Oleh : Cadestri Brilliant Lestari
JurnalPost.com - Media sosial saat ini telah menjadi sarana yang efektif untuk berbagi informasi mengenai keberlanjutan dan perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Tren eco-lifestyle yang berkembang di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram telah memberikan dampak besar terhadap cara anak muda melihat isu lingkungan. Penggunaan platform ini memungkinkan anak muda untuk mengakses informasi tentang isu lingkungan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. TikTok dan Instagram memiliki peran yang penting dalam memperkenalkan anak muda pada konsep gaya hidup berkelanjutan dan memotivasi mereka untuk mengadopsi kebiasaan yang lebih ramah lingkungan (Li et al., 2024). Format video pendek dan infografis yang mudah diikuti menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan keberlanjutan, sehingga informasi tersebut lebih mudah dicerna oleh audiens yang lebih muda.
Influencer di media sosial memiliki pengaruh besar dalam mempromosikan eco-lifestyle dan gaya hidup berkelanjutan. Para influencer ini tidak hanya berfungsi sebagai pemengaruh dalam dunia fashion atau gaya hidup, tetapi juga sebagai agen perubahan yang menyebarkan informasi mengenai keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan. Influencer berperan sebagai sumber informasi yang otoritatif dan juga sebagai role model yang menginspirasi pengikut mereka untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam mengubah pola konsumsi mereka menuju pilihan yang lebih ramah lingkungan (Vilkaite-Vaitone, 2024).
Kredibilitas seorang influencer dalam mempromosikan produk-produk berkelanjutan dapat meningkatkan kepercayaan pengikut terhadap klaim keberlanjutan tersebut. Pengikut yang melihat influencer sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya lebih cenderung untuk mengikuti jejak mereka dalam memilih produk yang ramah lingkungan. Selain itu, keberadaan influencer yang secara konsisten mempromosikan gaya hidup berkelanjutan juga membantu menciptakan norma sosial baru di media sosial, di mana keberlanjutan menjadi nilai yang semakin dihargai dan dipraktikkan oleh banyak orang (Confetto et al., 2023). Proses ini memungkinkan media sosial untuk berfungsi sebagai platform untuk membangun komunitas yang memiliki nilai bersama terkait dengan keberlanjutan, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk mengadopsi gaya hidup hijau.
Konsep value co-creation yang berkembang di media sosial turut berkontribusi dalam memperkuat gerakan keberlanjutan. Konsep ini mengacu pada partisipasi aktif pengguna media sosial dalam penciptaan konten yang mendukung keberlanjutan. Anak muda yang berbagi pengalaman pribadi, mengikuti tantangan keberlanjutan, atau bahkan mengedukasi pengikut mereka tentang cara hidup yang lebih hijau, turut serta dalam menciptakan dan memperkuat pesan keberlanjutan di dunia maya. Partisipasi aktif ini mendorong pembentukan komunitas daring yang saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama dalam melindungi lingkungan, serta memperkuat rasa keterlibatan dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan sebagai isu kolektif (Suryaputra et al., 2024).
Praktik greenwashing yang sekarang ini serang marak, terjadi ketika perusahaan mengklaim produknya ramah lingkungan tanpa bukti yang jelas mengenai dampak positif terhadap lingkungan. Hal ini menjadikan greenwashing menjadi salah satu tantangan besar dalam tren eco-lifestyle di media sosial. Banyak produk di media sosial yang diberi label "eco-friendly", namun sering kali klaim tersebut tidak terbukti sesuai dengan realitas. Anak muda yang mengakses informasi melalui media sosial perlu lebih kritis dalam menilai klaim-klaim tersebut. Hal ini memerlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan keberlanjutan dan bagaimana cara untuk memverifikasi klaim tersebut. Dengan demikian, pengikut media sosial harus bisa membedakan antara klaim yang sah dan klaim yang sekadar dibuat untuk menarik perhatian audiens (Ramadhani, 2024).
Peran media sosial dalam mempromosikan keberlanjutan di kalangan anak muda jelas terlihat. Platform-platform seperti TikTok dan Instagram memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam gerakan keberlanjutan. Melalui influencer, value co-creation, dan kolaborasi dalam komunitas yang lebih peduli terhadap lingkungan, anak muda dapat mengambil bagian dalam upaya menjaga kelestarian bumi. Mereka memiliki kesempatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan tips untuk hidup lebih ramah lingkungan, yang berpotensi membawa dampak yang lebih besar. Namun, mereka juga harus bijaksana dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial dan memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang membeli produk ramah lingkungan, tetapi juga tentang mengubah pola konsumsi dan kebiasaan hidup secara menyeluruh (Li et al., 2024).
Peran TikTok dan Instagram dalam mempromosikan eco-lifestyle tidak hanya terbatas pada penyebaran informasi, tetapi juga dalam menciptakan gerakan global yang semakin besar dan lebih terorganisir. Melalui hashtag dan tantangan (challenges) yang viral, platform-platform ini mampu menyatukan individu dari berbagai belahan dunia untuk berpartisipasi dalam kampanye keberlanjutan yang lebih luas. Sebagai contoh, tantangan seperti #ZeroWasteChallenge dan #SustainableFashion yang sering muncul di TikTok berhasil menarik perhatian ratusan ribu hingga jutaan pengguna untuk menunjukkan bagaimana mereka mengurangi jejak karbon mereka dalam kehidupan sehari-hari. Instagram, dengan kemampuannya untuk menampilkan foto dan video visual yang menarik, memberikan platform bagi individu dan merek untuk menonjolkan inisiatif-inisiatif hijau mereka, baik itu penggunaan bahan ramah lingkungan, upaya mendaur ulang, atau memilih produk yang lebih etis dan berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda