Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Mengapa Pemilu di Negara Berkembang Relatif Efektif?

Mengapa Pemilu di Negara Berkembang Relatif Efektif?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
31 Desember 2023, 18.43 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Pemilu di Negara Berkembang

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin, MA Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com - Secara umum, negara maju memiliki infrastruktur politik yang telah maju dibandingkan negara berkembang. Tetapi, beberapa negara berkembang seperti Indonesia telah berhasil mengelola pemilu sejak tahun 1999 hingga hari ini.

IKLAN

Tentu, negara-negara berkembang masih terus melangkah dalam mengimplementasikan demokrasi, yang seringkali diwarnai oleh dilema antara liberalisasi dan represi otoritarianisme (Almeida, 2010). Represi rezim otoritarianisme berdampak pada penurunan hak politik dasar dan pembatasan mobilisasi politik di negara berkembang.

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Tetapi, dalam tiga dekade terakhir, kita menyaksikan peningkatan signifikan dalam mobilisasi politik di banyak negara berkembang. Hal ini terutama tercermin dalam dorongan untuk pemilihan umum yang kompetitif dan peningkatan pluralisme isu politik, seperti feminisme, lingkungan, kesetaraan gender, hak LGBT, dan hak-hak masyarakat lokal (Almeida, 2010). Proses ini secara bertahap mengubah lanskap politik, mengurangi dominasi sistem berbasis klientelisme-patronase.

Tingkat ketidakpastian ekonomi di negara-negara berkembang secara langsung memengaruhi tren mobilisasi politik. Di tengah ketidakpastian ekonomi, pemilih cenderung lebih aktif berpartisipasi dalam pemilihan untuk menentang partai incumbent (Redding, Barwis & Summers, 2010).

IKLAN

Penting untuk dicatat bahwa kebutuhan akan demokrasi dan sistem pemilihan yang inklusif sangat penting di negara-negara berkembang. Pemilihan umum di negara-negara dengan ketidaksetaraan ekonomi yang tinggi dapat menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan tersebut dan menciptakan lingkungan politik yang lebih egaliter (Sen, 1999; Brady & Sosnaud, 2010).

Mobilisasi perempuan di negara berkembang masih merupakan fenomena baru yang belum mencapai potensi penuhnya (Beckfield, 2010; Moghadam, 2010; Sen, 1999; Brady & Sosnaud, 2010). Kesenjangan gender dalam partisipasi politik cenderung menyusut begitu negara-negara berkembang memasuki fase masyarakat pasca-industri (Mogdaham, 2010).

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Perbedaan antara negara maju dan berkembang tercermin dalam tingkat egalitarianisme politik. Kuota gender memengaruhi keterwakilan perempuan di jabatan terpilih. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat, yang konstitusinya tidak menyediakan dasar hukum untuk kuota semacam itu.

Sebaliknya, di negara berkembang seperti Indonesia, sistem representasi proporsional memengaruhi keterwakilan perempuan (Blais & Massicotte, 1996; Paxton & Hughes, 2007; Mulroy, 2018). Dengan kata lain, sistem representasi proporsional (PR) dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai di negara-negara berkembang. PR cenderung mendorong kebijakan ekonomi yang lebih merata dan hasil sosial yang lebih egaliter serda sadar gender.

Alhasil, negara berkembang relatif lebih efektif dalam mengelola pemilihan umum yang demokratis, egaliter, sadar gender dan berbasis kebutuhan masyarakat. Dengan mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi, dan politik, implementasi sistem pemilihan umum yang adaptif dapat membawa dampak positif bagi perkembangan demokrasi di negara berkembang.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengapa-pemilu-di-negara-berkembang-relatif-efektif/63566/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 02.27 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi
  2. 2

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  3. 3

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.