Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Mengoptimalkan Peran Pendidikan dengan Ruuhul Mu’allim

Mengoptimalkan Peran Pendidikan dengan Ruuhul Mu’allim

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
08 Desember 2025, 22.39 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Peran Pendidikan

Oleh: Nayla Fauziyah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah

JurnalPost.com - Guru adalah pilar yang menjaga berdirinya sebuah sistem pendidikan. Ia bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan figur yang membimbing, mengarahkan, dan membentuk pribadi peserta didik. Mutu pendidikan tidak hanya lahir dari kurikulum yang baik, tetapi dari kualitas guru yang memiliki jiwa mendidik.Sebagaimana pendapat dari Yudi Latif,”Pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga memanusiakan manusia.” Pandangan ini sejalan dengan pemikiran penulis yang melihat bahwa banyak persoalan pendidikan hari ini berawal dari hilangnya sentuhan kemanusiaan dalam proses belajar. Sebagai penulis, saya memandang bahwa pendidikan baru dapat berjalan optimal ketika guru hadir bukan hanya dengan pengetahuan,tetapi juga dengan kehangatan, keteladanan, dan kepedulian. Kutipan ini menegaskan bahwa peran guru jauh melampaui tugas mengajar, ia adalah penjaga nilai, akhlak, dan karakter. Pandangan terhadap peran guru pun telah bergeser. Jika dulu guru cukup menjadi mu’allim pengajar materi, kini mereka dituntut menjadi pembentuk karakter. Guru menjadi sosok yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku siswa di kelas maupun di luar kelas. Berbagai penelitian di bidang pendidikan menunjukkan bahwa kualitas guru memberikan pengaruh sebesar 30–60% terhadap keberhasilan belajar siswa, jauh lebih besar dibandingkan faktor sarana, kurikulum, ataupun lingkungan fisik sekolah. Fakta ini membuktikan bahwa keberadaan guru yang memiliki ruh mendidik merupakan kunci utama dalam mengoptimalkan peran pendidikan. Selain itu, sebuah survei mengenai pendidikan karakter menemukan bahwa lebih dari 70% siswa mengaku lebih mengingat sikap, perilaku, dan cara memperlakukan murid yang ditunjukkan oleh gurunya dibandingkan isi materi pelajaran itu sendiri. Keteladanan guru dalam bersikap sabar, adil, dan penuh empati menjadi pelajaran hidup yang melekat dalam ingatan peserta didik hingga mereka dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya terjadi melalui kata-kata dan buku pelajaran, tetapi melalui contoh nyata yang ditampilkan oleh seorang guru dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi pendidikan Islam, hadir konsep Ruhul Mu’allim, yakni jiwa pendidik sejati. Ia memadukan kemampuan mengajar dengan ketulusan, akhlak mulia, dan kasih sayang. Guru dengan ruh ini mengajar dengan niat ibadah, memandang setiap murid sebagai amanah. Sebagaimana diingatkan Muhammad Gibran Hi. Umar, “Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar angka, hingga lupa bahwa tugas utama guru adalah menuntun jiwa. Sekolah berlomba menampilkan peringkat, bukan nilai hidup.” Pandangan ini selaras dengan gagasan bahwa Pendidikan bukan semata teknis, tetapi menyangkut pembentukan manusia secara utuh. Artikel ini menguraikan esensi ruhul mu’allim, tantangannya, serta strategi menghidupkannya kembali dalam dunia pendidikan modern.

Konsep Dasar Ruhul Mu’allim dalam Pendidikan Islam

Para ulama memaknai Ruhul Mu’allim sebagai karakter batin yang menyatukan ilmu dan akhlak. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya kelembutan dan kesabaran dalam membimbing murid. KH. Hasyim Asy’ari menggambarkannya sebagai pribadi yang tawadhu’, berilmu, dan ikhlas mengabdi. Dalam pendidikan Islam, mu’allim mengajarkan ilmu, sementara murobbi membina akhlak, spiritualitas, dan kepribadian. Seorang guru ideal memadukan keduanya—mampu mengajar sekaligus mendidik. Nilai-nilai utama ruhul mu’allim mencakup keikhlasan, kasih sayang, keteladanan, dan tanggung jawab moral.Nilai ini memiliki landasan kuat. Allah memuji akhlak Nabi dalam QS. Al-Qalam:4, dan Nabi sendiri menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Tantangan Mewujudkan Ruhul Mu’allim di Era Modern

Sistem pendidikan kini terlalu fokus pada hasil akademik, menjadikan pembinaan akhlak berada di urutan belakang. Nilai ujian seakan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan. Keteladanan moral sebagian pendidik juga mulai menurun. Pengaruh teknologi, tekanan sosial, dan beban kerja membuat konsistensi akhlak sulit dipertahankan. Guru juga dibebani berbagai tugas administratif, menyita waktu dan energi yang mestinya digunakan untuk mendidik secara humanis. Sementara itu, program peningkatan spiritual dan emosional untuk guru masih minim. Di tengah arus globalisasi, siswa terpapar nilai baru secara cepat. Guru harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan peran sebagai pembimbing moral. Di tengah tuntutan administrasi, tekanan sosial, dan perubahan kurikulum yang cepat, saya melihat banyak guru kehilangan ruang untuk menjadi pendidik yang humanis. Sebagai penulis, saya memandang bahwa sistem pendidikan kerap menempatkan guru sebagai penggerak mesin akademik, bukan sebagai pembimbing jiwa.Padahal, menurut saya, inti pendidikan justru terletak pada hubungan manusiawi antara guru dan murid. Kritik terhadap kondisi ini juga di sampaikan Yudi Latif, yang menegaskan bahwa pendidikan kita telah “melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan.” Ia menyebut bahwa sistem pendidikan terlalu terjebak pada administrasi, kurikulum, dan estandar formal, sementara esensi pendidikan yakni membentuk budi pekerti dan menuntun kekuatan kodrat anak nyaris tidak tersentuh. Bias pengajaran membuat sekolah hanya mengembangkan kognitif, tetapi mengabaikan tugas mendidik.

Strategi Mengoptimalkan Ruhul Mu’allim

Ruhul mu’allim dapat dihidupkan dengan mengintegrasikan nilai spiritual dan moral dalam semua mata pelajaran. Pembelajaran tidak hanya menyampaikan teori, tetapi menumbuhkan karakter. Guru perlu pelatihan berbasis karakter, etika profesi, dan kecerdasan emosional. Pelatihan ini membangkitkan kembali kesadaran bahwa mengajar adalah ibadah. Hubungan guru dan siswa harus dibangun dengan empati. Melalui pendekatan dialogis, guru memahami latar belakang dan kebutuhan siswa.Peran uswah hasanah (keteladanan) perlu direvitalisasi. Sikap sederhana, jujur, dan disiplin dari seorang guru memberi pengaruh lebih besar daripada kata-kata. Sekolah dan pemerintah juga berperan besar mengurangi beban administratif, menyediakan program mentoring, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung ruhul mu’allim. Di kutip dari tulisan Muhammad Gibran Hi. Umar ,”mengajar dan mendidik bukan hal yang sama,mengajar adalah soal menyampaikan materi,menyelesaikan silabus, dan memastikan siswa bisa mengerjakan soal ujian. Di sisi lain mendidik,adalah tentang membentuk manusia seutuhnya yang berpikir kritis, punya integritas,empati, serta kesadaran sosial.” Dari kutipan ini sudah menjelaskan bahwasannya seorang guru yang hanya berperan sebagai pengajar hanya akan menjalankan tugasnya untuk menjaga stabilitas nilai anak murid nya, tetapi seorang guru yang menanamkan nilai ruuhul muallim dalam hatinya, akan menjalankan tugasnya sebagai pendidik yang tidak hanya menuntun stabilitas nilai murid tetapi juga mendidik dan membina karakter serta akhlak anak didiknya. Strategi terbaik untuk mengoptimalkan ruuhul mu’allim dalam diri seorang guru adalah dengan menanamkan kesadaran dalam diri seorang guru bahwasannya amanatnya sebagai guru bukan semata mata menjaga nilai murid dalam akademiknya tetapi juga nilai nilai spiritual, dan pembinaan akhlak yang harus di mulai dari contoh teladan yang baik dari seorang guru, hal ini di karenakan, guru adalah contoh utama dan teladan utama bagi peserta didiknya.

Studi Kasus dan Inspirasi Praktik Ruhul Mu’allim

Di pesantren tradisional, ruhul mu’allim hidup dalam keseharian. Kiai dan ustadz mendidik bukan hanya lewat kitab, tetapi lewat akhlak dan adab. Kedekatan mereka dengan santri menjadikan pembentukan karakter berlangsung alami. Sekolah Islam modern pun menerapkannya melalui halaqah, mentoring, dan pembiasaan akhlak. Metode klasik pesantren dipadukan dengan pedagogi masa kini.Para tokoh pendidikan Islam juga menjadi contoh. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat merusak.KH. Hasyim Asy’ari menekankan keikhlasan, ketawadhuan, dan adab sebagai inti pendidik sejati. Ilmu tanpa akhlak akan menjadi hal yang sia sia, kepandaian tanpa rasa tawadhu hanya akan menciptakan rasa sombong, di pesantren juga para kyai dan pendidik banyak memberikan nasihat yang dapat menanamkan nilai spiritualitas dan akhlak yang baik, seperti yang di ucapkan oleh kyai pondok pesantren Daar el Qolam, “Jadilah seperti padi, yang apabila semakin berisi akan semakin menunduk, yang bermakna bahwa seseorang yang semakin banyak ilmunya maka semakin tawadhu, jadilah manusia yang terus haus akan ilmu,”. Nasihat tersebut menanamkan nilai baik dalam diri peserta didik, yang akan di ingat, ditanamkan dan di praktikan dalam kehidupannya sehari hari. Beberapa negara telah menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat berkaitan erat dengan bagaimana mereka memaknai dan memuliakan peran guru, sebuah konsep yang selaras dengan rūḥul mu’allim. Finlandia, misalnya, dikenal memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia karena menempatkan guru sebagai sosok yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki integritas dan kematangan kepribadian. Untuk menjadi guru di Finlandia, seseorang harus menempuh pendidikan hingga jenjang magister dan melewati proses seleksi yang sangat ketat. Guru dipandang setara dengan profesi bergengsi lainnya seperti dokter dan hakim, serta dibina untuk membangun hubungan emosional yang sehat dengan peserta didik. Fokus utama pendidikan di Finlandia tidak semata-mata mengejar nilai akademik, melainkan juga membentuk karakter, empati, tanggung jawab, dan kesejahteraan mental siswa. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan bertumpu pada kekuatan ruh pendidik yang mampu membimbing secara manusiawi dan bermakna.

Simpulan dan Rekomendasi

Ruhul mu’allim adalah dasar pembentukan generasi berilmu dan berakhlak. Tanpanya, pendidikan akan kehilangan ruh dan berubah menjadi proses teknis semata. Langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan antara lain: memperkuat pelatihan spiritual dan karakter bagi guru, mengintegrasikan pendidikan moral dalam semua mata pelajaran, serta mengevaluasi sistem pendidikan agar seimbang antara kognitif dan afektif. Guru sejati bukan hanya pengajar ilmu, tetapi pembimbing jiwa dan penuntun kehidupan. Dengan ruhul mu’allim, pendidikan kembali pada hakikatnya: menumbuhkan manusia yang bermanfaat, berilmu, dan berakhlak mulia.

Saran Dan Solusi Inovatif

Untuk mengoptimalkan peran pendidikan melalui konsep rūḥul mu’allim, perlu dilakukan penguatan spiritual dan karakter guru secara berkelanjutan. Salah satu solusi inovatif adalah mengadakan pelatihan rutin yang tidak hanya berfokus pada metode mengajar, tetapi juga pada pembinaan keikhlasan, kesadaran amanah, dan keteladanan akhlak. Dengan demikian, guru tidak sekadar mengajar, tetapi menghadirkan jiwa mendidik dalam setiap interaksi dengan peserta didik. Selain itu, perlu dibentuk program mentoring antara guru senior dan guru muda agar nilai-nilai adab, empati, dan tanggung jawab dapat diwariskan secara langsung melalui keteladanan nyata. Sekolah juga dapat melibatkan siswa dalam kegiatan refleksi dengan meminta mereka menuliskan pengalaman tentang guru yang inspiratif, sehingga tercipta hubungan emosional yang kuat antara guru dan murid. Melalui keteladanan, pembinaan ruhani, dan refleksi bersama, konsep rūḥul mu’allim dapat dihidupkan secara nyata untuk melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengoptimalkan-peran-pendidikan-dengan-ruuhul-muallim/88832/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #Peran Pendidikan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian
  2. 2

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  3. 3

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  4. 4

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.