara dan wilayah timur laut India. Kedatangan tim IB Creative Art pun disambut dengan antusias. Banyak orang yang menunggu untuk melihat bagaimana bentuk teater dari Indonesia akan tampil di panggung festival mereka. Antusiasme ini menciptakan atmosfer yang menarik: seolah-olah dua wilayah budaya yang secara geografis jauh, tiba-tiba menemukan kesamaan dalam ruang teater. Festival Arunachal Rang Mahotsav: Ruang Pertemuan Budaya Bagi banyak seniman teater Indonesia, nama Arunachal Pradesh mungkin belum terlalu familiar. Wilayah ini terletak di timur laut India, berbatasan dengan Tibet, Bhutan, dan Myanmar. Kawasan ini memiliki lebih dari dua puluh kelompok etnis dengan bahasa dan tradisi yang berbeda-beda. Kondisi geografis yang relatif jauh dari pusat metropolitan India menjadikan wilayah ini memiliki karakter budaya yang sangat khas. Festival Arunachal Rang Mahotsav diselenggarakan sebagai ruang pertemuan budaya. Tidak hanya menampilkan pertunjukan teater, festival ini juga menghadirkan diskusi, pertukaran ide antar seniman, serta eksplorasi praktik seni yang berakar pada tradisi lokal. Di dalam festival seperti ini, pertunjukan teater tidak hanya dinilai dari aspek estetika panggung semata. Ia juga menjadi medium diplomasi budaya. Setiap kelompok yang hadir membawa cara pandang terhadap tubuh, ruang, cerita, dan identitas. Dalam konteks ini, kehadiran IB Creative Art menghadirkan warna yang berbeda. Jika banyak pertunjukan dalam festival tersebut berakar pada tradisi teatrikal India yang kaya dengan dialog dan musik, maka Tarasmara hadir dengan pendekatan yang lebih fisikal dan minimal teks. Kontras inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan tersebut.

Tarasmara: Teater Tubuh dan Akroteks

Pertunjukan Tarasmara disutradarai oleh Ikhsan Bastian, seorang sutradara yang juga merupakan alumni pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Selain menjadi sutradara Ikhsan juga turut serta menjadi aktor Bersama rekan IBCreativeart. Rekan IBCreative yang mewakili Indonesia di “Tarasmara” ini adalah Amanda, Ramanda, Adam, dan Wisnu, merupakan seniman aktif yang berbasis di Yogyakarta dan Surabaya. Dalam karya ini, sutradara mengembangkan pendekatan teater tubuh melalui metode yang ia sebut sebagai akroteks. Dalam konsep akroteks, teks tidak hanya hadir dalam bentuk kata yang diucapkan oleh aktor. Ia juga hadir dalam bentuk gerak, ritme tubuh, komposisi ruang, serta interaksi fisik antar pemain. Dengan kata lain, tubuh menjadi teks itu sendiri. Pendekatan ini membuat pertunjukan memiliki kualitas visual yang sangat kuat. Penonton tidak hanya “mendengar” cerita, tetapi juga “melihat” cerita melalui bentuk tubuh para aktor. Secara naratif, Tarasmara mengangkat kisah tentang cinta, politik, dan identitas budaya melalui kisah Dewi Tara dari Sriwijaya dan Samaragrawira dari Mataram. Apa yang bermula sebagai perkawinan politik antar dua kerajaan, perlahan berubah menjadi kisah kasih sayang sejati yang menantang batas kekuasaan dan tradisi. Namun, kisah ini tidak disampaikan melalui dialog panjang. Sebaliknya, ia diwujudkan melalui rangkaian adegan fisikal: pertemuan, penolakan, konflik, hingga momen-momen emosional yang diekspresikan melalui tubuh para aktor. Pendekatan ini membuat cerita Tarasmara terasa universal. Penonton dari latar budaya apa pun dapat merasakan dinamika emosional yang terjadi di atas panggung.

Respons Penonton Arunachal Pradesh

Penampilan IB Creative Art pada 29 November mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat Arunachal Pradesh. Setelah pertunjukan selesai, banyak penonton yang datang untuk berdiskusi, bertanya mengenai proses penciptaan karya, serta berbagi pandangan tentang pengalaman menonton pertunjukan tersebut. Beberapa penonton bahkan menyampaikan bahwa mereka jarang melihat bentuk teater yang begitu fisikal. Dalam tradisi teater India, terutama di wilayah timur laut, narasi sering kali disampaikan melalui dialog, musik, dan tarian yang terstruktur. Sementara Tarasmara menawarkan pendekatan yang lebih abstrak. Namun justru di situlah daya tariknya. Penonton tidak selalu harus memahami setiap detail cerita. Yang mereka rasakan adalah energi tubuh, ketegangan ruang, serta emosi yang muncul dari interaksi para aktor di atas panggung. Menariknya, beberapa penonton mengunghkapkan bahwa pengalaman menonton Tarasmara terasa seperti membaca puisi visual. Mereka tidak selalu mencari alur cerita yang linear, tetapi menikmati bagaimana tubuh para aktor membangun atmosfer emosional yang terus berubah di atas panggung. Dalam diskusi informal setelah pertunjukan, beberapa seniman lokal bahkan menyebut bahwa pendekatan teater tubuh seperti ini membuka kemungkinan baru bagi praktik teater mereka sendiri, sebuah cara bercerita yang tidak selalu bergantung pada kata-kata, tetapi pada intensitas gerak, ritme napas, dan hubungan fisik antar pemain. Bagi sebagian penonton di Arunachal, pertemuan dengan estetika seperti ini menjadi pengalaman artistik yang menyegarkan, seolah mengingatkan bahwa teater tidak selalu harus menjelaskan segalanya, melainkan juga bisa menghadirkan ruang tafsir yang bebas bagi imajinasi penonton.

Perkembangan Teater Indonesia dan di Arunachal Pradesh India

Dalam perspektif kritik seni, menarik untuk melihat bagaimana Tarasmara hadir di tengah perkembangan praktik teater di Arunachal Pradesh, India. Dalam pengamatan selama mengikuti Arunachal Rang Mahotsav, sebagian besar pertunjukan yang tampil masih memperlihatkan kecenderungan dramaturgi yang relatif konvensional. Narasi dibangun melalui dialog yang dominan, alur cerita yang linear, serta struktur dramatik yang jelas dari awal hingga akhir. Model ini mengingatkan pada tradisi teater dramatik yang menempatkan teks sebagai pusat pertunjukan sebuah pendekatan yang dalam kajian teater sering dikaitkan dengan konsep drama Aristotelian, di mana plot, konflik, dan perkembangan karakter menjadi elemen utama dalam membangun pengalaman penonton. Dalam banyak pertunjukan yang disaksikan selama festival berlangsung, teks menjadi pusat dari keseluruhan pengalaman teater. Aktor menyampaikan emosi dan konflik melalui percakapan panjang, sementara tubuh berfungsi lebih sebagai pendukung ekspresi psikologis daripada sebagai bahasa utama. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi realisme panggung yang berkembang kuat sejak abad ke-19, di mana akting diarahkan untuk merepresentasikan kehidupan sehari-hari secara meyakinkan. Dalam konteks tersebut, aktor lebih berperan sebagai penyampai cerita melalui dialog dan interaksi dramatik yang jelas, sementara komposisi fisikal panggung sering kali mengikuti kebutuhan narasi yang linear. Ketika Tarasmara dari IB Creative Art hadir dengan pendekatan teater tubuh, pengalaman menonton menjadi berbeda. Pertunjukan yang disutradarai oleh Ikhsan Bastian ini tidak bergantung pada dialog yang panjang ataupun alur naratif yang dijelaskan secara verbal. Sebaliknya, tubuh para aktor menjadi medium utama untuk membangun dramaturgi. Pendekatan ini memiliki kedekatan dengan gagasan physical theatre yang berkembang dalam praktik teater kontemporer, di mana tubuh dipahami sebagai sumber utama penciptaan makna. Gerakan, ritme napas, keseimbangan tubuh, serta interaksi fisik antar pemain membangun komposisi visual yang menghadirkan pengalaman teatrikal yang lebih kinestetik bagi penonton. Pendekatan ini juga dapat dibaca melalui konsep theatre of the body yang pernah digagas oleh Antonin Artaud, yang menekankan bahwa teater tidak harus selalu bergantung pada kata-kata, melainkan dapat bekerja melalui energi tubuh, intensitas ruang, dan pengalaman sensorik yang langsung dirasakan oleh penonton. Dalam Tarasmara, tubuh para aktor tidak sekadar menyampaikan cerita, tetapi menciptakan atmosfer emosional melalui pergerakan yang terus berubah. Penonton tidak diposisikan hanya sebagai pendengar dialog, melainkan sebagai pengamat yang merasakan dinamika energi panggung melalui gerak, ritme, dan komposisi ruang. Pendekatan seperti ini kemudian menghadirkan kemungkinan tafsir yang lebih terbuka. Tanpa dominasi teks, penonton tidak diarahkan untuk memahami cerita secara tunggal, melainkan diajak untuk merasakan pengalaman estetika yang lebih intuitif. Ketegangan, kerinduan, konflik, hingga relasi antar karakter muncul melalui interaksi tubuh yang intens. Dalam konteks festival yang sebagian besar pertunjukannya masih berakar pada dramaturgi teks dan alur linear, kehadiran Tarasmara memberikan perspektif lain tentang kemungkinan bahasa teater. Ia menunjukkan bahwa tubuh aktor dapat menjadi pusat penciptaan makna, sekaligus membuka ruang dialog tentang bagaimana teater kontemporer dapat berkembang melampaui batas teks menuju pengalaman panggung yang lebih fisikal, visual, dan sensorik.

Penghargaan Terhadap Indonesia

Partisipasi IB Creative Art dalam festival ini tidak hanya berakhir pada pertunjukan. Kelompok ini juga mendapatkan penghargaan langsung dari direktur festival, Riken Ngomle, yang juga Asisten Profesor Akting di National School of Drama (NSD) di Delhi, India, serta praktisi teater terkemuka dari Arunachal Pradesh. Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol formal. Ia menjadi bentuk pengakuan bahwa karya yang lahir dari ruang akademik di Indonesia mampu berdialog dengan praktik seni internasional.

Jejak Indonesia di Arunachal

Perjalanan IB Creative Art menuju Arunachal Pradesh mungkin terlihat kecil dalam peta besar seni dunia. Namun bagi para seniman yang terlibat, pengalaman ini memiliki makna yang mendalam. Ia menunjukkan bahwa karya yang lahir dari eksplorasi artistik di Indonesia mampu berdialog dengan publik internasional. Lebih dari itu, pengalaman ini juga menunjukkan bahwa seni pertunjukan memiliki kemampuan untuk membangun jembatan budaya, bahkan di tempat yang sebelumnya terasa sangat jauh. Dari Yogyakarta menuju Arunachal Pradesh, Tarasmara meninggalkan satu jejak penting: bahwa teater tubuh Indonesia memiliki suara yang dapat didengar di panggung dunia.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/dari-yogyakarta-ke-arunachal-pradesh-teater-tubuh-indonesia-menggetarkan-festival-teater-india/91428/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.36 WITA

  • #Arunachal Pradesh
  • #Festival Teater
  • #Pentas Teater

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  4. 4

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  5. 5

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.