Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Mengatasi Kecanduan Gawai Anak Usia Dini Melalui Metode Detoks Digital Bertahap

Mengatasi Kecanduan Gawai Anak Usia Dini Melalui Metode Detoks Digital Bertahap

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
12 Oktober 2026, 20.55 WITA Editor: Danang Purnama
14 menit baca
Dokumentasi Kegiatan

Hanina1, Tuti Herawati2, Rahma Yunita Ansi3, Muhamer Sukri Sitorus4, Zulfiqri Panjaitan5, Khazinatul Aulia6

1Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Asahan

2Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Asahan

3Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Asahan

4Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Asahan

5Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Asahan

6Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Asahan

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected], 4[email protected], 5[email protected], 6[email protected]

Abstrak

Penggunaan gawai secara berlebihan pada anak usia dini dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap perkembangan anak, seperti menurunnya interaksi sosial, berkurangnya aktivitas fisik, gangguan konsentrasi, serta ketergantungan terhadap perangkat digital. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi ketergantungan gawai pada anak usia dini melalui penerapan metode detoks digital bertahap. Metode yang digunakan berupa pendekatan deskriptif kualitatif melalui edukasi, pendampingan, pengurangan durasi penggunaan gawai secara bertahap, serta pengalihan perhatian anak melalui kegiatan bermain, belajar, dan aktivitas kreatif. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan orang tua dalam upaya membangun kebiasaan penggunaan gawai yang lebih sehat dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Hasil observasi menunjukkan adanya respons positif anak terhadap aktivitas non-digital dan keterlibatan dalam kegiatan bermain serta belajar secara langsung. Pendekatan bertahap memberikan kesempatan kepada anak untuk beradaptasi dengan pembatasan penggunaan gawai tanpa harus menghentikannya secara tiba-tiba. Meskipun belum dilakukan pengukuran kuantitatif terhadap perubahan durasi penggunaan gawai, hasil kegiatan menunjukkan bahwa detoks digital bertahap berpotensi menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengelola penggunaan gawai pada anak usia dini. Keberhasilan penerapannya memerlukan pendampingan, konsistensi, serta keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar.

Kata kunci: Anak usia dini, kecanduan gawai, detoks digital, penggunaan gawai, pendampingan orang tua.

Abstract

Excessive gadget use among young children can negatively affect several aspects of their development, including reduced social interaction, decreased physical activity, impaired concentration, and dependence on digital devices. This community service activity aims to address gadget dependence among young children through the implementation of a gradual digital detox method. The study employed a descriptive qualitative approach involving education, parental assistance, gradual reductions in gadget use, and the introduction of alternative activities such as playing, learning, and creative engagement. Parents were also involved in promoting healthier digital habits appropriate to children's developmental needs. Observations indicated positive responses from children toward non-digital activities and greater engagement in direct play and learning experiences during the activity. The gradual approach allowed children to adapt to restrictions on gadget use without abruptly discontinuing access. Although no quantitative measurements were conducted to assess changes in gadget use duration, the findings suggest that gradual digital detox may serve as a potential approach to managing gadget use among young children. Its successful implementation requires consistent guidance, parental involvement, and support from the surrounding environment.

Keywords: Early childhood, gadget addiction, digital detox, gadget use, parental assistance.

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam cara berkomunikasi, mengakses informasi, belajar, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Salah satu bentuk perkembangan teknologi tersebut adalah penggunaan gawai, yaitu perangkat elektronik seperti telepon pintar, tablet, dan laptop yang menawarkan beragam fungsi untuk mempermudah aktivitas manusia.

Gawai tidak lagi dianggap sebagai barang mewah, melainkan telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia. Dalam kehidupan modern, penggunaan gawai semakin meningkat seiring dengan berkembangnya akses internet dan media sosial (Kesehatan & Umar, 2025).

Di balik berbagai manfaatnya, penggunaan gawai secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif, khususnya bagi anak usia dini. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan gawai berpotensi mengalami ketergantungan sehingga lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain permainan digital, menonton video, atau mengakses berbagai konten melalui internet dibandingkan melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Winoto, sebagaimana dikutip dalam Astuti et al. (2015), menekankan bahwa pemberian telepon seluler pribadi kepada anak perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam menggunakan perangkat tersebut secara bijaksana. Hal ini berkaitan dengan perkembangan kemampuan anak dalam memahami manfaat dan risiko penggunaan teknologi.

Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi pola interaksi sosial, konsentrasi, serta kebiasaan bermain dan belajar anak. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dan pengawasan dari orang tua agar penggunaan teknologi tetap sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Sejumlah penelitian menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak usia dini. Orang tua perlu menetapkan batasan penggunaan gawai agar anak terhindar dari berbagai dampak negatif akibat penggunaan yang berlebihan (Putriana, Pratiwi, & Wasliah, 2019; Sahriana, 2019).

Pendampingan dan bimbingan orang tua juga diperlukan, terutama bagi anak yang telah terbiasa menggunakan gawai dalam durasi yang panjang. Melalui pengawasan dan pembiasaan secara konsisten, penggunaan gawai diharapkan dapat dikurangi secara bertahap (Karwati, Kurniawan, & Anggraeni, 2020).

Metode Detoks Digital Bertahap

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah metode digital detox atau detoks digital. Metode ini dilakukan dengan mengurangi penggunaan perangkat digital secara bertahap dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Pendekatan bertahap dianggap penting karena perubahan kebiasaan pada anak membutuhkan proses adaptasi, pendampingan, dan konsistensi. Penghentian penggunaan gawai secara tiba-tiba tidak selalu mudah diterima oleh anak, terutama apabila gawai telah menjadi bagian dari rutinitas hariannya.

Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode detoks digital bertahap dalam mengurangi ketergantungan penggunaan gawai pada anak usia dini.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengamati respons dan perubahan kebiasaan anak selama mengikuti aktivitas non-digital serta memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya pengaturan penggunaan gawai secara terarah, bertahap, dan konsisten.

Metode Pelaksanaan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan edukasi dan pendampingan. Metode tersebut digunakan untuk menggambarkan proses penerapan detoks digital bertahap dalam upaya mengurangi ketergantungan penggunaan gawai pada anak usia dini.

Pelaksanaan kegiatan meliputi identifikasi kebiasaan penggunaan gawai, pemberian edukasi, penerapan pengurangan penggunaan gawai secara bertahap, pengalihan aktivitas, serta pendampingan dan evaluasi.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 4 September 2026, pukul 08.30–11.00 WIB, bertempat di Dusun II, Desa Punggulan.

Kegiatan ini melibatkan tim pelaksana yang terdiri atas dosen dan mahasiswa, serta mitra kegiatan berupa anak usia dini, guru, dan orang tua atau wali.

Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 53 orang, terdiri atas dua dosen, 19 mahasiswa, 20 anak, dua guru, dan 10 orang tua atau wali.

Prosedur Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap persiapan berupa koordinasi tim, observasi kondisi mitra, penyusunan materi edukasi, serta persiapan alat dan media yang digunakan dalam kegiatan.

Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan melalui penyampaian materi mengenai dampak penggunaan gawai secara berlebihan, pengenalan metode detoks digital bertahap, serta pemberian aktivitas alternatif yang dapat dilakukan anak tanpa menggunakan perangkat digital.

Orang tua juga diberikan edukasi dan pendampingan mengenai cara mengatur waktu penggunaan gawai anak secara bertahap.

Pada tahap akhir, dilakukan evaluasi untuk mengetahui pemahaman peserta serta respons anak dan orang tua terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

Tahapan Penerapan Detoks Digital

1. Identifikasi kebiasaan penggunaan gawai

Tahap pertama dilakukan melalui pengamatan dan komunikasi dengan orang tua untuk memperoleh gambaran mengenai kebiasaan anak dalam menggunakan gawai.

Identifikasi mencakup durasi penggunaan, jenis aktivitas digital yang dilakukan, serta respons anak ketika penggunaan gawai dibatasi.

2. Edukasi kepada anak dan orang tua

Tahap kedua berupa pemberian edukasi mengenai penggunaan gawai yang sehat serta dampak penggunaan perangkat digital secara berlebihan.

Orang tua diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengawasan, pendampingan, dan pengaturan waktu penggunaan gawai sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

3. Penerapan detoks digital bertahap

Tahap ketiga dilakukan dengan memperkenalkan pengurangan durasi penggunaan gawai secara perlahan dan terukur, bukan melalui penghentian secara langsung.

Pengurangan penggunaan gawai disesuaikan dengan kebiasaan anak dan didampingi pemberian aktivitas alternatif yang menarik.

4. Pengalihan aktivitas non-digital

Tahap keempat dilakukan dengan mengajak anak mengikuti berbagai kegiatan tanpa menggunakan gawai, seperti bermain bersama, menggambar, membaca, belajar, melakukan aktivitas kreatif, serta berinteraksi dengan teman dan keluarga.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pengalaman bermain dan belajar yang menyenangkan sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital.

5. Pendampingan dan evaluasi

Tahap terakhir berupa pendampingan dan evaluasi terhadap respons anak selama mengikuti kegiatan.

Pengamatan difokuskan pada keterlibatan anak dalam aktivitas tanpa gawai, respons terhadap pembatasan penggunaan gawai, serta kemampuan anak mengikuti kegiatan bermain dan belajar secara langsung.

Hasil pengamatan dan informasi yang diperoleh dari orang tua selanjutnya dideskripsikan untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaan dan respons peserta terhadap metode detoks digital bertahap.

Hasil

Hasil observasi selama kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan gawai pada anak usia dini perlu disertai dengan pendampingan dan pengaturan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Ketertarikan anak terhadap perangkat digital dapat membuat mereka lebih memilih aktivitas menggunakan gawai dibandingkan bermain atau berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, pengelolaan penggunaan gawai tidak cukup hanya dilakukan melalui pembatasan akses, tetapi juga perlu disertai dengan penyediaan aktivitas alternatif yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.

Penerapan detoks digital bertahap dalam kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan yang tidak mengharuskan anak menghentikan penggunaan gawai secara tiba-tiba.

Anak diberikan kesempatan untuk beradaptasi dengan pembatasan penggunaan perangkat digital melalui berbagai kegiatan pengganti.

Pendekatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa perubahan kebiasaan anak membutuhkan pendampingan dan pembiasaan secara konsisten.

Aktivitas seperti permainan edukatif, menggambar, dan kegiatan kelompok menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai. Selain memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi anak untuk berinteraksi langsung dengan teman dan lingkungan sekitarnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, anak menunjukkan respons positif terhadap berbagai aktivitas non-digital yang diberikan.

Keterlibatan anak dalam kegiatan bermain dan belajar secara langsung menunjukkan bahwa aktivitas alternatif yang menarik dapat digunakan untuk mendukung upaya pengelolaan penggunaan gawai.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pendekatan detoks digital sebaiknya tidak hanya berfokus pada pembatasan atau larangan penggunaan gawai, tetapi juga memperhatikan ketersediaan kegiatan pengganti yang sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak.

Selain keterlibatan anak, peran orang tua menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengatur waktu penggunaan gawai, memberikan pendampingan, serta mengarahkan anak kepada aktivitas lain yang dapat dilakukan bersama keluarga.

Edukasi yang diberikan kepada orang tua diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun kebiasaan penggunaan gawai secara lebih terkontrol.

Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan pengalaman edukatif kepada anak dan orang tua mengenai pengelolaan penggunaan gawai melalui pendekatan bertahap.

Meskipun tidak dilakukan pengukuran kuantitatif sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan, hasil observasi menunjukkan adanya keterlibatan anak dalam aktivitas alternatif tanpa gawai serta respons positif terhadap edukasi yang diberikan.

Dengan demikian, pendampingan yang berkelanjutan dan keterlibatan orang tua tetap diperlukan agar upaya pengelolaan penggunaan gawai dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan

Gawai merupakan perangkat teknologi yang telah digunakan secara luas oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak. Saat ini, banyak anak telah mengenal penggunaan perangkat digital untuk bermain, menonton video, dan mengakses internet.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital semakin dekat dengan kehidupan anak. Namun, kemudahan akses terhadap perangkat digital juga menimbulkan tantangan dalam pengawasan dan pengaturan penggunaannya.

Dalam data historis yang dikutip dari pemberitaan tahun 2016, disebutkan bahwa 98% anak mengetahui tentang internet dan 79,5% merupakan pengguna internet. Data tersebut menggambarkan bahwa penggunaan internet di kalangan anak telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun sebelumnya, meskipun angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi saat ini.

Penggunaan gawai sebenarnya dapat memberikan manfaat apabila dilakukan secara tepat dan berada dalam pengawasan orang tua. Anak dapat memanfaatkan perangkat digital untuk menonton tayangan edukatif, mengenal informasi baru, serta mengikuti kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan usianya.

Sebaliknya, penggunaan gawai tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko anak mengakses konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi aktivitas digital anak (Dini & Sosial, n.d.).

Detoks Digital sebagai Strategi Pengelolaan Penggunaan Gawai

Detoks digital atau digital detox merupakan upaya mengurangi atau membatasi penggunaan perangkat digital dalam periode tertentu untuk membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan non-digital.

Dalam konteks anak usia dini, detoks digital tidak selalu berarti menghentikan penggunaan gawai sepenuhnya, melainkan mengatur frekuensi dan durasi penggunaan secara bertahap.

Pendekatan ini bertujuan untuk membiasakan anak agar tidak selalu bergantung pada perangkat digital sebagai sarana utama untuk bermain atau memperoleh hiburan.

Melalui penerapan detoks digital, anak diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk melakukan aktivitas fisik, mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemampuan sosial, serta membangun interaksi yang lebih baik dengan lingkungan keluarga.

Pemberian aktivitas pengganti menjadi bagian penting karena anak membutuhkan kegiatan yang menarik selama proses pengurangan penggunaan gawai.

Apabila pembatasan hanya dilakukan dengan melarang penggunaan perangkat digital tanpa menyediakan kegiatan alternatif, anak dapat mengalami kesulitan menyesuaikan kebiasaannya.

Oleh karena itu, penerapan detoks digital sebaiknya dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, bertahap, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.

Peran Orang Tua dalam Mengatasi Ketergantungan Gawai

Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membina, mengasuh, dan mendidik anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Tanggung jawab tersebut mencakup pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, pembentukan kepribadian, pemberian motivasi dan bimbingan, serta penyediaan lingkungan keluarga yang aman dan mendukung perkembangan anak (Sahriana, 2019).

Dalam penggunaan teknologi digital, keterlibatan orang tua menjadi salah satu faktor penting untuk membantu anak membangun kebiasaan yang lebih sehat.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai adalah sebagai berikut.

1. Memberikan batasan waktu penggunaan gawai

Orang tua perlu menetapkan aturan mengenai waktu penggunaan gawai agar anak terbiasa menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih teratur.

Pembatasan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebiasaan dan kebutuhan anak.

Melalui penerapan aturan secara konsisten, anak diharapkan dapat memahami bahwa penggunaan gawai memiliki batasan dan perlu diseimbangkan dengan aktivitas lain (Viandari & Susilawati, 2019).

2. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak

Setiap anak memiliki potensi dan minat yang dapat dikembangkan sejak usia dini.

Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti berbagai aktivitas kreatif, seperti bermain musik, menggambar, melukis, membuat kerajinan tangan, dan menari.

Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai sekaligus membantu mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya (Hidayati, Sary, & Hanifah, 2019).

3. Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak

Interaksi antara orang tua dan anak merupakan bagian penting dalam membangun hubungan emosional yang positif.

Orang tua perlu meluangkan waktu untuk bermain, berbicara, dan melakukan kegiatan bersama anak.

Aktivitas tersebut dapat mempererat hubungan keluarga sekaligus memberikan pengalaman sosial yang tidak diperoleh melalui penggunaan perangkat digital.

Mengajak anak bermain bersama saudara atau anggota keluarga lainnya juga dapat membantu meningkatkan kemampuan bersosialisasi (Alifiani, Nurhayati, & Ningsih, 2019).

4. Melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari

Orang tua dapat mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan rumah tangga sederhana yang sesuai dengan usia dan kemampuannya.

Contohnya adalah membantu menyiapkan bahan makanan, merapikan mainan, atau membersihkan lingkungan rumah.

Kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif penggunaan gawai sekaligus membantu anak mengembangkan kemandirian dan rasa tanggung jawab (Noorhayati & Dewi, 2019).

5. Mengajak anak melakukan kegiatan rekreasi

Rekreasi merupakan salah satu aktivitas yang dapat memberikan pengalaman baru dan menyenangkan bagi anak.

Orang tua dapat mengajak anak mengunjungi taman, pantai, kawasan pegunungan, kebun binatang, atau tempat rekreasi lain yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Selain menjadi sarana hiburan, kegiatan rekreasi juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal lingkungan, melakukan aktivitas fisik, dan memperoleh pengalaman belajar secara langsung (Dharma, Sijono, & Susanti, 2019).

Melalui berbagai upaya tersebut, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih seimbang.

Keberhasilan penerapan detoks digital tidak hanya bergantung pada pembatasan waktu penggunaan gawai, tetapi juga pada kemampuan orang tua menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas bermain, belajar, dan berinteraksi secara langsung.

Pentingnya Konsistensi dalam Penerapan Detoks Digital

Penerapan metode detoks digital bertahap memerlukan konsistensi dari orang tua dan lingkungan sekitar.

Perubahan kebiasaan tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kegiatan edukasi, tetapi membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.

Orang tua perlu memberikan contoh dalam menggunakan perangkat digital secara bijaksana dan menetapkan aturan yang dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan keluarga.

Selain itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak diperlukan agar pembatasan penggunaan gawai dapat dipahami sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan yang lebih sehat, bukan semata-mata sebagai larangan.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pengenalan aktivitas non-digital mendapat respons positif dari anak. Namun, untuk mengetahui efektivitas detoks digital dalam mengurangi durasi penggunaan gawai secara berkelanjutan, diperlukan pengamatan lanjutan dan pengukuran yang lebih sistematis.

Dengan demikian, pendekatan detoks digital bertahap dapat menjadi salah satu alternatif strategi pendampingan keluarga dalam mengelola penggunaan teknologi pada anak usia dini.

Gambar 1. Dokumentasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai penerapan metode detoks digital bertahap pada anak usia dini di Desa Punggulan.

Simpulan

Penerapan metode detoks digital bertahap dapat menjadi salah satu pendekatan dalam upaya mengurangi ketergantungan penggunaan gawai pada anak usia dini.

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan pengabdian kepada masyarakat, anak menunjukkan respons positif terhadap aktivitas non-digital, seperti bermain, belajar, menggambar, dan mengikuti kegiatan kreatif bersama.

Penerapan metode ini menekankan pentingnya pengurangan penggunaan gawai secara bertahap dengan menyediakan berbagai aktivitas alternatif yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Keterlibatan orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan, menetapkan batasan penggunaan gawai, serta membangun kebiasaan digital yang lebih sehat di lingkungan keluarga.

Meskipun kegiatan ini belum dilengkapi pengukuran kuantitatif untuk mengetahui perubahan durasi penggunaan gawai, hasil observasi memberikan gambaran bahwa pendekatan detoks digital bertahap dapat diterima secara positif oleh peserta kegiatan.

Oleh karena itu, diperlukan pendampingan yang konsisten, dukungan lingkungan keluarga, serta evaluasi berkelanjutan agar pengelolaan penggunaan gawai pada anak usia dini dapat dilakukan secara lebih efektif.

Daftar Pustaka

Dini, A. U., & Sosial, P. (n.d.). Waspadai dampak penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial anak usia dini. 6(1), 58–66.

Hani, S. U., Jaojah, S., Zaenab, S., & Aeni, Y. H. (2025). Penguatan pemahaman ibu tentang pola asuh digital sehat dalam penggunaan gadget pada anak usia dini. 4(2), 1288–1295.

Hidayatuladkia, S. T., Kanzunnudin, M., & Ardianti, S. D. (2021). Peran orang tua dalam mengontrol penggunaan gadget pada anak usia 11 tahun. 5(3), 363–372.

Kesehatan, F. I., & Umar, U. T. (2025). Literature review: Dampak gadget terhadap kesehatan fisik dan mental anak. 3, 107–125.

Suryati, N. (2020). Optimalisasi peran orang tua dalam meminimalisir penggunaan gawai bagi anak. 1(1), 41–51. https://doi.org/10.21093/tj.v1i1.2455

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengatasi-kecanduan-gawai-anak-usia-dini-melalui-metode-detoks-digital-bertahap/98130/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.24 WITA

  • #Anak Usia Dini
  • #Perkembangan Anak
  • #aktivitas anak
  • #detoks digital
  • #edukasi digital
  • #kecanduan gawai
  • #pendampingan orang tua
  • #penggunaan gawai

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.