Oleh: Nayla Fauziyah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Mengoptimalkan Peran Pendidikan dengan Ruuhul Mu’allim
JurnalPost.com - Guru adalah pilar yang menjaga berdirinya sebuah sistem pendidikan. Ia bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan figur yang membimbing, mengarahkan, dan membentuk pribadi peserta didik. Mutu pendidikan tidak hanya lahir dari kurikulum yang baik, tetapi dari kualitas guru yang memiliki jiwa mendidik.Sebagaimana pendapat dari Yudi Latif,”Pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga memanusiakan manusia.” Pandangan ini sejalan dengan pemikiran penulis yang melihat bahwa banyak persoalan pendidikan hari ini berawal dari hilangnya sentuhan kemanusiaan dalam proses belajar. Sebagai penulis, saya memandang bahwa pendidikan baru dapat berjalan optimal ketika guru hadir bukan hanya dengan pengetahuan,tetapi juga dengan kehangatan, keteladanan, dan kepedulian. Kutipan ini menegaskan bahwa peran guru jauh melampaui tugas mengajar, ia adalah penjaga nilai, akhlak, dan karakter. Pandangan terhadap peran guru pun telah bergeser. Jika dulu guru cukup menjadi mu’allim pengajar materi, kini mereka dituntut menjadi pembentuk karakter. Guru menjadi sosok yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku siswa di kelas maupun di luar kelas.
Berbagai penelitian di bidang pendidikan menunjukkan bahwa kualitas guru memberikan pengaruh sebesar 30–60% terhadap keberhasilan belajar siswa, jauh lebih besar dibandingkan faktor sarana, kurikulum, ataupun lingkungan fisik sekolah. Fakta ini membuktikan bahwa keberadaan guru yang memiliki ruh mendidik merupakan kunci utama dalam mengoptimalkan peran pendidikan.
Selain itu, sebuah survei mengenai pendidikan karakter menemukan bahwa lebih dari 70% siswa mengaku lebih mengingat sikap, perilaku, dan cara memperlakukan murid yang ditunjukkan oleh gurunya dibandingkan isi materi pelajaran itu sendiri. Keteladanan guru dalam bersikap sabar, adil, dan penuh empati menjadi pelajaran hidup yang melekat dalam ingatan peserta didik hingga mereka dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya terjadi melalui kata-kata dan buku pelajaran, tetapi melalui contoh nyata yang ditampilkan oleh seorang guru dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi pendidikan Islam, hadir konsep Ruhul Mu’allim, yakni jiwa pendidik sejati. Ia memadukan kemampuan mengajar dengan ketulusan, akhlak mulia, dan kasih sayang. Guru dengan ruh ini mengajar dengan niat ibadah, memandang setiap murid sebagai amanah.
Sebagaimana diingatkan Muhammad Gibran Hi. Umar, “Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar angka, hingga lupa bahwa tugas utama guru adalah menuntun jiwa. Sekolah berlomba menampilkan peringkat, bukan nilai hidup.” Pandangan ini selaras dengan gagasan bahwa Pendidikan bukan semata teknis, tetapi menyangkut pembentukan manusia secara utuh.
Artikel ini menguraikan esensi ruhul mu’allim, tantangannya, serta strategi menghidupkannya kembali dalam dunia pendidikan modern.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda