Oleh: Dominika Hanna Amsikan Fakultas Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
JurnalPost.com - Pubertas adalah fase pertumbuhan dari proses kedewasaan individu yang dilalui secara alami yang memicu reaksi yang berbeda-beda pada remaja. Kecemasan adalah salah satu reaksi yang muncul saat menghadapi pubertas. Kecemasan merupakan emosi yang mencakup kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan terhadap potensi situasi yang mungkin terjadi. Berdasarkan penjelasan dari American Psychological Association (APA), kecemasan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.Kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang semakin menjadi perhatian, terutama di kalangan remaja. Hasil mengejutkan dari survei I-NAMHS menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja, atau sekitar 34,9% yang setara dengan 15,5 juta remaja di Indonesia, menghadapi setidaknya satu masalah kesehatan mental.
Masalah ini mencakup kondisi seperti depresi, kecemasan, stres pasca-trauma, serta gangguan perilaku dan perhatian, termasuk hiperaktivitas. Kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling umum dialami oleh remaja Indonesia, dengan prevalensi yang lebih tinggi di kalangan perempuan (28,2%) dibandingkan laki-laki (25,4%). Dampak yang mungkin terjadi akibat kecemasan termasuk rasa takut, kekhawatiran, dan kegelisahan yang tidak berdasar sehingga menyebabkan perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan, kesulitan dalam berkonsentrasi saat beraktivitas, sulit makan, cepat tersinggung, rendahnya kemampuan pengendalian emosi, sensitif, tidak rasional, dan mengalami kesulitan tidur (Agusmanto, 2020).Kecemasan dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu:
a. Aspek psikologis, seperti ketegangan, kebingungan, kekhawatiran, kesulitan untuk berkonsentrasi, dan lain-lain. b. Aspek fisiologis, yaitu kecemasan yang telah berpengaruh pada fisik, terutama pada fungsi sistem saraf, seperti kesulitan tidur, jantung berdebar, keringat berlebihan, sering bergetar, dan mual.
Kecemasan dapat diatasi dengan self talk atau komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung dalam diri individu. Proses ini melibatkan pemikiran, refleksi, serta dialog internal yang bisa membantu individu memahami dirinya dan situasi yang sedang dihadapinya Proses komunikasi intrapersonal dapat dibagi menjadi empat tahap: sensasi, persepsi, memori, dan pemikiran (Rahmiana, 2019). Komunikasi dengan diri sendiri dimulai dari sensasi yang dialami individu, yang kemudian menghasilkan persepsi atau komentar tentang sensasi tersebut. Persepsi tersebut akan disimpan dalam memori sebagai acuan dalam berpikir pada tahap selanjutnya.
Menurut Roberts, komunikasi intrapersonal mencakup semua proses dekonstruksi, pengolahan, penyimpanan, dan pengkodean pesan-pesan fisiologis dan psikologis yang terjadi dalam diri individu, baik pada tingkat sadar maupun tidak sadar. Proses ini berlangsung saat individu berinteraksi dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.Tujuan dari komunikasi intrapersonal adalah untuk merumuskan, memelihara, dan mengembangkan isu-isu sosial, psikologis, dan fisik yang ada dalam diri individu.Komunikasi intrapersonal yang dilakukan individu sangat penting karena melalui proses ini, individu secara sadar melakukan penilaian dan pengembangan diri.
Dengan kata lain, komunikasi intrapersonal memberikan kesempatan bagi individu untuk menilai diri mereka, termasuk dalam hal sikap, kepercayaan diri, dan perasaan.Berbicara dengan diri sendiri berpengaruh pada pengalaman emosional individu, termasuk emosi positif dan negatif. Saat terlibat dalam komunikasi intrapersonal, individu secara tidak langsung dapat menggambarkan dan merepresentasikan jenis emosi yang mereka alami. Prinsip utama emosi individu meliputi perasaan senang, sedih, marah, takut, terkejut, dan cemas. Realitanya, emosi dapat dirasakan oleh setiap orang, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.
Strategi Komunikasi Intrapersonal yang efektif untuk Mengatasi Kecemasan.
a. Jurnal Harian Menulis jurnal bisa menjadi cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Ini membantu dalam merefleksikan perasaan dan mengidentifikasi pola kecemasan.
b. Dialog Positif Mengganti pikiran negatif dengan afirmasi positif dapat membantu mengubah persepsi terhadap situasi yang memicu kecemasan.
c. Meditasi dan Mindfulness. Praktik ini dapat meningkatkan kesadaran diri dan membantu orang untuk tetap fokus pada saat ini, mengurangi kecemasan yang berlebihan. Dalam perspektif psikologi, teori yang berhubungan dengan mengatasi kecemasan melalui komunikasi intrapersonal adalah Teori Pendekatan Kognitif-Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) menyoroti pentingnya peran pikiran dalam mempengaruhi perasaan dan perilaku kita. Ketika kita terjebak dalam pikiran negatif, seperti "Saya akan gagal," hal ini dapat menimbulkan kecemasan dan mendorong kita untuk menghindari situasi yang menantang.
Namun, melalui dialog internal atau komunikasi intrapersonal, kita memiliki kemampuan untuk menggantikan pikiran negatif dengan yang lebih positif dan realistis. Misalnya, alih-alih membiarkan pikiran negatif menguasai diri, kita bisa berujar pada diri sendiri, "Saya sudah mempersiapkan diri dengan baik. "Proses ini dimulai dengan mengidentifikasi pikiran negatif yang muncul, mengevaluasi kebenarannya, dan kemudian menggantinya dengan pandangan yang lebih konstruktif. Dengan latihan yang konsisten, kita dapat memperkuat pola pikir positif ini, yang pada akhirnya akan mengubah perasaan dan perilaku kita.
Dengan menerapkan pendekatan ini, kita bisa mengurangi kecemasan, meningkatkan rasa percaya diri, dan lebih bersikap proaktif saat menghadapi tantangan.Selain teori kognitif-perilaku, terdapat Teori self-talk, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Albert Bandura dan Aaron T. Beck, menjelaskan bagaimana cara individu berkomunikasi dengan diri mereka sendiri dapat mempengaruhi emosi, motivasi, dan perilaku. Self-talk terbagi menjadi dua jenis, yaitu self-talk positif yang melibatkan pernyataan membangun seperti "Saya mampu mengatasi tantangan ini," dan self-talk negatif yang berupa kritik diri seperti "Saya tidak akan pernah bisa melakukan ini.
" Dampak dari self-talk sangat signifikan; self-talk positif dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan, sementara self-talk negatif dapat memperburuk perasaan cemas dan depresi. Untuk meningkatkan self-talk positif, kita dapat menggunakan teknik seperti afirmasi, menulis jurnal tentang pencapaian, praktik mindfulness untuk meningkatkan kesadaran akan pikiran, dan visualisasi untuk membayangkan keberhasilan. Dengan memahami dan mengelola self-talk kita, kita dapat meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi kecemasan, dan mencapai tujuan yang diinginkan. William James dan Carl Lange, yang mengembangkan teori yang mengklaim emosi dihasilkan dari reaksi fisiologis terhadap rangsangan. Emosi memainkan peran penting dalam memengaruhi perilaku dan keputusan kita.
Dengan terlibat dalam dialog diri, kita dapat memahami dan mengelola emosi, yang membantu meringankan kecemasan. Pemicu proses ini dapat berupa pengalaman pribadi, lingkungan, atau interaksi sosial yang memicu respons emosional.Kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang umum dihadapi oleh remaja, dengan prevalensi yang lebih tinggi di kalangan perempuan. Dampak dari kecemasan dapat memengaruhi aspek psikologis dan fisiologis individu, yang berpotensi mengganggu kehidupan sehari-hari.
Untuk mengatasi kecemasan, komunikasi intrapersonal menjadi alat yang efektif, yang melibatkan proses refleksi dan dialog internal. Melalui strategi seperti menulis jurnal, dialog positif, serta praktik meditasi dan mindfulness, individu dapat meningkatkan kesadaran diri, menggantikan pikiran negatif dengan yang positif, dan mengelola emosi. Secara keseluruhan, komunikasi intrapersonal tidak hanya membantu individu dalam memahami dan mengatasi kecemasan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan diri dan peningkatan kesejahteraan mental. Dengan menerapkan strategi seperti menulis jurnal, dialog positif, serta praktik meditasi dan mindfulness, individu dapat mengelola kecemasan dengan lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup.
Referensi American Psychological Association. (n.d.). Anxiety. Retrieved from APA Aprilia, A. A. T., Wibawa, A., & Suharti, B. (2024). Komunikasi Intrapersonal (Self-Talk) Armadina, J. (2024). Upaya Mahasiswa Mengatasi Kecemasan dalam Mengerjakan Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. New York: Penguin Books. Brokenhome. Jurnal Communio: Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi, 13(1), 29-43. Dalam Meningkatkan Kesadaran Dampak Buruk Self-Harm Pada Remaja Gross, J. J. (1998). The Emerging Science of Emotion Regulation: An Integrative Review. Meichenbaum, D. (1977). Cognitive Behavior Modification: An Integrative Approach. New York: Plenum Press. Purnamaningsih, E. H. (2003). Kepercayaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa. Jurnal Psikologi, 30(2), 67-71. Review of General Psychology, 2(3), 271-299. Skripsi (Studi Komunikasi Intrapersonal di Lingkungan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Jakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Kristen Indonesia).
Komentar 1
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda